Berita  

ISPU Sejumlah Daerah Memburuk akibat Karhutla, Tebo Paling Berbahaya

ISPU Sejumlah Daerah Memburuk akibat Karhutla, Tebo Paling Berbahaya
ISPU Sejumlah Daerah Memburuk akibat Karhutla, Tebo Paling Berbahaya

Sorothari – 23 Oktober 2026 | Kualitas udara di sejumlah daerah di Indonesia memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB menunjukkan sejumlah wilayah masuk kategori hitam atau berbahaya, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 di atas 300. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kabupaten Tebo, Jambi, bahkan mencapai 384 atau kategori berbahaya pada Kamis (22/10/2026) pukul 10.00 WIB. Sementara itu, ISPU di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, tercatat 197,707 atau kategori tidak sehat, dan di Kabupaten Batang Hari, Jambi, sempat mencapai 252 sebelum turun menjadi 211.

Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap karhutla bagi kesehatan masyarakat. Paparan asap mengandung partikel halus dan berbagai polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan, memperburuk penyakit paru, hingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular pada kelompok rentan. Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas. Warga juga diminta menggunakan masker apabila harus keluar rumah serta mengurangi masuknya asap ke dalam hunian.

Baca juga:
ISPU Memburuk di Pelalawan dan Tebo, Disdikbud Berlakukan PJJ, Dinkes Siagakan Posko

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengingatkan pentingnya melindungi kelompok rentan dari paparan asap, termasuk balita dan lanjut usia. “Kami harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,” ujar Suyanti dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2026).

ISPU Tebo Capai 384, Warga Diminta Waspada

Kualitas udara di Kabupaten Tebo, Jambi, kembali memburuk pada Kamis (22/10/2026). Berdasarkan data dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup, ISPU di Stasiun Bedaro Rampak, Kecamatan Tebo Tengah, mencapai 384 atau masuk kategori berbahaya. Data pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat PM10 mencapai 384, sedangkan PM2.5 berada di angka 378. Adapun parameter sulfur dioksida (SO2) tercatat 2, karbon monoksida (CO) 18, dan nitrogen dioksida (NO2) 19.

Lonjakan ISPU tersebut terjadi setelah kualitas udara di Kabupaten Tebo sempat menunjukkan perbaikan. Namun, pada Kamis pagi, kabut asap kembali terlihat pekat di sejumlah kawasan. Kabut asap yang diduga berkaitan dengan karhutla itu menambah kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan masyarakat, terutama warga yang beraktivitas di luar ruangan. Partikel PM2.5 menjadi salah satu parameter yang perlu diwaspadai karena dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Kondisi udara dengan kategori berbahaya juga menjadi perhatian bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Salah satu aktivis sosial di Kabupaten Tebo, Rudi, menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan instansi terkait. “Ketika kualitas udara sudah masuk kategori berbahaya, keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas. Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi warga sekaligus memastikan penyebab memburuknya kualitas udara dapat ditangani,” ujar Rudi saat dikonfirmasi.

Baca juga:
Pantauan Kualitas Udara Hari Ini: Karhutla Picu Kategori Bahaya di Sumatra dan Kalimantan

Padang Panjang Bagikan 1.000 Masker

Kualitas udara Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, yang masuk kategori tidak sehat mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kesbangpol turun langsung membagikan 1.000 lembar masker kepada masyarakat di enam titik keramaian, Kamis. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap karhutla, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Berdasarkan hasil pengujian UPTD Laboratorium Lingkungan Hidup Kota Padang Panjang per 20 Oktober 2026, ISPU tercatat mencapai 197,707, yang masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini sebelumnya juga mendorong pemerintah daerah memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik pada 21–23 Oktober 2026.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Rio de Ronsard mengatakan, pembagian masker merupakan langkah antisipatif untuk melindungi masyarakat dari dampak penurunan kualitas udara. “Kabut asap karhutla membuat kualitas udara menurun dan dapat berdampak pada kesehatan pernapasan. Karena itu, BPBD membagikan masker kepada masyarakat sebagai upaya perlindungan sekaligus edukasi agar warga disiplin memakai masker saat berada di luar ruangan,” ujarnya. Ia menjelaskan sebanyak 1.000 lembar masker tersebut didistribusikan di Simpang Serambi, Simpang AB Mart, Simpang Tanah Hitam, Simpang Kebun Sikolos, kawasan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, serta depan Gedung M. Sjafei. Kawasan depan Gedung M. Sjafei mendapat alokasi terbesar, yakni 300 lembar masker. Lokasi ini dipilih karena menjadi salah satu akses menuju pasar, tempat masyarakat beraktivitas dan berinteraksi dengan intensitas tinggi. Sementara itu, sejumlah persimpangan dan kawasan kampus menjadi sasaran karena tingginya mobilitas warga di lokasi tersebut.

Meski pembagian masker menjadi langkah perlindungan awal, kondisi udara yang tidak sehat membutuhkan kewaspadaan lebih dari masyarakat. Warga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya saat kabut asap semakin pekat, serta menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel pencemar. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus karena lebih rentan terdampak polusi udara.

Batang Hari Membaik, tetapi Masih Zona Merah

Angka ISPU di Kabupaten Batang Hari, Jambi, terus menurun dan kualitas udara di daerah setempat kini terpantau terus membaik. Berdasarkan hasil pemantauan tim laboratorium lingkungan Dinas Lingkungan Hidup yang diterima pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat, kualitas udara di Bumi Serentak Bak Regam ini terpantau terus membaik jika dibanding sebelumnya. Kondisi ini dibenarkan oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Batang Hari, Asriyal. Menurutnya, angka ISPU yang sempat bertahan di angka 252 pada 17 sampai 18 Oktober 2026, pada 18 dan 19 Oktober 2026 sudah menurun di angka 211. Seiring dengan turunnya angka ISPU ini, kabut asap yang sebelumnya terasa sangat pekat kini sudah semakin berkurang.

Baca juga:
Ketua KPK Dorong Sinergi Penegak Hukum Berantas Korupsi

“Terakhir update ISPU kita turun ya di angka 211, dan di sangat tidak sehat. Kalau kita melihat situasi per hari ini, itu ada penurunan ya, penurunan dari asap kita sudah lumayan agak mereda. Sampai saat ini kita tetap mengimbau kepada masyarakat agar tetap untuk memakai masker, dan juga untuk kegiatan yang ada di luar untuk sementara waktu masih belum diperbolehkan,” ujarnya. Hanya saja, meski cenderung menurun, kualitas udara di Kabupaten Batang Hari saat ini belum sepenuhnya membaik lantaran masih berada di zona merah atau dalam kategori sangat tidak sehat. Dengan demikian, masyarakat masih tetap diimbau untuk memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan serta membatasi kegiatan di luar rumah hingga kualitas udara sudah dinyatakan membaik.

Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk terus memantau perkembangan ISPU melalui kanal resmi pemerintah dan mengikuti arahan dari otoritas setempat. Langkah-langkah preventif seperti mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker, dan menjaga kualitas udara dalam ruangan perlu terus dilakukan hingga kondisi udara dinyatakan aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *