Berita  

Ketegangan Iran-AS di Teluk Oman dan Selat Hormuz: Ancaman Tenggelamkan Kapal Perang hingga Dilema Trump

Ketegangan Iran-AS di Teluk Oman dan Selat Hormuz: Ancaman Tenggelamkan Kapal Perang hingga Dilema Trump
Ketegangan Iran-AS di Teluk Oman dan Selat Hormuz: Ancaman Tenggelamkan Kapal Perang hingga Dilema Trump

Sorothari – 15 Oktober 2026 | Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di kawasan Teluk Oman dan Selat Hormuz. Komandan senior Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC), Laksamana Muda Ali Azmaei, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada Rabu (14/10/2026), mengancam akan menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat yang mencoba mendekati pintu masuk Selat Hormuz. “Kami sedang menunggu kapal-kapal perang Amerika mendekati pintu masuk Selat Hormuz, agar kami bisa menenggelamkannya,” tegas Azmaei. Ia menambahkan bahwa pasukan Iran sedang “menghitung mundur” menuju momen tersebut.

Dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita IRNA, Azmaei mengklaim bahwa kapal-kapal perang AS “tidak berani” mendekati jalur perairan strategis tersebut karena kerentanannya. Ia juga menyebut bahwa sebuah kapal induk AS senilai US$ 13 miliar (sekitar Rp 232,6 triliun) telah bergerak menjauh sejauh 700 kilometer dari Selat Hormuz. “Jika pihak Amerika ingin melihat apakah Selat Hormuz terbuka atau tertutup, biarkan mereka masuk ke wilayah tersebut dan melihat siapa yang mengendalikannya,” ujarnya.

Baca juga:
Mutasi Besar Polri: 199 Perwira Digeser, Kakorlantas Berganti

Azmaei menegaskan bahwa Selat Hormuz dan perairan Teluk berada di bawah kendali IRGC, sementara Angkatan Laut reguler Iran mengendalikan Teluk Oman. IRGC, menurut Azmaei, menjalankan “kendali cerdas” atas Selat Hormuz dengan menerbitkan izin bagi kapal-kapal yang keluar dan masuk Iran untuk menggunakan jalur perairan di sisi Iran. Ia menambahkan bahwa pasukan Iran kini lebih siap dibandingkan saat awal konflik. Lebih lanjut, Azmaei juga menuduh AS dan mitra-mitra regionalnya sengaja menutupi berita mengenai dua insiden penindakan terhadap “kapal-kapal yang melanggar” dari media.

Di sisi lain, Amerika Serikat menghadapi dilema besar dalam perang melawan Iran. Kolonel Purnawirawan Douglas Macgregor, mantan penasihat senior Menteri Pertahanan Amerika Serikat, dalam sebuah wawancara menyoroti pilihan strategis yang dihadapi Presiden Donald Trump. Menurut Macgregor, Washington pada dasarnya memiliki tiga pilihan: melanjutkan perang secara besar-besaran, tidak melakukan tindakan militer baru, atau melancarkan serangan terbatas sembari mencoba membuka kembali jalur negosiasi.

Baca juga:
Calo Rekrutmen TNI AD di Maluku dan Seruan Integritas Seleksi Prajurit

Macgregor menilai tidak satu pun pilihan tersebut mudah dijalankan dalam kondisi politik dan militer saat ini. Pilihan pertama, melancarkan perang dengan kekuatan penuh, telah dicoba tetapi belum menghasilkan penyelesaian strategis yang memuaskan. Pilihan kedua, tidak melakukan serangan baru, berpotensi menimbulkan persoalan politik bagi Trump karena harus menghadapi kritik dari pihak-pihak yang menginginkan tindakan lebih keras terhadap Teheran. Sementara pilihan ketiga, serangan terbatas yang diikuti negosiasi, dinilai juga memiliki keterbatasan dan berisiko mengulang kebuntuan apabila kedua pihak tidak memiliki kepercayaan yang cukup.

Macgregor memperingatkan bahwa jika Trump kembali memilih eskalasi besar, Amerika Serikat berisiko menghabiskan lebih banyak amunisi tanpa memperoleh perubahan strategis yang berarti. Ia juga menyinggung dugaan pengaruh kelompok berkepentingan, tekanan politik menjelang pemilihan paruh waktu Kongres, serta kerentanan ekonomi Amerika apabila konflik mengganggu pasar energi dan keuangan. Menurutnya, kombinasi tekanan politik dan keterbatasan militer dapat mendorong Trump kembali ke pilihan pertama, meskipun konsekuensinya berpotensi lebih besar.

Baca juga:
Polri Dorong Layanan SKCK Online, Permohonan di Pringsewu Capai 6.149 Dokumen

Ketegangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz dan Teluk Oman tetap tinggi di tengah konflik Iran-AS yang berkepanjangan. Perselisihan mengenai pelayaran di jalur perairan tersebut semakin berlarut-larut, dan ancaman dari komandan IRGC semakin memperkuat posisi Iran bahwa mereka siap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, Amerika Serikat terus mengkaji langkah terbaik untuk menjaga stabilitas kawasan tanpa harus terjerumus ke dalam konflik terbuka yang merugikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *