Sorothari – 22 Juli 2026 | Rantai dipotong Prabowo, Pupuk Indonesia langsung bekerja maksimal. Pernyataan ini mencerminkan dampak dari dua kebijakan strategis yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026). Pertama, pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes) yang untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia menciptakan rantai pasok hingga ke desa. Kedua, konsolidasi 250 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menghasilkan penghematan hingga Rp 50 triliun. Langkah ini langsung dirasakan oleh BUMN seperti Pupuk Indonesia yang kini dapat beroperasi lebih efisien.
Presiden Prabowo menyatakan bahwa dengan adanya Kopdes, pemerintah memiliki kendali penuh atas rantai pasok barang pokok dari pusat hingga ke pelosok desa. “Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, pemerintah akan punya jalur, akan punya suatu pegangan rantai pasok, supply chain, retail chain, dari pusat sampai ke desa,” ujar Prabowo. Ia menegaskan bahwa sistem ini akan mencegah kelangkaan dan penimbunan barang, terutama saat momen kritis seperti Idul Fitri atau tahun baru. Setiap koperasi akan dilengkapi gudang, lemari pendingin, apotek dengan obat generik murah, serta dua truk operasional. Selain itu, hasil panen di desa dapat disimpan lebih lama dan distribusi telur serta komoditas lain dapat dipantau secara real-time.
Baca juga:Di sisi lain, efisiensi BUMN juga menjadi sorotan. Melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), sebanyak 250 dari total 1.077 entitas BUMN telah dikonsolidasi dalam 18 bulan terakhir. Prabowo melaporkan penghematan biaya rutin seperti gaji direksi, komisaris, sewa gedung, listrik, dan transportasi mencapai Rp 50 triliun. “Mereka laporan, dengan ditutupnya 250 BUMN overhead biaya rutin yang bisa diselamatkan adalah Rp 50 triliun,” ungkapnya. Kepala Negara memproyeksikan angka tersebut bisa meningkat menjadi Rp 70–80 triliun pada akhir 2026.
Dampak Langsung pada Pupuk Indonesia
Kebijakan pemotongan rantai pasok dan efisiensi BUMN ini memberikan dampak langsung pada PT Pupuk Indonesia (Persero). Sebagai BUMN yang bergerak di sektor pupuk, perusahaan kini dapat mengoptimalkan distribusi dan produksi. Dengan rantai pasok yang terintegrasi hingga ke desa melalui Kopdes, Pupuk Indonesia bisa memastikan pupuk bersubsidi sampai ke petani tepat waktu dan tepat sasaran. Selain itu, penghematan dari konsolidasi BUMN memungkinkan Pupuk Indonesia mengurangi biaya operasional dan meningkatkan efektivitas. “Rantai dipotong Prabowo, Pupuk Indonesia langsung bekerja maksimal,” menjadi gambaran nyata bagaimana kebijakan ini memperkuat ketahanan pangan nasional.
Prabowo juga menekankan bahwa Kopdes akan menyalurkan semua barang subsidi dengan pengawasan ketat. “Barang subsidi adalah milik rakyat, tidak boleh diperdagangkan,” tegasnya. Hal ini sejalan dengan upaya Pupuk Indonesia yang selama ini mendistribusikan pupuk bersubsidi. Dengan adanya gudang dan lemari pendingin di setiap koperasi, penyimpanan pupuk pun lebih optimal, mengurangi risiko kerusakan.
Baca juga:Langkah Strategis dan Proyeksi ke Depan
Konsolidasi BUMN terus berlanjut. Prabowo mengapresiasi kinerja Danantara yang berhasil memangkas 250 entitas dalam waktu singkat. “Dari 1.077 di akhir bulan ini di akhir 31 Juli mereka sudah menutup, mengonsolidasikan, mem-merger sehingga dari 1.077 berkurang 250 BUMN,” jelasnya. Penghematan yang diperkirakan mencapai Rp 80 triliun pada akhir 2026 akan dialokasikan untuk program prioritas, termasuk pembangunan infrastruktur dan subsidi pangan.
Sementara itu, ribuan Kopdes ditargetkan rampung tahun ini. Setiap koperasi akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti bengkel perbaikan alat pertanian (alsintan) dan kendaraan operasional. Dengan sistem rantai pasok yang terintegrasi, Prabowo yakin inflasi dapat dikendalikan dan kesejahteraan petani meningkat. “Satu desa kelebihan telur, di desa lain kurang, kita akan paham dan mengerti, dan kita akhirnya akan lebih baik dan lebih cepat untuk mengendalikan inflasi,” paparnya.
Bagi Pupuk Indonesia, langkah ini menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas. Rantai pasok yang efisien dan penghematan biaya BUMN memungkinkan perusahaan fokus pada inovasi dan distribusi. Dengan dukungan Kopdes, pupuk bersubsidi dapat menjangkau petani di seluruh pelosok, sekaligus mengurangi pungutan liar. Rantai dipotong Prabowo, Pupuk Indonesia langsung bekerja maksimal—sebuah sinergi yang diharapkan mampu mendorong swasembada pangan.
Baca juga:












