Berita  

Penilaian Properti di Boston Dinilai Timpang, Kawasan Mewah Dapat Keringanan Pajak

Penilaian Properti di Boston Dinilai Timpang, Kawasan Mewah Dapat Keringanan Pajak
Penilaian Properti di Boston Dinilai Timpang, Kawasan Mewah Dapat Keringanan Pajak

Sorothari – 11 Oktober 2026 | Fenomena outlier dalam penilaian properti di Boston menjadi sorotan setelah Dewan Kota setempat menggelar dengar pendapat dengan pejabat penilai kota, Kamis (9/10/2026). Anggota dewan mempertanyakan praktik penilaian yang dinilai tidak konsisten, di mana properti mewah di kawasan elit justru dinilai lebih rendah dari harga jual, sementara rumah kelas pekerja di pinggiran kota dinilai mendekati atau bahkan melebihi harga pasar.

Anggota Dewan Miniard Culpepper, yang menjadi sponsor utama agenda dengar pendapat tersebut, berulang kali mempertanyakan perbedaan ini kepada Komisaris Penilai Sementara Hinlan Wong. Culpepper menyoroti laporan tentang rumah mewah di kawasan Back Bay dan Beacon Hill yang terjual dengan harga jauh di atas nilai penilaian kota.

Baca juga:
Fenomena Hujan Meteor Delta Aurigid dan Orionid Hiasi Langit Oktober 2026

“Mengapa, ketika Anda datang ke Back Bay dan Beacon Hill, penilaian untuk properti senilai jutaan dolar begitu rendah, sementara saat Anda masuk ke Roxbury dan Dorchester, penilaian hampir tepat sama dengan harga jual?” tanya Culpepper dalam sidang. Ia menambahkan, “Bagaimana Anda bisa sampai pada perbedaan seperti itu?”

Data properti menunjukkan, sebuah rumah seluas 11.500 kaki persegi di 59 Commonwealth Ave., Back Bay, terjual seharga US$21 juta pada 24 November tahun lalu, tetapi dinilai kota hanya sebesar US$12,5 juta. Rekor penjualan itu kemudian dipecahkan oleh rumah di 46 Chestnut St., Beacon Hill, yang terjual seharga US$22 juta pada 17 Februari 2026, sementara penilaian kotanya hanya US$5,26 juta. Rumah yang sama sebelumnya terjual US$8,9 juta pada September 2023 dengan penilaian sekitar US$3,8 juta.

Sebaliknya, sebuah rumah keluarga tunggal di Roslindale terjual sekitar US$430.000, tetapi dinilai lebih tinggi oleh kota, yaitu US$489.000, atau sekitar 114 persen dari harga jualnya. Nilai penilaian ini menentukan besaran pajak properti yang harus dibayar pemilik rumah, sehingga semakin tinggi nilai penilaian, semakin besar pajak yang dikenakan.

Anggota Dewan Ed Flynn menambahkan bahwa rata-rata pemilik rumah keluarga tunggal tahun ini mengalami kenaikan pajak sebesar 13 persen, yang menurutnya membebani “penduduk berpenghasilan rendah yang memiliki properti di Boston” secara tidak proporsional. Sidang ini menyoroti adanya outlier dalam sistem penilaian yang perlu segera dibenahi.

Baca juga:
BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Pemerintah Belum Umumkan Jadwal Resmi

Dalam perkembangan lain yang juga menyoroti istilah outlier, Mercedes-Benz mengungkap temuan awal dari eksperimen uniknya di Grand Prix Singapura pekan lalu. Tim asal Jerman itu menjalankan dua mobil dengan spesifikasi berbeda secara bersamaan untuk membandingkan paket aerodinamis lama dan baru. Kimi Antonelli, pemimpin klasemen, menggunakan mobil dengan spesifikasi terbaru, sementara George Russell menggunakan spesifikasi lama.

Russell menjadi yang tercepat di sesi latihan tunggal dengan mobil lama, sementara Antonelli finis ketujuh dengan selisih 1,3 detik. Namun, perbandingan waktu putaran murni sulit dilakukan karena keduanya menggunakan ban berbeda (Russell ban lunak, Antonelli ban medium) dan Antonelli sempat keluar lintasan.

Kepala Tim Toto Wolff mengakui bahwa trek di Singapura merupakan outlier tersendiri karena karakteristiknya yang unik. “Kompleksitasnya adalah kami membawa upgrade besar di Sepang, dan Sepang begitu rumit dan sedikit menjadi outlier dalam hal suhu yang kami lihat pada Jumat dan Sabtu,” ujar Wolff. “Kami tidak tahu apakah upgrade tidak berfungsi seperti yang kami kira, atau memang dipengaruhi oleh kondisi trek. Itu sebabnya kami memutuskan ke Singapura dengan dua spesifikasi mobil berbeda.”

Wolff menambahkan bahwa pola awal menunjukkan versi terbaru mobil Mercedes lebih sulit dikemudikan, tetapi belum tentu memiliki performa lebih rendah. “Kami memiliki dua pilot uji saat ini. Kami perlu mengambil langkah ini untuk memastikan kami melakukan hal yang benar untuk tahun depan juga,” katanya.

Baca juga:
Kepala Dapur MBG di Blora Hilang Usai Pamit Salat, 19 Siswa Keracunan Susu

Sementara itu, di dunia investasi, saham-saham robotika juga menjadi perhatian. Nvidia dan Analog Devices disebut sebagai dua perusahaan kunci dalam rantai kecerdasan buatan fisik (physical AI). Nvidia, dengan kapitalisasi pasar US$5,7 triliun, disebut sebagai “otak” dari AI fisik. CEO Jensen Huang memperkirakan pendapatan dari AI fisik bisa mencapai US$100 miliar dalam satu dekade. Saham Nvidia telah masuk dalam daftar Outlier 20, sebuah portofolio yang menyoroti saham-saham dengan fundamental dan teknikal kuat, selama bertahun-tahun.

Fenomena outlier di berbagai sektor ini menunjukkan pentingnya identifikasi dan analisis terhadap data yang menyimpang dari pola umum, baik dalam penilaian properti, pengembangan teknologi balap, maupun investasi saham. Di Boston, sidang dewan masih akan berlanjut untuk mencari solusi atas ketimpangan penilaian properti yang merugikan warga kelas pekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *