Sorothari – 10 Oktober 2026 | Aliran minyak bumi dari Timur Tengah menunjukkan pemulihan signifikan pascaperang Iran, sementara di sisi lain, Indonesia melalui Danantara Investment Management (DIM) menanamkan investasi strategis di sektor energi Amerika Serikat. Kedua perkembangan ini mencerminkan dinamika global industri minyak bumi yang terus beradaptasi dengan tantangan geopolitik dan peluang investasi.
Berdasarkan data Kpler yang dikutip BBC, pada pekan terakhir September, aliran minyak harian dari Timur Tengah telah mencapai sekitar 92 persen dari level sebelum perang. Ekspor minyak mentah dari produsen utama kawasan itu mencapai 16,328 juta barel per hari, level tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari. Pemulihan ini terjadi meskipun Selat Hormuz—jalur vital yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Teluk dengan pasar global—masih dalam kondisi berisiko tinggi.
Baca juga:Salah satu faktor kunci yang memungkinkan pemulihan ini adalah pengawalan militer Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dukungan keamanan, yang berlangsung sejak pertengahan Juni, mencakup bantuan udara, peringatan dini, dan upaya mencegat ancaman dari drone, rudal, maupun kapal musuh. Data Angkatan Laut AS menunjukkan jumlah kapal yang mendapat bantuan meningkat sekitar sepertiga pada September dibandingkan Agustus. Martin Kelly, analis intelijen senior dari EOS Risk Group, menyebutkan bahwa bentuk bantuan AS terutama berupa dukungan udara kepada kapal, termasuk menciptakan koridor pelayaran di dekat Oman yang dianggap lebih aman.
Meskipun pengawalan militer membantu, risiko serangan terhadap kapal komersial masih tinggi. Menurut Armed Conflict Location and Event Data yang dikutip BBC, September mencatat jumlah serangan Iran yang berhasil mengenai kapal komersial pada level tertinggi sejak Maret. Kapal yang menggunakan rute bagian selatan Selat Hormuz dekat Oman masih menghadapi ancaman nyata. Selain itu, penggunaan pipa alternatif untuk mengekspor minyak tanpa melalui Selat Hormuz mulai meningkat, meskipun infrastruktur pipa juga rentan diserang dan produk olahan masih tertinggal. Ekspor Iran sendiri mendekati nol akibat sanksi dan konflik.
Investasi Danantara di HighPeak Energy
Sementara itu, di tengah ketidakpastian pasokan minyak bumi global, Indonesia justru mengambil langkah strategis dengan berinvestasi di sektor hulu minyak dan gas bumi Amerika Serikat. PT Danantara Investment Management (DIM), holding investasi milik Danantara Indonesia, menyuntikkan dana sebesar US$250 juta atau sekitar Rp4,48 triliun ke HighPeak Energy, Inc. (NASDAQ: HPK), perusahaan eksplorasi dan eksploitasi minyak serta gas bumi asal Texas.
Baca juga:Investasi ini dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen konvertibel. Langkah ini memberi DIM akses ke portofolio aset minyak di Permian Basin, kawasan penghasil minyak mentah terbesar di Amerika Serikat. Data US Energy Information Administration menunjukkan Permian Basin menyumbang 48 persen dari total produksi minyak AS sepanjang 2025. Pertumbuhan produksi kawasan ini ditopang oleh teknik pengeboran horizontal dan hydraulic fracturing (fracking) yang telah diterapkan sejak 2007.
Chief Executive Officer Danantara Investment Management, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa investasi ini sejalan dengan mandat Danantara untuk berinvestasi di sektor strategis yang memberikan imbal hasil berkelanjutan dalam jangka panjang sekaligus mendukung kepentingan nasional. “Posisi strategis HighPeak di salah satu pasar hulu minyak dan gas bumi paling maju di dunia menjadikannya peluang investasi yang potensial seiring dengan upaya kami membangun platform investasi yang terdiversifikasi secara global,” ujar Pandu dalam keterangan resmi.
Melalui kemitraan ini, HighPeak akan membuka program pelatihan dan penugasan kerja (secondment) bagi tenaga kerja Indonesia guna memfasilitasi transfer keahlian teknis. Dari sisi struktur investasi, DIM mendapatkan perlindungan nilai investasi, hak konversi ke saham biasa, opsi partisipasi pada penawaran saham berikutnya melalui penempatan terbatas, serta satu kursi di jajaran direksi HighPeak.
Baca juga:Pandu berharap kerja sama ini dapat memfasilitasi pertukaran keterampilan yang mendukung pengembangan sektor energi Indonesia, sekaligus memperkuat hubungan energi dan ekonomi yang telah lama terjalin antara Indonesia dan Amerika Serikat. Penerapan teknologi fracking pada lapangan minyak bumi tua di Permian Basin berpotensi menjadi acuan bagi Indonesia untuk mendongkrak produksi minyak bumi dalam negeri.
Dengan langkah ini, Indonesia tidak hanya mengamankan akses terhadap pasokan minyak bumi global, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi. Di sisi lain, pemulihan aliran minyak Timur Tengah menunjukkan bahwa industri minyak bumi global mampu beradaptasi dengan tantangan geopolitik, meskipun risiko keamanan dan logistik masih tetap tinggi.












