Sorothari – 30 Juli 2026 | Milisi Yaman, Houthi, dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk memungut tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb. Rencana ini muncul setelah kelompok tersebut memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Informasi ini disampaikan oleh sumber anonim dari Timur Tengah kepada Reuters pada Selasa, 28 Juli 2026, meskipun Houthi sendiri belum memberikan konfirmasi resmi.
Menurut calon Menteri Luar Negeri dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, langkah Houthi ini terinspirasi oleh Iran, yang saat ini juga berencana memungut tarif di Selat Hormuz. Al-Zouba menyatakan bahwa Houthi akan mencoba menguasai arus pelayaran di Laut Merah dan menyerang kapal jika diperlukan. Ia juga menambahkan bahwa kurangnya respons internasional yang tegas membuat Houthi semakin berani bertindak.
Baca juga:Rencana ini memicu kekhawatiran di kalangan negara Teluk dan Eropa, karena Selat Bab el-Mandeb merupakan perairan internasional yang memberikan hak bebas berlayar bagi kapal niaga. Berbeda dengan Terusan Suez atau Terusan Panama yang dibangun secara khusus dan diperbolehkan memungut tarif, selat ini merupakan jalur alami yang dilindungi hukum laut internasional. Jika Houthi benar-benar menerapkan pungutan, hal itu bisa dianggap melanggar hukum dan memicu kecaman luas.
Dampak ekonomi global juga diperkirakan signifikan. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur energi tersibuk di dunia, dengan sekitar 12 persen perdagangan minyak global melintas di sana. Bersama Selat Hormuz yang sudah lumpuh akibat konflik Iran-AS, penutupan atau pungutan di Bab el-Mandeb dapat mengganggu hampir seperempat pasokan energi dunia. Harga minyak berpotensi melonjak, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor dari Timur Tengah.
Baca juga:Menurut sumber Reuters, pejabat Houthi membahas rencana ini dengan pihak Iran saat menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Juli 2026. Tujuan skema tersebut adalah menormalkan praktik pungutan di jalur pelayaran internasional sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat. Sumber yang sama juga menyebutkan bahwa kapal-kapal China akan dikecualikan dari pungutan tersebut, setelah China melakukan pembicaraan langsung dengan Houthi agar kapal tankernya dapat melintas tanpa diserang.
Selat Bab el-Mandeb, yang dalam bahasa Arab berarti “Gerbang Air Mata”, merupakan jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Posisinya yang strategis menjadikannya chokepoint vital bagi perdagangan global. Sekitar 30 persen lalu lintas peti kemas dunia melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan—baik militer, kriminal, maupun teror—akan segera berimbas ke ekonomi global.
Baca juga:Hingga saat ini, Houthi belum mengumumkan secara resmi rencana tarif tersebut. Kantor media kelompok itu juga belum menanggapi permintaan komentar dari Reuters. Dengan demikian, rencana ini masih sebatas wacana, namun tetap menjadi perhatian serius bagi komunitas internasional mengingat potensi dampaknya yang luas.













