Sorothari – 14 Oktober 2026 | Jakarta – Sepanjang bulan Oktober 2026, langit malam Indonesia akan dihiasi oleh setidaknya dua fenomena hujan meteor yang menarik untuk diamati, yaitu Delta Aurigid dan Orionid. Keduanya menawarkan karakteristik berbeda, mulai dari periode aktivitas yang singkat hingga kilatan meteor yang sangat cepat. Masyarakat yang gemar mengamati astronomi dapat menyiapkan waktu terbaik untuk menyaksikan pertunjukan alam ini tanpa bantuan alat optik.
Hujan meteor Delta Aurigid mulai aktif pada 10 Oktober hingga 18 Oktober 2026, dengan puncak aktivitas diperkirakan terjadi pada 11 Oktober 2026. Fenomena ini tergolong unik karena periode kemunculannya yang relatif singkat. Titik pancar atau radiant Delta Aurigid berada di arah rasi bintang Auriga, sehingga meteor tampak seolah-olah berasal dari konstelasi tersebut. Meskipun demikian, pengamat disarankan untuk tidak hanya terpaku pada titik pancar, melainkan memperhatikan area langit yang lebih luas agar peluang melihat meteor semakin besar. Intensitas hujan meteor ini tergolong rendah dibandingkan hujan meteor populer lainnya, namun tetap menarik bagi para pencinta langit.
Baca juga:Sementara itu, hujan meteor Orionid yang berasal dari debu Komet Halley akan mencapai puncaknya pada malam 21 Oktober hingga menjelang pagi 22 Oktober 2026. Menurut data NASA, hujan meteor ini berlangsung sejak 2 Oktober hingga 7 November 2026, dan dalam kondisi ideal dapat menampilkan sekitar 10 hingga 20 meteor per jam. Kecepatan meteor Orionid sangat tinggi, mencapai 66 kilometer per detik, sehingga kerap meninggalkan jejak pendaran pijar yang bertahan beberapa detik hingga menit di langit. Titik pancar Orionid berada di rasi bintang Orion, sehingga meteor tampak berasal dari arah tersebut.
Meski kedua fenomena ini dapat diamati dengan mata telanjang, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan agar pengalaman menyaksikan hujan meteor lebih optimal. Salah satu tantangan utama adalah keberadaan cahaya Bulan yang berada dalam fase cembung membesar pada pertengahan hingga akhir Oktober 2026. Cahaya Bulan dapat menyamarkan meteor yang lebih redup, sehingga waktu terbaik untuk mengamati adalah menjelang subuh, setelah Bulan terbenam dan langit menjadi lebih gelap. Selain itu, memilih lokasi yang aman dengan pandangan langit luas dan minim polusi cahaya buatan sangat dianjurkan. Tidak diperlukan teleskop atau teropong karena meteor dapat dilihat langsung dengan mata telanjang.
Bagi masyarakat yang ingin mengabadikan momen, antisipasi terhadap cahaya Bulan juga penting. Fokuskan pandangan ke area langit yang agak menjauhi posisi titik radian Bulan agar jejak meteor pijar lebih terlihat jelas. Pastikan juga untuk memantau kondisi cuaca setempat, karena hujan lebat dan angin kencang yang berpotensi terjadi di beberapa wilayah, seperti diingatkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dapat mengganggu pengamatan. Plt Kalak BPBD Pidie Jaya, Okta Handipa, mengimbau warga untuk waspada terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang mungkin dipicu oleh cuaca ekstrem. “Warga, terutama yang berada di sekitar bantaran sungai, agar selalu memantau kondisi dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya banjir maupun tanah longsor,” kata Okta.
Baca juga:Selain hujan meteor, bulan purnama Hunter’s Moon juga akan hadir pada 25 Oktober 2026, menampilkan nuansa warna kuning kemerahan yang lembut saat terbit di ufuk timur. Fenomena ini merupakan bulan purnama yang muncul menjelang musim gugur dan perayaan Halloween, dinamai berdasarkan tradisi para pemburu zaman dahulu yang memanfaatkan cahaya Bulan terang untuk melacak hasil buruan. Hunter’s Moon dapat diamati bersamaan dengan periode akhir hujan meteor Orionid, sehingga menjadi daya tarik tambahan bagi pengamat langit.
Perlu diketahui, hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi aliran partikel kecil di ruang angkasa yang ditinggalkan oleh komet atau asteroid. Saat partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi, gesekan dengan udara memicu pijaran cahaya yang menyerupai garis terang di langit. Komet Halley, misalnya, merupakan sumber material bagi dua hujan meteor tahunan, yaitu Orionid pada Oktober dan Eta Aquariid pada Mei. Meski berasal dari komet yang sama, keduanya terlihat pada waktu berbeda karena Bumi melintasi bagian jalur debu yang berbeda dalam perjalanannya mengelilingi Matahari.
Dengan memahami karakteristik masing-masing hujan meteor dan mempersiapkan waktu pengamatan secara tepat, masyarakat dapat menikmati keindahan langit malam sepanjang Oktober 2026. Informasi astronomi terkini dapat dipantau melalui situs resmi lembaga antariksa atau organisasi astronomi setempat untuk mendapatkan data yang lebih akurat.
Baca juga:











