Sorothari – 01 September 2026 | Persaingan abadi dua raksasa sepak bola asal Rio Grande do Sul dalam laga klasik internacional vs grêmio terus menyajikan tensi tinggi di berbagai kelompok usia dan arena. Rivalitas bertajuk Gre-Nal ini tidak hanya terasa pada level senior, melainkan juga membakar semangat di kejuaraan kelompok umur hingga pertandingan ekshibisi yang mempertemukan para mantan pemain bintang kedua klub.
Pada kompetisi kelompok umur, Internacional berhasil memetik kemenangan penting saat bertandang ke markas Grêmio di CT Hélio Dourado, Eldorado do Sul, dalam lanjutan pekan ke-14 kompetisi Brasileirão U-17. Tim tamu sukses mengunci kemenangan tipis 2-1 dalam pertandingan yang berlangsung sengit sejak menit awal.
Baca juga:Internacional membuka keunggulan pada menit ke-20 babak pertama setelah pemain Grêmio, Thiel, salah mengantisipasi bola sepak pojok hingga berujung gol bunuh diri. Tuan rumah sempat menyamakan kedudukan pada awal babak kedua melalui eksekusi penalti Benjamin pada menit ke-52. Namun, pelanggaran di kotak terlarang pada menit ke-81 membuat Internacional mendapatkan hadiah penalti yang sukses dituntaskan oleh Ryan Norato, sekaligus memastikan tiga poin penuh bagi tim tamu. Hasil ini membawa Internacional naik ke peringkat 10 klasemen dengan koleksi 19 poin, sementara Grêmio tertahan di peringkat 18 dengan 10 poin setelah menelan kekalahan kedelapan berturut-turut.
Rivalitas Klasik Internacional vs Grêmio dalam Ajang Ekshibisi
Atmosfer persaingan sengit antara kedua kubu juga merambah panggung futsal saat digelarnya laga persahabatan reuni legenda di Ginásio Municipal Jatyr Francisco Foresti, Marau. Pertandingan ekshibisi yang berakhir imbang dengan skor 5-5 tersebut diramaikan oleh aksi mantan gelandang Grêmio, Douglas, yang mencuri perhatian lewat selebrasi provokatifnya.
Usai mencetak gol indah, mantan pemain yang pernah membawa Grêmio menjuarai Copa do Brasil 2016 dan Copa Libertadores 2017 itu memperagakan tarian waltz 15 tahun. Tarian tersebut merupakan sindiran populer terhadap periode puasa gelar bergengsi yang sempat dialami kubu rival. Tradisi saling ejek lewat tarian waltz ini berakar dari selebrasi Eduardo Sasha saat masih berseragam Internacional pada final Campeonato Gaúcho 2016 silam.
Baca juga:Pertandingan di Marau tersebut turut dihadiri oleh sederet figur ternama kedua tim. Grêmio diperkuat oleh mantan pemain seperti Edilson, Fábio Rochemback, Patrício, Anderson Polga, dan Douglas. Sementara itu, kubu Internacional menurunkan nama-nama kawakan seperti Christian, Wilson Mathias, Chiquinho, serta mantan pemain futsal Choco.
Di tingkat kompetisi profesional tim utama, atmosfer menjelang bentrokan langsung antara kedua kubu juga dipengaruhi oleh hasil kontras di klasemen sementara Brasileirão. Grêmio meraih modal positif usai memetik kemenangan di kandang saat menjamu Chapecoense, sedangkan Internacional harus menelan kekalahan pahit dari Bahia di Salvador yang membuat mereka terperosok ke dalam zona degradasi (Z-4).
Sejarah rivalitas panjang kedua kesebelasan juga menorehkan cerita unik bagi sejumlah pemain yang pernah membela kedua panji, salah satunya gelandang Giuliano. Sosok yang pernah menjadi pemain terbaik Copa Libertadores 2010 bersama Internacional tersebut tercatat mengoleksi total tiga gol dalam sejarah pertemuan kedua tim, dengan rincian satu gol saat berseragam Internacional dan dua gol saat memperkuat Grêmio. Kini di usia 36 tahun setelah mengakhiri kontraknya bersama Athletico Paranaense, Giuliano aktif membina talenta muda dan memimpin perusahaan manajemen atlet, Grupo GVP.
Baca juga:












