Sorothari – 03 September 2026 | Insiden turbulensi parah yang menimpa penerbangan Singapore Airlines Flight 321 pada Mei 2024 kini memasuki babak baru di ranah hukum. Linda Kitchen, seorang wanita berusia 74 tahun asal Inggris yang selamat dari peristiwa tersebut, resmi mendaftarkan gugatan terhadap Singapore Airlines ke Pengadilan Tinggi Inggris (High Court). Langkah hukum ini ditempuh guna menuntut pertanggungjawaban serta memperoleh kompensasi finansial untuk membiayai perawatan medis spesialis atas cedera patah tulang belakang yang dialaminya, sekaligus menuntut keadilan atas wafatnya sang suami.
Tragedi yang menimpa pesawat Singapore Airlines Flight 321 dengan rute London menuju Singapura tersebut menewaskan Geoffrey Kitchen, seorang sutradara teater berusia 73 tahun asal Thornbury, dekat Bristol. Geoff, yang telah membina rumah tangga selama 52 tahun bersama Linda, diduga mengalami serangan jantung fatal saat pesawat berjenis Boeing tersebut mengalami guncangan ekstrem. Perjalanan tersebut sedianya merupakan bagian dari rencana liburan panjang selama enam pekan yang melintasi Singapura, Indonesia, dan Australia.
Baca juga:Kronologi Guncangan Maut di Udara
Berdasarkan keterangan saksi dan dokumen gugatan, peristiwa bermula ketika pesawat melintas di atas wilayah udara Myanmar, sekitar sepuluh jam setelah lepas landas dari London. Pesawat Singapore Airlines SQ321 mendadak anjlok lebih dari 54 meter hanya dalam rentang waktu lima detik di tengah layanan sarapan rutin. Turbulensi yang terjadi tanpa peringatan memadai itu seketika melontarkan barang-barang kabin serta penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman.
Dalam pengakuannya, Linda Kitchen menuturkan bahwa guncangan dahsyat tersebut membuat tubuh suaminya terlempar dan menindihnya hingga tubuh Linda terhimpit ke sandaran tangan kursi. Penumpang lain bergegas memberikan pertolongan dan seorang dokter di dalam kabin segera melakukan resusitasi jantung paru (CPR) terhadap Geoff. Akibat situasi darurat tersebut, penerbangan Singapore Airlines Flight 321 yang mengangkut 211 penumpang dan 18 kru langsung dialihkan menuju Bandara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand.
Setibanya di Bangkok, Linda langsung dilarikan ke rumah sakit setempat untuk mendapatkan penanganan darurat atas cedera punggungnya, sementara suaminya dinyatakan meninggal dunia di lokasi. Linda baru diberitahu mengenai kabar duka wafatnya sang suami dua hari setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Baca juga:Dua Gugatan Resmi dan Gelombang Tuntutan Penumpang
Pihak keluarga Kitchen melayangkan dua berkas tuntutan hukum sekaligus ke meja hijau. Tuntutan pertama diajukan atas nama pribadi Linda Kitchen terkait cedera fisik dan trauma psikologis yang dideritanya. Sementara itu, gugatan kedua diajukan Linda atas nama perwakilan aset dan hak peninggalan almarhum suaminya.
Langkah hukum keluarga Kitchen menjadi pemantik bagi penumpang lain untuk menuntut keadilan serupa. Catatan pengadilan menunjukkan sejumlah penumpang terdampak lainnya turut mendaftarkan gugatan hukum terhadap maskapai di pengadilan Inggris. Beberapa nama penumpang yang ikut menempuh jalur hukum antara lain:
- Bradley Richards
- Jack Jenkins
- Hannah Fullerton
- Andrew Dawood
- Bryan Matthews
- Pauline Rainey dan Michael Rainey
Secara keseluruhan, insiden turbulensi yang dialami Singapore Airlines Flight 321 menyebabkan 79 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam, mulai dari memar hingga cedera tulang belakang yang membutuhkan penanganan medis jangka panjang.
Baca juga:Sikap Manajemen Singapore Airlines
Menanggapi rentetan gugatan yang didaftarkan ke Pengadilan Tinggi Inggris, pihak Singapore Airlines memilih untuk menahan diri dari memberikan pernyataan mendalam. Juru bicara maskapai menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat memberikan komentar terbuka mengenai perkara hukum yang proses peradilannya sedang berjalan di pengadilan.
Proses hukum ini diperkirakan akan meneliti standar operasional keselamatan penerbangan, sistem peringatan dini turbulensi, serta kelayakan kompensasi bagi para korban yang mengalami dampak fisik dan emosional mendalam pascainsiden Singapore Airlines SQ321.













