Berita  

28 Oktober Memperingati Hari Apa? Sejarah Sumpah Pemuda dan Dinamika Peringatannya

28 Oktober Memperingati Hari Apa? Sejarah Sumpah Pemuda dan Dinamika Peringatannya
28 Oktober Memperingati Hari Apa? Sejarah Sumpah Pemuda dan Dinamika Peringatannya

Sorothari – 31 Oktober 2026 | Pertanyaan “28 Oktober memperingati hari apa” kerap muncul menjelang akhir bulan Oktober. Tanggal tersebut merupakan Hari Sumpah Pemuda (HSP), momen bersejarah yang menjadi salah satu tonggak persatuan bangsa Indonesia. Peringatan ini merujuk pada peristiwa Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928, ketika para pemuda dari berbagai daerah mengikrarkan tekad untuk bersatu di bawah satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia.

Sejarah mencatat, gagasan penyelenggaraan kongres berawal dari pertemuan para pemuda pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928. Dalam pertemuan itu dibahas persiapan kongres, mulai dari pembentukan panitia, penyusunan agenda, penentuan waktu dan tempat, hingga penganggaran biaya. Kongres kemudian digelar di tiga lokasi berbeda di Jakarta, yakni Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw yang berada di Rumah Indekos, Kramat No. 106.

Baca juga:
Sumpah Pemuda 2026: Tema Patriotik hingga Kolaborasi PLN dan Astra

Rapat pertama berlangsung pada malam 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, dibuka dengan sambutan Sugondo Djojopuspito. Dalam kesempatan itu, Mohammad Yamin menyampaikan gagasan mengenai lima aspek yang dapat memperkokoh persatuan bangsa Indonesia, yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Rapat kedua digelar pada pagi hari 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop dengan pembahasan utama soal pendidikan. Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menekankan pentingnya pendidikan yang menanamkan semangat kebangsaan, keseimbangan antara pendidikan sekolah dan keluarga, serta penerapan pendidikan yang demokratis.

Rapat ketiga diadakan pada sore hari di Gedung Indonesische Clubgebouw. Pertemuan ini membahas pentingnya nasionalisme, demokrasi, dan gerakan kepanduan. Para pembicara menegaskan bahwa kegiatan kepanduan yang diperkenalkan sejak usia dini dapat membentuk karakter anak agar disiplin dan mandiri. Sebelum keputusan kongres dibacakan, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya dengan biola. Setelah itu, Sugondo Djojopuspito membacakan ikrar Sumpah Pemuda yang diikuti seluruh peserta.

Peristiwa itu tidak lepas dari peran organisasi pemuda yang telah tumbuh di berbagai daerah, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Jong Islamieten Bond. Organisasi-organisasi tersebut menjadi ruang bagi para pemuda untuk berdiskusi dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya persatuan. Kongres Pemuda II sendiri digagas oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Hingga kini, 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Peringatan tersebut bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat akan nilai persatuan dan kesatuan yang tetap relevan bagi generasi muda. Berbagai kegiatan, mulai dari upacara, seminar, hingga aksi sosial, kerap digelar untuk memaknai hari bersejarah ini.

Baca juga:
Hari Sumpah Pemuda Apakah Libur? Ini Ketentuan Resmi dan Fakta Sejarahnya

Pada peringatan 28 Oktober 2026, sejumlah dinamika turut mewarnai. Aksi demonstrasi mahasiswa dan pemuda yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda diwarnai penggunaan simbol tiga jari. Gestur tersebut ramai dibagikan di media sosial dan dimaknai sebagai bahasa visual untuk menyampaikan pesan solidaritas, kebebasan, perlawanan, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Simbol tiga jari atau three-finger salute memang tidak memiliki satu makna universal. Dalam konteks gerakan sosial, gestur ini sering digunakan untuk menyuarakan aspirasi politik sekaligus menunjukkan solidaritas antarpeserta aksi.

Popularitas simbol tersebut juga terkait dengan budaya populer, terutama seri novel dan film The Hunger Games karya Suzanne Collins. Dalam cerita distopia itu, masyarakat hidup di bawah pemerintahan Capitol yang otoriter, sehingga memunculkan gerakan perlawanan. Gestur serupa pernah digunakan dalam aksi pro-demokrasi di Thailand pada 2020 dan Hong Kong pada 2019. Dalam konteks demonstrasi yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, simbol tiga jari dipahami sebagai ekspresi sikap dan aspirasi yang disampaikan melalui aksi langsung maupun unggahan di media sosial.

Selain itu, peringatan 28 Oktober 2026 juga diwarnai isu lain. Sebanyak 33 negara mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan, air minum, dan perlengkapan darurat untuk menghadapi kemungkinan krisis, mulai dari perang, cuaca ekstrem, bencana alam, hingga serangan siber. Imbauan tersebut mencakup persiapan kebutuhan pokok untuk bertahan selama 72 jam atau tiga hari, sementara beberapa negara meminta warga bersiap menghadapi keadaan darurat yang lebih lama. Perancis dan Inggris termasuk negara yang kembali mengingatkan pentingnya persediaan darurat. Pemerintah wilayah Normandia, Perancis, bahkan menerbitkan imbauan melalui media sosial pada Selasa (27/10/2026) dengan pesan agar masyarakat tidak menunggu keadaan darurat terjadi dan segera bersiap.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk periode 30 Oktober 2026. Aceh dan Sumatera Utara berstatus Siaga hujan lebat hingga sangat lebat, sedangkan DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan sejumlah provinsi lain masuk kategori Waspada hujan sedang hingga lebat. BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di Aceh dan Sumatera Utara dalam periode 30 Oktober–1 November 2026. Masyarakat diimbau tetap waspada dan memantau perkembangan informasi cuaca terbaru.

Baca juga:
Demo Hari Ini Jakarta: 61 Titik Aksi, Mahasiswa Trisakti Desak Supremasi Sipil

Dengan demikian, 28 Oktober memperingati hari apa bukan hanya soal sejarah. Hari Sumpah Pemuda menjadi refleksi atas semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928, sekaligus konteks bagi berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Peringatan tahun ini menunjukkan bahwa nilai persatuan dan solidaritas tetap relevan, bahkan ketika diwarnai dinamika sosial dan isu global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *