Sorothari – 09 Oktober 2026 | Gelombang demonstrasi pelajar yang awalnya memicu ketegangan di Prancis kini telah meluas ke negara-negara tetangga, menjadikan perbandingan situasi France vs Belgium semakin relevan. Di Belgia, kota Liège menjadi pusat kerusuhan baru, sementara Prancis masih bergulat dengan penutupan sekolah dan bentrokan antara aparat keamanan dengan demonstran. Lebih dari sekadar aksi lokal, gerakan ini mencerminkan kegelisahan generasi muda Eropa terhadap masa depan pendidikan mereka.
Di Prancis, protes yang dimulai sejak pertengahan September lalu terus berlanjut hingga awal Oktober. Sekitar satu dari empat sekolah menengah di seluruh negeri dilaporkan diblokade pada hari Selasa pekan lalu. Lebih dari 260.000 pelajar, guru, orang tua, dan serikat pekerja turun ke jalan menuntut perbaikan sistem pendidikan. Tuntutan utama mereka meliputi penambahan jumlah guru untuk mengatasi kekosongan staf, investasi untuk merenovasi sekolah-sekolah yang rusak, serta reformasi platform penerimaan mahasiswa baru.
Baca juga:Pemerintahan Perdana Menteri Sébastien Lecornu awalnya merespons dengan pendekatan keras. Ia menyebut gerakan tersebut sebagai “kekerasan perkotaan” dan mengerahkan pasukan anti-huru-hara untuk membubarkan blokade. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez bahkan menyatakan bahwa polisi akan menggunakan “semua alat pengendalian massa” untuk “mengakhiri” kekacauan. Namun, langkah ini justru memicu bumerang. Video-video bentrokan keras antara remaja dan polisi menjadi viral di media sosial.
Salah satu insiden paling memilukan terjadi ketika seorang anak berusia 15 tahun kehilangan tangannya akibat ledakan granat kejut yang ditembakkan polisi. Peristiwa ini memicu kemarahan publik dan memaksa pemerintah untuk menghentikan sementara penggunaan granat kejut dalam demonstrasi pelajar. Sejak protes dimulai, 24 sekolah dilaporkan terbakar atau dirusak. Lebih dari 6.500 orang, sebagian besar di bawah umur, telah ditangkap di Prancis.
Krisis ini juga menjadi isu politik menjelang pemilihan presiden. Calon dari sayap kanan, Marine Le Pen, memanfaatkan isu “kekerasan di sekolah” untuk menyerukan keamanan yang lebih ketat. Sementara itu, kandidat sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menyerukan pembentukan “penyangga manusia” antara polisi dan pelajar, berharap kemarahan publik dapat diterjemahkan menjadi suara. Menghadapi tekanan, Perdana Menteri Lecornu mengubah nada bicaranya dan berjanji akan mencari solusi pada akhir bulan, meskipun krisis utang Prancis membatasi ruang gerak pemerintah untuk memberikan konsesi.
Sementara itu, di Belgia, situasi France vs Belgium menunjukkan kesamaan pola. Di Liège, ratusan pelajar turun ke jalan, terinspirasi oleh aksi di Prancis. Protes yang berlangsung sejak 1 Oktober lalu memanas pada Rabu (7 Oktober) ketika polisi berkonfrontasi dengan demonstran. Media lokal melaporkan setidaknya 139 hingga 200 orang telah ditahan terkait dengan kerusakan properti dan pembakaran. Otoritas setempat bahkan mengeluarkan peringatan darurat melalui sistem BE-Alert, meminta pemilik toko untuk menutup usaha mereka lebih awal dan warga untuk menghindari pusat kota.
Baca juga:Para pelajar di Belgia mengeluhkan kenaikan biaya kuliah, ruang kelas yang terlalu padat, dan kesulitan mengakses bahan belajar. Pada bulan Juni lalu, telah terjadi bentrokan antara demonstran dan polisi di Brussel terkait kenaikan uang kuliah untuk komunitas berbahasa Prancis di Belgia, dari 835 euro menjadi 1.194 euro. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan, “Berantakan, kami berjuang untuk hak! Bukan hak istimewa!” dan “Aku memilih pendidikan, bukan hunger games!”.
Menyebar ke Seluruh Eropa
Lebih dari sekadar France vs Belgium, gelombang protes ini telah menjalar ke sejumlah negara Eropa lainnya. Di Italia, pelajar menduduki sekolah-sekolah menengah di Turin dan Roma dengan slogan “Ayo lakukan seperti di Prancis.” Mereka menyoroti kekurangan dana kronis, gedung sekolah yang rusak, dan biaya hidup yang meningkat. Delegasi pelajar Italia bahkan melakukan perjalanan ke Paris untuk menyatakan solidaritas.
Di Yunani, pelajar menyerukan aksi nasional pada 8 Oktober, termasuk membolos sekolah, mengadakan rapat umum, dan kemungkinan pendudukan sekolah. Sementara itu, ribuan mahasiswa Universitas di Dublin, Irlandia, telah berdemonstrasi menuntut biaya kuliah yang lebih rendah dan akomodasi yang terjangkau. Di Jerman, pelajar, guru, orang tua, dan serikat pekerja telah menggelar aksi pada bulan September untuk meminta tambahan guru dan fasilitas yang lebih baik. Austria juga menghadapi ancaman demonstrasi lebih lanjut setelah peringatan dari perwakilan universitas bahwa sekitar 1 miliar euro dapat dipotong dari anggaran universitas tiga tahun ke depan.
Krisis pendidikan di Prancis, seperti di banyak negara Eropa lainnya, bukan semata-mata masalah anggaran. Meskipun secara nominal belanja pendidikan adalah salah satu pos pengeluaran terbesar pemerintah Prancis—mencapai 65,5 miliar euro pada tahun 2027—kenaikan jumlah siswa dan biaya operasional membuat belanja per siswa justru menurun. Belanja publik per mahasiswa untuk pendidikan tinggi dan penelitian di Prancis telah turun sekitar 20 persen secara riil sejak tahun 2017.
Baca juga:Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa pemerintah Prancis atau Belgia akan segera memenuhi seluruh tuntutan pelajar. Otoritas di Liège telah melarang perkumpulan lebih dari tiga orang di tempat umum hingga 16 Oktober. Sementara itu, barikade kembali bermunculan di Prancis setelah Perdana Menteri Lecornu gagal memberikan solusi konkret. Perbandingan France vs Belgium dalam krisis ini menunjukkan bahwa akar permasalahan—kekurangan dana, fasilitas yang buruk, dan masa depan yang tidak pasti—adalah isu bersama yang menghubungkan generasi muda Eropa.












