Kontroversi Ballon d’Or 2026: Kemenangan Harry Kane dan Suara Terbelah Spanyol

Kontroversi Ballon d'Or 2026: Kemenangan Harry Kane dan Suara Terbelah Spanyol
Kontroversi Ballon d'Or 2026: Kemenangan Harry Kane dan Suara Terbelah Spanyol

Sorothari – 28 Oktober 2026 | Kemenangan Harry Kane dalam ajang ballon d’Or 2026 masih menyisakan perdebatan. Pemimpin redaksi France Football, Vincent Garcia, menilai Rodri menjadi salah satu faktor yang membuat Lamine Yamal gagal bersaing memperebutkan trofi bergengsi tersebut. Dalam seremoni di London, Senin (26/10), Kane keluar sebagai pemenang setelah mengungguli Kylian Mbappe dan Lamine Yamal yang masing-masing finis di peringkat kedua dan ketiga.

Rodri, peraih ballon d’Or dua tahun lalu, harus puas berada di posisi keempat. Menurut Garcia, keberadaan Rodri dan Yamal sebagai dua pemain vital Spanyol saat menjuarai Piala Dunia 2026 membuat suara pemilih terpecah. “Saya sepenuhnya percaya bahwa tim Spanyol yang juara Piala Dunia, terjadi perpecahan dalam pemungutan suara di antara Rodri dan Lamine Yamal. Saya kira Rodri merebut suara dari Lamine di pemungutan suara ini,” ujar Garcia seperti dilansir SPORT.

Baca juga:
LA Galaxy vs Portland Timbers: Kemenangan 2-0 Galaxy dan Duel Sengit di MLS 2026

Meski gagal meraih ballon d’Or, Yamal tidak pulang dengan tangan kosong. Pesepakbola berusia 19 tahun itu untuk ketiga kalinya secara beruntun meraih Kopa Trophy, penghargaan untuk pemain muda terbaik. Garcia menambahkan bahwa sulit untuk memilih satu penampilan individu tertentu dari tim Spanyol yang tampil kolektif. “Ada sedikit suara yang terpecah-pecah di antara pemain-pemain Spanyol, dan terutama tim Spanyol juga merupakan sebuah tim kolektif. Jadi sungguh sulit untuk benar-benar memilih satu penampilan individu tertentu,” tutupnya.

Kane sendiri menjalani musim yang luar biasa bersama Bayern Munich dan Timnas Inggris. Ia mengakhiri musim 2025/2026 dengan torehan 73 gol dalam 65 pertandingan. Namun, kemenangan tersebut tidak diterima semua pihak. Legenda Real Madrid, Guti Hernandez, mempertanyakan keputusan panitia yang memindahkan malam gala dari Paris ke London. Menurutnya, Mbappe atau Yamal lebih pantas meraih Si Bola Emas. “Sungguh kebetulan bahwa mereka membawa ballon d’Or edisi ke-70 ke London dan seseorang dari London memenangkannya. Kebetulan sekali, bukan? Ini kebetulan yang luar biasa,” kata Guti dilansir AS Diario.

Guti bahkan menyebut kemenangan Kane sebagai sesuatu yang telah diatur. “Saya rasa itu sangat disengaja. Itulah yang saya pikirkan, dan itulah yang sudah lama saya pikirkan tentang penghargaan ini. Ketika saya melihat ekspresi wajahnya saat mereka mengumumkan Harry Kane, dia tidak pernah berpikir akan memenangkannya. Saya rasa dia berharap Lamine Yamal dan Mbappe finis di atasnya. Anda hanya perlu melihat wajahnya,” ujarnya.

Baca juga:
Maximo Quiles Kunci Gelar Juara Dunia Moto3 2026 Usai Kemenangan di Mandalika

Kontroversi juga datang dari kapten Barcelona, Raphinha. Ia menyukai sebuah video TikTok yang mempertanyakan konsistensi kriteria pemilihan pemenang ballon d’Or. Video yang diunggah kreator konten Dani Quintana itu menyoroti kemenangan Kane dan membandingkannya dengan musim gemilang Raphinha bersama Barcelona setahun sebelumnya. Pada ballon d’Or 2025, Raphinha hanya menempati peringkat kelima meski berperan penting dalam keberhasilan Barcelona meraih tiga gelar domestik di bawah asuhan Hansi Flick. Sementara itu, Kane meraih ballon d’Or 2026 berkat performa impresifnya bersama Bayern Munchen dengan mencatatkan 73 gol dan delapan assist dalam 65 penampilan.

Di sisi lain, mantan gelandang Jerman Toni Kroos memiliki pandangan berbeda. Dalam podcast Einfach mal Luppen, ia menyebut Khvicha Kvaratskhelia sebagai kandidat yang sangat menarik jika melihat performa di level klub. “Tidak ada yang memenangkan segalanya. Apalagi pada tahun Piala Dunia, situasinya lebih khusus. Piala Dunia mendapat bobot besar. Kalau hanya melihat musimnya, saya akan menganggap Kvaratskhelia sebagai kandidat yang sangat menarik,” kata Kroos. Ia menambahkan, “Di mata saya, dia adalah pemain terbaik di tim terbaik Eropa.”

Kvaratskhelia berperan penting dalam perjalanan PSG menjuarai Liga Champions musim lalu. Dalam 16 penampilan, ia mencatatkan 17 kontribusi gol (sepuluh gol, tujuh assist). Namun, pemain asal Georgia itu gagal lolos ke Piala Dunia bersama negaranya. Kroos menilai fakta bahwa Kvaratskhelia tetap finis di posisi keenam ballon d’Or 2026 merupakan tanda bahwa tanpa Piala Dunia, peluangnya sangat besar. “Sebab, semua pemain yang berada di atasnya memberi dampak besar di Piala Dunia,” ujarnya. Kroos menduga Mbappe tidak akan masuk lima besar tanpa penampilan di Piala Dunia, begitu pula Lamine Yamal.

Baca juga:
Kemenangan Semifinal Toluca vs León Buka Jalan Los Diablos Menuju Sejarah Leagues Cup 2026

Sementara itu, persaingan menuju ballon d’Or 2027 sudah mulai terlihat. Tanpa turnamen internasional besar, penampilan di Liga Champions diprediksi menjadi penentu. Ousmane Dembele, yang memenangi ballon d’Or 2025, bertekad menambah koleksi setelah mencatatkan empat gol dan enam assist pada awal musim 2026-27 serta menjuarai Piala Super UEFA. Lamine Yamal dan Kylian Mbappe disebut-sebut mengambil langkah awal untuk menggusur Harry Kane. Hingga saat ini, belum ada pemain yang kembali memenangi penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepakbola tersebut sejak 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *