Sorothari – 22 Juli 2026 | Nilai tukar yen Jepang kembali anjlok ke level terendah dalam 39 tahun, menembus angka 163 terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (22/7) pagi di Tokyo. Pelemahan tajam ini memicu pernyataan resmi dari pemerintah Jepang yang menyatakan siap mengambil langkah yang diperlukan. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menegaskan bahwa pemerintah akan merespons dengan tepat apabila kondisi mengharuskannya, meskipun ia tidak merinci langkah konkret yang akan diambil. Pernyataan ini memicu kewaspadaan pelaku pasar terhadap kemungkinan intervensi pembelian yen untuk menopang mata uang Jepang.
Pada pukul 09.00 waktu setempat, dolar AS diperdagangkan di kisaran 163,18-20 yen, sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi penutupan di New York yang berada di 163,13-23 yen. Sehari sebelumnya di Tokyo, dolar ditutup pada level 162,59-60 yen. Penguatan dolar ini didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang mendorong investor global untuk memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven), sehingga menekan yen.
Baca juga:Pelemahan yen yang berkelanjutan menjadi perhatian serius pemerintah Jepang karena berdampak langsung pada kenaikan biaya impor, terutama energi dan bahan pangan, yang memberatkan rumah tangga di negara yang miskin sumber daya ini. Sebaliknya, nilai tukar yen yang lemah juga menguntungkan perusahaan-perusahaan berorientasi ekspor. Namun, dalam jangka panjang, volatilitas yang ekstrem dapat mengganggu stabilitas ekonomi.
Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara dalam konferensi pers rutin mengatakan, “Kami akan merespons dengan tepat jika diperlukan.” Ia menolak mengomentari secara spesifik pergerakan pasar valuta asing, tetapi menegaskan bahwa sikap pemerintah terhadap fluktuasi nilai tukar tidak berubah. Pasar kini meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi serupa yang pernah dilakukan sebelumnya untuk memperlambat pelemahan yen.
Baca juga:Sementara itu, sentimen positif juga terlihat di bursa saham Jepang. Indeks Nikkei 225 melonjak 1.091,27 poin (1,65 persen) menjadi 67.323,46 pada awal perdagangan, sementara indeks Topix naik 34,91 poin (0,87 persen) ke level 4.049,86. Saham-saham sektor logam nonferro, peralatan elektronik, serta produk kaca dan keramik menjadi pendorong utama kenaikan di pasar utama Bursa Efek Tokyo.
Pelemahan yen ini merupakan yang terendah sejak Desember 1986, menandai hampir empat dekade sejak terakhir kali mata uang Jepang berada di level tersebut. Data terbaru dari Kementerian Keuangan Jepang juga menunjukkan bahwa Jepang turun ke posisi ketiga dalam peringkat global kreditur bersih pada 2025, meskipun aset eksternal bersihnya mencapai rekor tertinggi. Hal ini mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi ekonomi Jepang di tengah fluktuasi nilai tukar.
Baca juga:Pemerintah Jepang sebelumnya telah melakukan intervensi di pasar valas pada beberapa kesempatan untuk menstabilkan yen. Namun, efektivitas intervensi jangka pendek masih menjadi perdebatan. Pelaku pasar kini menunggu langkah konkret selanjutnya, termasuk kemungkinan koordinasi dengan bank sentral atau negara-negara G7. Hingga saat ini, belum ada indikasi kapan intervensi akan dilakukan, namun pernyataan tegas dari pejabat tinggi menunjukkan keseriusan Tokyo dalam menjaga stabilitas mata uang.













