Berita  

Delhi Puncaki Daftar Kota dengan AQI Terburuk Dunia, Mumbai Ikut Memburuk

Delhi Puncaki Daftar Kota dengan AQI Terburuk Dunia, Mumbai Ikut Memburuk
Delhi Puncaki Daftar Kota dengan AQI Terburuk Dunia, Mumbai Ikut Memburuk

Sorothari – 18 Oktober 2026 | Kualitas udara di sejumlah kota besar dunia kembali menjadi sorotan setelah pemantauan harian menunjukkan fluktuasi indeks kualitas udara atau AQI yang signifikan. Berdasarkan data pemantauan periode 18 Oktober 2026 pukul 06.00–07.00 waktu setempat, New Delhi, India, menempati posisi teratas sebagai kota dengan polusi udara tertinggi di dunia dengan nilai AQI mencapai 201. Angka tersebut masuk dalam kategori tidak sehat menurut standar yang digunakan, sementara Mumbai dan Singapura menyusul dengan nilai AQI 198, diikuti Lahore, Pakistan, dengan AQI 197. Data ini mencerminkan bahwa masalah polusi udara masih menjadi tantangan serius bagi kota-kota padat penduduk, terutama di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Di India sendiri, kondisi udara di dua kota besar, Delhi dan Mumbai, menunjukkan dinamika yang berbeda. Delhi dilaporkan mencatatkan 211 hari dengan kualitas udara kategori baik, memuaskan, dan sedang sepanjang tahun ini hingga Oktober 2026. Menteri Lingkungan Hidup Delhi, Manjinder Singh Sirsa, menyatakan bahwa capaian tersebut merupakan yang terbaik sejak 2016, tidak termasuk tahun 2020 yang terdampak pandemi Covid-19. Jumlah hari dengan kualitas udara buruk, sangat buruk, dan berbahaya juga menurun dari 168 hari pada periode yang sama tahun 2016 menjadi 79 hari pada tahun ini. Meski demikian, Sirsa mengingatkan bahwa kondisi musim dingin dan kecepatan angin yang rendah berpotensi memperburuk kualitas udara. Pemerintah Delhi telah menyiapkan Rencana Aksi Musim Dingin untuk mempertahankan perbaikan yang sudah terjadi, dan mengimbau perusahaan untuk mempertimbangkan kerja dari rumah serta jam kerja bergilir, sementara warga diminta menggunakan transportasi umum, memastikan sertifikat Pengendalian Pencemaran Udara yang valid, dan tidak membakar sampah.

Baca juga:
Pantauan Kualitas Udara Jakarta Hari Ini: Masuk Jajaran Kota Berpolusi Tinggi Dunia

Sementara itu, di Mumbai, kualitas udara justru menunjukkan tren memburuk. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, rata-rata AQI 24 jam di kota itu tercatat 122, naik dari 99 pada hari sebelumnya. Lebih dari separuh dari 23 stasiun pemantauan aktif di kota tersebut mencatatkan udara tidak sehat, dengan polutan utama berupa PM10, yaitu partikel debu berukuran kurang dari 10 mikrometer. Sebanyak 15 stasiun mencatat kualitas udara sedang, sedangkan sisanya memuaskan. Stasiun Malad West mencatat AQI terburuk dalam kategori sedang, yakni 163, diikuti BKC dengan 162 dan Worli dengan 161. Adapun Borivali East dan Mulund West mencatat AQI memuaskan di angka 79.

Seorang pejabat senior Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC) mengaitkan penurunan kualitas udara dengan kondisi meteorologi, terutama kecepatan angin rendah dan inversi suhu yang menghambat penyebaran polutan. “Akibatnya, polutan terperangkap di atmosfer dan memengaruhi kualitas udara,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya tengah berupaya agar AQI tetap berada di bawah 100. Sementara itu, Dr Gufran Beig, chair professor di National Institute of Advanced Studies, Indian Institute of Science, menilai perubahan suhu memengaruhi kualitas udara kota dan pembacaan serupa diperkirakan bertahan selama dua hingga tiga hari ke depan. Menurutnya, variasi saat ini bersifat musiman dan tidak serta-merta menunjukkan penurunan kualitas yang berkelanjutan.

Di sisi lain, suhu di Mumbai masih berada di atas normal meski tidak sepanas awal pekan ketika suhu maksimum menembus 38 derajat Celsius dan terjadi gelombang panas selama dua hari. Observatorium Colaba mencatat suhu maksimum 34,2 derajat Celsius atau satu derajat di atas normal, sedangkan Santacruz mencatat 35,2 derajat Celsius atau 1,5 derajat di atas normal. Suhu minimum tercatat 26,5 derajat Celsius dan 26 derajat Celsius, masing-masing 1,1 dan 1,7 derajat di atas normal.

Baca juga:
BMKG Bantah Suhu Surabaya 48 Derajat Celsius, Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi dan Cuaca Ekstrem

Di belahan dunia lain, Karnataka, India, justru menikmati kualitas udara yang lebih baik berkat hujan yang mengguyur wilayah tersebut. Pada 18 Oktober 2026, AQI di Bengaluru berkisar 57–61 atau kategori sedang. Meski di kawasan Padmanabhanagar, Silk Board, dan Majestic konsentrasi PM2.5 dan PM10 sedikit meningkat akibat kepadatan lalu lintas, hujan ringan pada pagi hari membantu menekan polusi. Kawasan pesisir dan Malenadu mencatat kualitas udara terbaik. Prakiraan cuaca menunjukkan hujan masih berpotensi turun, sehingga polusi udara diperkirakan tetap terkendali dalam beberapa hari ke depan.

Fenomena serupa juga terjadi di Delhi yang sempat mengalami perbaikan kualitas udara sebelum kembali memburuk. Pada 17 Oktober 2026 pukul 15.21, AQI Delhi tercatat 165 berdasarkan data AQI.in, naik signifikan dari periode 24 jam sebelumnya yang sempat bersih. Analisis data per jam menunjukkan polusi meningkat di berbagai wilayah. Prakiraan resmi memperkirakan kualitas udara Delhi akan masuk kategori buruk mulai 19 Oktober 2026 akibat musim dingin yang mendekat, minimnya hujan, dan kondisi meteorologi yang tidak mendukung dispersi polutan. Warga diminta bersiap menghadapi potensi penurunan kualitas udara lebih lanjut.

Dengan dinamika yang beragam, pemantauan AQI menjadi krusial bagi masyarakat di kota-kota besar. Nilai AQI yang tinggi, terutama yang didominasi PM2.5, dapat menimbulkan dampak kesehatan seperti iritasi mata, hidung, tenggorokan, batuk, kesulitan bernapas, hingga memperburuk asma dan penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi terkini dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan, terutama bagi kelompok rentan.

Baca juga:
Sorotan Terkini Miami: Pengungkapan Skandal Properti hingga Geliat Olahraga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *