Sorothari – 13 Oktober 2026 | Nama pengusaha Garibaldi Thohir, yang akrab disapa Boy Thohir, kembali menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir. Dua peristiwa besar terjadi secara bersamaan: penyidikan dugaan korupsi perpajakan yang melibatkan perusahaannya, dan di sisi lain, saham-saham grup usahanya justru mencatatkan kenaikan signifikan di bursa.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mengusut dugaan korupsi di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dalam proses penyidikan tersebut, KPK menggeledah delapan lokasi di Banjarmasin dan Banjarbaru pada 26 hingga 28 Agustus 2026. Penggeledahan menyasar rumah dan kantor sejumlah pihak swasta. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa salah satu lokasi yang digeledah merupakan perusahaan pertambangan yang terkait dengan Adaro, kelompok usaha yang dipimpin oleh Boy Thohir.
Baca juga:“Dokumen yang ditemukan akan dianalisis dan dikonfirmasi kepada pihak-pihak yang dinilai mengetahui substansi perkara,” ujar Budi Prasetyo dalam keterangannya. KPK menegaskan bahwa setiap fakta dan alat bukti harus memiliki keterkaitan yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Sebelum penggeledahan, KPK telah memeriksa mantan Kepala Divisi Pajak PT Adaro Energy Tbk, Jul Seventa Tarigan, pada 19 Agustus 2026. Dalam pemeriksaan tersebut, penyidik mendalami dugaan pemberian kepada pemeriksa pajak. Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan secara terperinci bentuk pemberian, nilai transaksi, ataupun pihak yang diduga menerima dan memberikan uang tersebut. KPK juga belum menjelaskan apakah seluruh lokasi yang digeledah memiliki hubungan langsung dengan Jul Seventa Tarigan.
Meski demikian, pemeriksaan tersebut menempatkan aktivitas perpajakan perusahaan sebagai salah satu aspek penting yang perlu ditelusuri. Penyidik perlu mengungkap apakah terdapat transaksi yang menyimpang, siapa saja yang terlibat, dan apakah ada keuntungan yang diperoleh melalui dugaan praktik korupsi.
Kinerja Saham Grup Adaro Melesat
Di tengah sorotan hukum, saham-saham yang terafiliasi dengan Boy Thohir justru menunjukkan performa impresif di bursa. Sepanjang tahun 2026 hingga awal Oktober, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melonjak 73,48%. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga mencatat kenaikan 44,20%, sementara PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) terkoreksi tipis 3,53%.
Baca juga:Kinerja ini kontras dengan saham konglomerasi lain yang justru anjlok. Misalnya, saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu, seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang anjlok 54,13%, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) keok 69,59%, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) rontok 74,86%.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry, menilai penguatan saham-saham Grup Adaro bukan semata efek Santa Rally di akhir tahun. Menurutnya, ada kombinasi tiga faktor yang bekerja bersamaan. “Saya masih melihat prospek positif sampai akhir tahun, ditopang fundamental grup, harga komoditas dan ekspektasi capital flow ke saham energi,” kata Elandry kepada Katadata, Selasa (6/10).
Fundamental Emiten yang Kokoh
Dari sisi laba, AADI membukukan laba bersih US$ 473,76 juta atau setara Rp 8,47 triliun pada semester pertama tahun ini, naik 10,51% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 428,68 juta. Pendapatan AADI naik menjadi US$ 2,54 miliar dari US$ 2,39 miliar secara tahunan. Pendorong utamanya adalah penjualan batu bara domestik yang meningkat 16,49% menjadi US$ 400,43 juta dari US$ 343,75 juta. Sebaliknya, penjualan batu bara ekspor turun sekitar 2,03% menjadi US$ 1,82 miliar dari US$ 1,86 miliar.
ADRO mencatat pertumbuhan laba paling agresif di antara ketiganya. Laba bersih ADRO melesat 76,83% menjadi US$ 309,36 juta dari US$ 174,94 juta pada periode sebelumnya. Lonjakan itu seiring kenaikan pendapatan perseroan menjadi US$ 999,24 juta dari US$ 857,69 juta. Penjualan hasil tambang ke pihak ketiga mencapai US$ 370,27 juta, melonjak 58,15% dari US$ 234,11 juta. Penjualan domestik menyumbang US$ 244,95 juta, sedangkan ekspor naik 40,42% menjadi US$ 125,32 juta.
Baca juga:Elandry memberikan target harga AADI di kisaran Rp 14.000-15.000 per saham. Sementara itu, ADRO memiliki katalis dari diversifikasi bisnis, terutama pengembangan bisnis aluminium, dengan target harga Rp 3.000-3.300. Adapun ADMR lebih mengandalkan prospek pertumbuhan dari bisnis batu bara metalurgi dan smelter aluminium, dengan target harga Rp 1.900-2.100, meski memiliki tingkat volatilitas yang lebih tinggi.
Hingga saat ini, KPK masih terus mendalami perkara dugaan korupsi perpajakan tersebut. Belum ada keterangan resmi mengenai apakah Boy Thohir secara pribadi akan diperiksa atau ditetapkan sebagai tersangka. Masyarakat dan pelaku pasar pun menanti perkembangan lebih lanjut dari kasus ini, yang berpotensi memengaruhi sentimen terhadap saham-saham grup usaha Boy Thohir ke depannya.












