Sorothari – 20 Juli 2026 | Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menghentikan dua kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin pada Minggu, 19 Juli 2026. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat yang terus melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. IRGC menyebut total empat kapal melanggar aturan dengan mencoba keluar dari selat melalui jalur yang dinilai tidak aman, dan dua di antaranya mengalami insiden hingga dihentikan.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip kantor berita semi-resmi Fars, Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa kapal-kapal tersebut didukung dan diprovokasi oleh Amerika Serikat untuk mengganggu stabilitas kawasan. “Empat kapal pelanggar, dengan dukungan dan provokasi teroris Amerika, berupaya mengganggu situasi dan keluar dari Selat Hormuz melalui jalur yang tidak aman. Dua di antaranya mengalami insiden dan dihentikan di lokasi,” demikian bunyi pernyataan IRGC. Dua kapal lainnya membatalkan pelayaran setelah insiden tersebut.
Baca juga:IRGC tidak merinci jenis insiden yang dialami kedua kapal, namun menegaskan bahwa saat ini Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali mereka. Satu-satunya jalur pelayaran yang aman, menurut Iran, adalah rute yang telah ditentukan dan diumumkan oleh otoritas Iran. Peringatan keras juga disampaikan kepada para pelaut agar tidak mengikuti arahan dari pihak luar yang dapat membahayakan keselamatan mereka.
Kronologi Ledakan Tanker Sebelumnya
Dua hari sebelumnya, pada Jumat, 17 Juli 2026, IRGC melaporkan bahwa dua tanker minyak meledak dan terbakar setelah menabrak ranjau di bagian selatan Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita IRNA, pihak Garda Revolusi menuduh badan intelijen Amerika Serikat sengaja mengarahkan kedua kapal tersebut ke area ladang ranjau. “Satu jam yang lalu, dua tanker minyak, yang mencoba melewati ladang ranjau di selatan Selat Hormuz akibat penipuan badan intelijen Amerika, meledak dan terbakar,” kata pernyataan IRGC. Identitas kedua tanker, termasuk bendera dan pemiliknya, tidak diungkapkan. Hingga saat ini belum ada konfirmasi independen atas klaim tersebut.
Insiden ledakan tanker itu terjadi di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang semakin memanas. Amerika Serikat telah melancarkan serangan udara selama delapan malam berturut-turut, menyasar fasilitas pengawasan pesisir, sistem pertahanan udara, serta kemampuan rudal dan drone Iran. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi itu bertujuan melemahkan kapabilitas Iran dalam mengancam Selat Hormuz.
Baca juga:Penutupan Selat Hormuz Secara Virtual
Menanggapi serangan AS, Iran kembali menutup Selat Hormuz secara virtual selama sepekan. Teheran berulang kali memperingatkan kapal tanker dan kargo agar hanya menggunakan jalur pelayaran yang dekat dengan garis pantai mereka di sisi utara selat, dan menghindari koridor selatan yang coba dilindungi oleh Amerika Serikat. Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran untuk mengendalikan jalur perdagangan energi dunia yang sangat strategis tersebut.
Situasi ini menjadi ironis mengingat Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni 2026 untuk mengakhiri perang dan mencapai kesepakatan damai jangka panjang. Namun, ketegangan maritim di Selat Hormuz justru meningkat, menunjukkan rapuhnya stabilitas di kawasan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Amerika Serikat terkait klaim IRGC tentang insiden penghentian dua kapal tanpa izin tersebut. Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan konflik yang mempengaruhi pasokan minyak global.
Baca juga:












