FIFA Mulai Inspeksi Venue Piala Dunia 2030 di Spanyol, Portugal, dan Maroko

FIFA Mulai Inspeksi Venue Piala Dunia 2030 di Spanyol, Portugal, dan Maroko
FIFA Mulai Inspeksi Venue Piala Dunia 2030 di Spanyol, Portugal, dan Maroko

Sorothari – 28 Oktober 2026 | FIFA + resmi memulai proses inspeksi ke sejumlah kota dan stadion kandidat tuan rumah Piala Dunia 2030 di Spanyol, Portugal, dan Maroko. Menurut laporan Reuters, inspeksi akan berlangsung pada November hingga Desember mendatang, dengan tim FIFA mendatangi langsung kota-kota kandidat untuk menilai kelayakan venue pertandingan. Langkah ini menjadi tahapan penting sebelum penetapan daftar final kota penyelenggara dan jadwal pertandingan.

Total ada 15 kota yang masuk dalam daftar kunjungan awal. Spanyol mengajukan tujuh kota, yakni Madrid, Barcelona, Sevilla, Bilbao, Las Palmas, San Sebastian, dan Zaragoza. Maroko mengusulkan enam kota, yaitu Agadir, Casablanca, Fez, Marrakesh, Rabat, dan Tanger. Sementara Portugal mengajukan dua kota, Lisboa dan Porto. FIFA menyatakan bahwa proses seleksi masih memungkinkan adanya kunjungan tambahan ke lokasi lain jika diperlukan.

Baca juga:
FIFA Jajaki Rencana Perluasan Peserta Piala Dunia 2030, dari 48 Tim Bertambah Jadi 64 Tim

Salah satu isu paling menarik adalah penentuan lokasi pertandingan final. Spanyol dan Maroko dikabarkan bersaing keras untuk menjadi tuan rumah laga puncak tersebut. Hingga saat ini, FIFA belum menetapkan venue final. Keputusan mengenai jumlah pertandingan yang dialokasikan ke setiap stadion serta jadwal turnamen juga akan ditentukan setelah daftar final kota penyelenggara disahkan.

Format Unik Piala Dunia 2030

Piala Dunia 2030 memiliki format yang berbeda dari edisi sebelumnya. Turnamen ini akan menjadi perayaan 100 tahun Piala Dunia. Tiga pertandingan pembuka akan digelar di Amerika Selatan, tepatnya di Uruguay, Argentina, dan Paraguay. Uruguay dipilih karena menjadi tuan rumah edisi pertama pada 1930. Setelah tiga laga pembuka itu, sisa pertandingan akan dipindahkan ke Spanyol, Portugal, dan Maroko, mengikuti pola yang mirip dengan Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Proses inspeksi ini menjadi perhatian besar di dunia sepak bola. FIFA + menekankan bahwa penilaian mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas stadion, infrastruktur pendukung, hingga kesiapan kota dalam menyambut event berskala global. Meski demikian, belum ada keterangan resmi mengenai kriteria penilaian secara rinci yang akan digunakan dalam inspeksi kali ini.

Dinamika Politik di Tubuh FIFA

Di sisi lain, FIFA juga tengah menghadapi dinamika internal yang tidak kalah panas. Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 27 Oktober mengumumkan akan menyerahkan kasus yang melibatkan Pangeran Ali bin Hussein dari Yordania kepada badan peradilan internal AFC. Langkah ini diambil setelah Ali mengkritik jalannya Kongres Luar Biasa AFC di Tokyo, Jepang, pada 23 Oktober lalu. Dalam kongres tersebut, Presiden AFC Sheikh Salman bin Ibrahim Al-Khalifa secara terbuka mendukung pencalonan kembali Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA.

Ali menilai kongres itu tidak demokratis karena peserta tidak diberi kesempatan untuk berbicara, mengajukan pertanyaan, atau berdiskusi dengan media. Ia menyebut hari terakhir kongres sebagai sandiwara politik. AFC membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tidak ada perwakilan Federasi Sepak Bola Yordania atau asosiasi anggota lain yang meminta izin untuk berbicara. AFC juga menolak segala tuduhan bahwa proses kongres berjalan tidak sesuai aturan.

Baca juga:
Rafael Márquez Pantau Atlante, Tiga Pemain Berpeluang ke Timnas Meksiko

“AFC memandang serius tuduhan tidak berdasar dan sama sekali tidak memiliki bukti tentang tindakan pemaksaan, ancaman, atau penyuapan. Tuduhan serius seperti itu harus dibuktikan dengan bukti yang dapat diandalkan dan tidak boleh diajukan tanpa dasar faktual yang memadai,” demikian pernyataan resmi AFC seperti dikutip dari laporan tersebut.

Ini bukan pertama kalinya Ali mengkritik Infantino. Pada Agustus lalu, ia menuduh Infantino melakukan pemerasan dan menyatakan bahwa FIFA menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah Yordania dengan imbalan dukungan suara. Tuduhan itu tidak pernah terbukti secara resmi. Hingga saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut dari FIFA mengenai perkembangan kasus tersebut.

Piala Dunia U-15 dan Sorotan dari Barbados

Selain Piala Dunia 2030, FIFA juga menjadi sorotan dalam ajang Piala Dunia U-15 yang sedang berlangsung di Azerbaijan. Pelatih tim Barbados, Stefan King, menyebut pengalaman bertanding di turnamen itu sebagai momen yang membuka mata. Barbados untuk pertama kalinya tampil di Piala Dunia FIFA, dan King menilai level kompetisi yang dihadapi timnya jauh di atas standar yang biasa mereka temui.

Barbados memulai turnamen dengan kekalahan 2-1 dari Kuwait, lalu dihantam Tajikistan 7-0, Spanyol 7-0, dan Chile 8-0. Meski hasilnya buruk, King tetap melihat sisi positif. Ia menyoroti format pertandingan 8 lawan 8 yang digunakan dalam turnamen ini, yang menurutnya memperlihatkan celah teknis para pemain Barbados. “Kami telah memainkan tim peringkat satu dunia (Spanyol) dan peringkat 50 dunia (Chile), dan tim lain juga menunjukkan kualitas mereka. Format lapangan kecil dengan gawang besar membuat skor bisa sangat tinggi,” ujarnya kepada Barbados Today.

King menekankan pentingnya peningkatan kemampuan teknis pemain Barbados. Menurutnya, kecepatan bermain dan kecepatan berpikir harus ditingkatkan. Ia juga menyoroti fisik pemain lawan yang rata-rata mendekati 180 cm meski masih berusia di bawah 15 tahun. Barbados sebenarnya sempat unggul lebih dulu saat melawan Chinese Taipei berkat gol Jurmelzio Forster pada menit keempat, tetapi blunder kiper Jehudi Finisie membuat mereka kalah 1-2. Kini Barbados akan menghadapi Grenada di babak 32 besar Tier F pada Rabu mendatang.

Baca juga:
Kanada Hajar Peru 2-0, Mano Menezes Akui Timnya Kesulitan

Sementara itu, tim Suriname juga belum meraih poin di Piala Dunia U-15. Pelatih Orfeo Brondenstein mengakui ada kemajuan dalam permainan timnya meski selalu kalah. Ia menyoroti kurangnya persiapan, terutama bagi kiper yang hanya mendapat latihan khusus sekali seminggu. Suriname akan menghadapi Malta pada laga berikutnya. Brondenstein berharap federasi sepak bola Suriname (SVB) melakukan pembenahan, termasuk menghadirkan pelatih kiper dan pendampingan mental bagi para pemain muda.

Dari inspeksi venue Piala Dunia 2030 hingga dinamika politik di AFC dan ajang U-15, FIFA + terus menjadi pusat perhatian dunia sepak bola. Keputusan mengenai venue final Piala Dunia 2030 dan daftar kota penyelenggara final akan menjadi perkembangan penting berikutnya yang dinantikan banyak pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *