Berita  

Beranggotakan 32 Negara, Jenderal NATO Akui Barat Kesulitan Mengimbangi Rusia

Beranggotakan 32 Negara, Jenderal NATO Akui Barat Kesulitan Mengimbangi Rusia
Beranggotakan 32 Negara, Jenderal NATO Akui Barat Kesulitan Mengimbangi Rusia

Sorothari – 29 Juli 2026 | Beranggotakan 32 negara, jenderal NATO mengakui Barat kesulitan mengimbangi Rusia dalam perlombaan persenjataan modern. Pernyataan itu disampaikan Supreme Allied Commander Transformation NATO, Laksamana Pierre Vandier, dalam wawancara dengan Fox News usai KTT NATO di Ankara, Turki, beberapa waktu lalu. Vandier menegaskan bahwa keunggulan produksi persenjataan kini tidak lagi berada di pihak Barat.

“Hari ini, hitung-hitungan matematis tidak berpihak kepada Barat,” kata Vandier. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa NATO melihat perang Rusia-Ukraina bukan sekadar konflik regional, melainkan laboratorium yang mengubah cara perang modern. Ribuan drone murah, rudal jelajah, dan rudal balistik yang diluncurkan Rusia secara berulang telah menguji batas kemampuan sistem pertahanan udara Barat yang selama ini dibangun untuk menghadapi jumlah ancaman yang jauh lebih sedikit.

Baca juga:
Eropa dan Inggris Desak Israel Hentikan Penahanan Warga Palestina Tanpa Dakwaan, Lebih dari 9.000 Orang Masih Dipenjara

Dalam KTT tersebut, NATO berkomitmen membeli sekitar 900 rudal Patriot dan mengalokasikan lebih dari 40 miliar dolar AS selama lima tahun untuk memperkuat kemampuan menghadapi serangan drone. Namun, menurut Vandier, langkah itu belum cukup. Persoalan terbesar justru terletak pada model industri pertahanan Barat yang tidak mampu memproduksi senjata dalam jumlah besar dengan biaya efisien. “Tidak mungkin memproduksi 50.000 rudal Patriot dalam setahun. Kita tidak memiliki rantai pasok yang mendukungnya, dan secara ekonomi itu tidak masuk akal,” ujarnya.

Vandier menilai NATO harus meninggalkan paradigma lama yang mengandalkan rudal pencegat berharga jutaan dolar untuk menghancurkan drone yang nilainya hanya puluhan ribu dolar. Ia mengusulkan pendekatan pertahanan berlapis: drone, amunisi berkeliaran, dan sasaran murah lainnya harus dihadapi menggunakan senjata berbiaya rendah yang dapat diproduksi secara massal. Sementara rudal Patriot dan sistem THAAD tetap difokuskan untuk menghadapi ancaman strategis seperti rudal balistik. “Anda memerlukan senjata murah yang dapat diproduksi massal untuk menghancurkan senjata murah yang datang dalam gelombang besar. Senjata canggih tetap diperlukan, tetapi hanya untuk menghadapi ancaman yang benar-benar kompleks seperti rudal balistik,” kata Vandier.

Baca juga:
Ribuan Warga Desak PM Baru Inggris Andy Burnham Setop Agresi Israel di Gaza

Pengakuan ini menunjukkan bahwa NATO menghadapi tantangan serius dalam menyesuaikan diri dengan realitas perang modern. Industri pertahanan Barat, yang selama ini dirancang untuk perang berintensitas rendah, kini harus beradaptasi dengan kebutuhan produksi massal senjata murah. Vandier menekankan perlunya perubahan fundamental dalam rantai pasok dan model produksi agar Barat dapat mengimbangi Rusia yang lebih cepat beradaptasi di medan perang.

Baca juga:
Israel Serang Acara Pemakaman Warga Palestina di Gaza, Delapan Tewas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *