Sorothari – 31 Oktober 2026 | Klub Boyacá Chicó resmi menyandang status tim terdegradasi ke divisi kedua sepak bola Kolombia setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Junior de Barranquilla di Estadio La Independencia, Tunja. Hasil tersebut menjadi pukulan telak bagi klub yang baru promosi pada musim 2023 itu, sekaligus menandai turunnya mereka untuk keempat kalinya ke kasta kedua. Kekecewaan menyelimuti skuad dan manajemen, terlebih karena performa tim sepanjang musim tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan berarti.
Pelatih kepala Boyacá Chicó, Jaime ‘La Flecha’ Gómez, secara terbuka mengungkapkan kesedihannya atas nasib tim. Dalam wawancara dengan El VBar de AS Colombia, ia menyatakan bahwa degradasi ini meninggalkan luka mendalam bagi seluruh elemen klub. “Ini adalah hal yang membuat saya sangat sedih, melihat tim tidak mampu bertahan atau setidaknya membangun kekuatan yang cukup untuk bersaing di turnamen. Itu sungguh membuat saya merasa tidak berdaya,” ujar Gómez, seperti dikutip dari Caracol Radio.
Baca juga:Lebih lanjut, Gómez menyoroti persoalan mendasar yang dihadapi Boyacá Chicó, yakni hubungan yang tidak harmonis dengan pemerintah daerah. Menurutnya, ada jarak atau “ruptura” antara pihak klub dan entitas pemerintah yang seharusnya mendukung keberadaan tim di Tunja dan Boyacá. “Ada ruptura antara pihak-pihak terkait. Kami tidak mendapatkan dukungan penuh, baik dari kota Tunja maupun departemen,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi cermin bahwa persoalan finansial dan dukungan struktural menjadi akar dari keterpurukan tim.
Gómez juga mengakui bahwa klub sebenarnya memiliki niat untuk mendatangkan pemain-pemain berkualitas guna memperkuat skuad. Namun, keterbatasan ekonomi membuat rencana tersebut tidak terealisasi dengan optimal. “Kami selalu berusaha merekrut pemain sesuai kemampuan. Kadang pemain yang kami datangkan tidak tampil sesuai harapan, dan itulah yang menyebabkan kampanye buruk. Jika kami salah memilih, hasilnya terlihat di lapangan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sepak bola Kolombia sangat kompetitif, sehingga tim harus dibangun dengan standar kualitas yang sesuai tuntutan turnamen.
Meski terpuruk, Gómez tetap optimistis menyongsong musim di divisi kedua. Ia mengingatkan bahwa Boyacá Chicó memiliki rekam jejak mampu bangkit setelah terdegradasi. “Kami pernah turun lalu langsung promosi kembali. Kami beruntung pernah merekrut pemain yang memberi kontribusi besar saat itu. Tapi bukan berarti kali ini kami bisa dengan mudah mengulanginya. Kami tahu Torneo B sangat berat, kami paham pemain seperti apa yang dibutuhkan, dan kami akan berusaha tidak salah langkah,” paparnya.
Baca juga:Di sisi lain, kekuatan finansial menjadi momok yang tak terhindarkan. Gómez menegaskan bahwa klub hanya bisa merekrut pemain sesuai kemampuan anggaran. “Kami merekrut dengan apa yang ada, pemain yang bisa membantu, tapi kadang performa tidak sesuai ekspektasi. Itulah sebabnya ada kampanye buruk. Apakah kami salah atau tidak, itu ditentukan oleh hasil di lapangan,” tambahnya. Pernyataan ini sekaligus menyiratkan bahwa tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan pemangku kepentingan, Boyacá Chicó akan tetap kesulitan bersaing di level tertinggi.
Terdegradasinya Boyacá Chicó menambah panjang daftar klub yang harus berjuang di divisi kedua. Bagi publik sepak bola Kolombia, khususnya di Tunja, situasi ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan sebuah klub tidak hanya ditentukan oleh performa di lapangan, tetapi juga oleh sinergi antara manajemen, pemerintah daerah, dan dukungan suporter. Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait pernyataan Gómez. Namun, pernyataan pelatih berusia 66 tahun itu setidaknya membuka tabir persoalan yang selama ini mungkin tidak terlihat oleh publik.
Ke depan, Boyacá Chicó dihadapkan pada tugas berat untuk membangun kembali tim yang kompetitif di Torneo B. Manajemen klub dituntut cermat dalam memilih pemain dan mengelola sumber daya yang terbatas. Sementara itu, suporter berharap agar hubungan dengan pemerintah daerah dapat segera diperbaiki demi masa depan klub. Dengan sejarah panjang yang dimiliki, termasuk empat kali turun ke kasta kedua, Boyacá Chicó tentu berambisi untuk kembali ke tempat yang semestinya. Namun, tanpa dukungan semua pihak, jalan menuju promosi akan terasa semakin terjal.
Baca juga:











