Sorothari – 19 Juli 2026 | Ibrahim, siswa SD Boyolali temukan celah keamanan NASA dan dapat apresiasi berupa Letter of Recognition (LOR) setelah berhasil mengidentifikasi kerentanan broken link hijacking pada salah satu domain publik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut. Prestasi ini diraih oleh Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Kerentanan broken link hijacking yang ditemukan Ibrahim berpotensi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengarahkan pengguna ke situs phishing. Ayah Ibrahim, Aminudin Salas, yang berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), menjelaskan bahwa celah tersebut dapat digunakan untuk penipuan dengan mengatasnamakan NASA. “Kalau dampaknya itu kalau enggak diatasi jadi link phishing. Bisa dipakai untuk penipuan, mengatasnamakan pihak NASA untuk menipu orang-orang,” ujarnya kepada TribunSolo.com pada Jumat, 17 Juli 2026.
Baca juga:Ibrahim melaporkan temuannya melalui program NASA Vulnerability Disclosure Policy (VDP). Dua laporan awal yang ia kirimkan sempat ditolak. Namun, kegigihannya membuahkan hasil pada laporan ketiga yang diterima dan diverifikasi oleh NASA, yang kemudian mengirimkan surat apresiasi tertanggal 9 Juli 2026. “Alhamdulillah, senang,” kata Ibrahim saat ditemui di kediamannya.
Proses Belajar Otodidak
Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia keamanan siber bermula dari hobinya bermain gim. Didukung penuh oleh ayahnya, ia mulai belajar coding secara otodidak melalui YouTube dan kecerdasan buatan (AI) pada awal 2026. Dengan hanya bermodalkan mini PC bekas seharga Rp2 juta, ia mengasah kemampuannya hingga mampu menemukan celah keamanan di sistem NASA. “Saya membuka berita-berita orang yang berhasil mendapat celah keamanan sistem di NASA, hingga kemudian terinspirasi,” ungkap Ibrahim.
Ibrahim mengaku sempat kesulitan memahami materi, terutama karena usianya yang masih belia. Namun, dengan semangat pantang menyerah, ia terus belajar dari tutorial di YouTube dan materi dari komunitas daring. “Kadang-kadang belajar melalui tutorial YouTube maupun melalui AI. Saya juga pernah mencoba membuat game,” tambahnya.
Baca juga:Profil Ibrahim Al Abrar
Ibrahim Al Abrar lahir pada 25 Juli 2014 di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Aminudin Salas dan Hannisa Oktaviani. Sang ayah bekerja sebagai guru TKJ, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Meski tinggal di daerah pelosok, Ibrahim menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi di tingkat global.
Surat apresiasi dari NASA menjadi bukti nyata bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di bidang teknologi. Ibrahim kini bercita-cita menjadi seorang profesional keamanan siber (cybersecurity professional). “Ini bukan akhir perjalanan, melainkan langkah awal menuju cita-citanya menjadi seorang Cyber Security Professional,” demikian tertulis dalam unggahan akun Instagram @IbraCoding yang membagikan kisahnya.
Pencapaian Ibrahim mendapatkan perhatian luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kalangan komunitas keamanan siber global. Kisahnya menjadi inspirasi bagi anak-anak lain yang memiliki minat serupa, bahwa dengan rasa ingin tahu dan ketekunan, prestasi kelas dunia bisa diraih dari mana saja, termasuk dari desa di Boyolali.
Baca juga:












