Berita  

Pasar Nangka Bungur Sepi, Akses dan Parkir Jadi Kendala Utama

Pasar Nangka Bungur Sepi, Akses dan Parkir Jadi Kendala Utama
Pasar Nangka Bungur Sepi, Akses dan Parkir Jadi Kendala Utama

Sorothari – 11 Oktober 2026 | Pasar Nangka Bungur di Kemayoran, Jakarta Pusat, yang dulunya menjadi pusat kegiatan ekonomi warga, kini menghadapi kesepian yang berkepanjangan. Berdasarkan laporan terbaru, hanya sekitar seperempat dari total kios yang masih beroperasi, sementara sisanya tutup dan ditinggalkan pedagang. Kondisi ini sangat kontras dengan masa-masa awal berdirinya pasar yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 29 September 2016.

Pasar Nangka Bungur memiliki luas bangunan 1.523 meter persegi dan menyediakan 163 tempat usaha. Namun, sepinya pengunjung membuat banyak pedagang memilih untuk pindah atau gulung tikar. Beberapa pedagang yang masih bertahan mengungkapkan bahwa akses menuju pasar yang sulit dan area parkir yang terbatas menjadi penyebab utama kondisi ini.

Baca juga:
Asap Karhutla Kalimantan Ancam Jakarta, Pemadaman Terkendala Jarak Pandang

Sugi, salah seorang pedagang yang berjualan di luar area pasar, mengatakan bahwa pembeli lebih memilih berbelanja di tempat lain yang lebih mudah dijangkau. “Di dalam sepi. Parkirnya susah, sempit, jadi nggak ada yang datang. Sepi, dagangan nggak laku,” keluhnya. Ia menambahkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan banyak pedagang yang memilih keluar dari area pasar. Menurut Sugi, masalahnya bukan hanya soal harga sewa kios, melainkan lebih kepada sepinya pembeli. “Percuma kan sepi, nggak ada yang beli, jadinya rugi,” ungkapnya.

Fenomena sepinya Pasar Nangka Bungur menjadi cerminan tantangan yang dihadapi pasar tradisional di tengah perubahan pola belanja masyarakat. Kemudahan akses dan ketersediaan parkir menjadi faktor krusial yang menentukan daya tarik sebuah pusat perbelanjaan. Keberadaan pasar tradisional yang hanya mengandalkan pengalaman berbelanja tradisional perlu dipikirkan kembali agar tetap relevan.

Pasokan Nangka Muda untuk Gudeg Jogja Juga Terancam

Sementara itu, di sisi lain, ketersediaan bahan baku nangka muda atau gori untuk kuliner khas Yogyakarta, gudeg, juga menghadapi masalah. Kebutuhan nangka muda untuk industri kuliner gudeg di Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar sembilan ton per hari. Namun, produksi lokal dari wilayah DIY baru mampu memenuhi sekitar dua ton per hari, sehingga masih terdapat defisit sekitar tujuh ton yang harus dipenuhi dari luar daerah.

Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, mengungkapkan bahwa Jogja kekurangan pohon nangka yang menghasilkan gori. “Ada permasalahan yang sedang coba ditangani oleh pemerintah daerah, itu adalah sourcing buah nangka untuk gudeg,” kata GKR Bendara seusai forum Wonderful Indonesia Gastronomy Talk di Jogja, Jumat (2/10/2026). Menurutnya, jumlah pohon nangka yang menghasilkan buah untuk bahan gudeg di Jogja tidak mencukupi. Karena itu, para pedagang selama ini banyak mendatangkan nangka dari daerah lain. “Kebanyakan nangkanya itu dari luar Jogja, karena di Jogja itu kekurangan pohon nangka,” jelasnya.

Baca juga:
Dua Oknum Prajurit TNI di NTT Diproses Hukum Usai Aniaya Warga

Kondisi tersebut bahkan mendorong sejumlah daerah untuk mencari alternatif bahan baku. Di Gunungkidul, misalnya, gori mulai digantikan dengan bagian dari pohon pisang. “Bahkan di Gunungkidul itu, mereka sudah tidak pakai nangka tetapi gedebok pisang, batang pohon pisang, jadi gudeg gedebok pisang,” kata GKR Bendara.

Upaya Mengatasi Kekurangan Pasokan Nangka

Untuk mengatasi defisit pasokan nangka muda, berbagai upaya telah dilakukan. Salah satunya adalah pengembangan kawasan hutan pangan seluas 87 hektare di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini dikembangkan menjadi kawasan pangan berbasis lingkungan melalui budidaya pohon nangka. Hasil panennya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nangka muda bagi industri kuliner gudeg Yogyakarta.

Pengembangan tersebut dilakukan melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul. Program ini dijalankan Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY. Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga ketahanan energi. “Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik, Senin (5/10/2026).

Pengelolaan kawasan hutan pangan ini melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal. Dengan optimalisasi lahan hutan ini, diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pasokan nangka muda dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Langkah ini juga mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga:
Penyebab BBM Langka di Bali: Distribusi Terhambat, Panic Buying, dan Penimbunan

Kembali ke Pasar Nangka Bungur, kondisi sepi yang berkepanjangan membutuhkan perhatian serius dari pihak terkait. Perbaikan infrastruktur parkir dan akses menuju pasar menjadi langkah mendesak yang perlu segera direalisasikan. Tanpa adanya perubahan signifikan, pasar tradisional seperti Pasar Nangka Bungur dikhawatirkan akan semakin ditinggalkan pembeli, sementara di sisi lain, kebutuhan akan pasokan bahan pangan seperti nangka muda justru terus meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *