Sorothari – 21 Juli 2026 | Misteri hilangnya Femas Yani Arianto, pemuda asal Madiun, saat mengikuti open trip ke Korea Selatan masih belum terungkap. Ia terakhir terlihat pada malam hari saat meminta izin kepada pemandu rombongan untuk membeli sepatu di kawasan Myeongdong, Seoul, dan tak pernah kembali. Kasus ini menyeret sejumlah pihak, mulai dari agen perjalanan hingga ibunda Femas yang mengaku tak tahu anaknya pergi ke luar negeri.
Femas, 22 tahun, warga Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, bergabung dalam tur yang diselenggarakan oleh Berani Backpacker pada akhir Juni 2026. Perjalanan awalnya berlangsung normal, namun pada hari keenam, saat rombongan beristirahat di Myeongdong, Femas pamit seorang diri. Ia beralasan ingin membeli sepatu. Tak ada yang curiga hingga waktu berlalu dan ia tak kunjung kembali.
Baca juga:CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani, mengungkapkan bahwa sejak awal perjalanan, Femas menunjukkan gelagat janggal. Ia beberapa kali menghindari kamera saat sesi foto bersama rombongan. Selain itu, ia diketahui membeli paket roaming 30 hari sebelum keberangkatan, sesuatu yang tak lazim bagi peserta tur biasa. “Ada indikasi ia telah merencanakan ini sejak lama,” kata Dhani, sapaan akrab Fariz, kepada media.
Dugaan Kabur untuk Bekerja
Informasi dari warga negara Indonesia (WNI) di Korea Selatan menyebutkan bahwa Femas diduga menyalahgunakan visa wisata untuk mencari pekerjaan. Sebuah unggahan di media sosial Thread oleh akun @sarjanabackpacker menampilkan percakapan yang menyebutkan Femas memiliki visa E9, yakni visa kerja untuk sektor manufaktur, konstruksi, perikanan, dan jasa. Dalam percakapan itu, Femas disebut memberikan keterangan berubah-ubah; awalnya mengaku kabur dari tempat kerja di sektor perikanan, lalu berubah menjadi kabur dari travel.
Fariz membenarkan bahwa dirinya menerima banyak laporan dari WNI yang tinggal di Korea. Salah satu laporan menyebutkan Femas sempat terlihat di Masjid Ansan, sebuah tempat ibadah yang kerap menjadi titik kumpul pekerja migran Indonesia. “Info dari WNI di sana, mereka sempat komunikasi dengan KBRI. Katanya, dari Immigration Office, mereka tidak bisa melakukan penggerebekan di dalam tempat ibadah. Femas baru bisa ditangkap saat keluar dari masjid,” jelas Dhani. Namun, kabar terbaru menyebutkan Femas sudah tidak berada di masjid itu, meski masih diduga berada di sekitar wilayah Ansan.
Baca juga:Ibunda Syok dan Diminta Ganti Rugi
Di tengah pencarian, ibunda Femas, MT, mengaku tak pernah mengetahui bahwa anaknya pergi ke Korea Selatan. Menurutnya, Femas hanya pamit hendak ke Surabaya sebelum akhirnya kabar hilangnya ia terima dari anak bungsunya yang melihat pemberitaan di ponsel. “Tidak tahu kalau ke Korea, tahunya dia pamit mau ke Surabaya,” ujar MT saat ditemui di kediamannya di Wungu, Madiun.
Kondisi MT semakin terpukul setelah pihak Berani Backpacker meminta ganti rugi sebesar Rp50 juta. Agensi menilai tindakan Femas merugikan travel dan berpotensi mempengaruhi pengajuan visa rombongan berikutnya. Fariz menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Seoul, polisi Korea Selatan, dan keluarga Femas. Ia juga menawarkan tiket pulang gratis jika Femas mau kembali.
Upaya Pencarian dan Evaluasi
Hingga Senin (20/7/2026), Femas telah dinyatakan overstay di Korea Selatan. Kasus ini menjadi perhatian publik dan mendorong Berani Backpacker untuk memperketat seleksi calon peserta tur. Dhani menyatakan bahwa perusahaan akan memperkuat sistem skrining dan pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang.
Baca juga:Belum ada konfirmasi resmi dari Femas atau pihak berwenang mengenai motif sebenarnya. Kabar terbaru menyebutkan sejumlah WNI di Korea masih terus mencari informasi keberadaannya. Pihak travel pun menggelar sayembara dengan hadiah liburan gratis bagi siapa pun yang memberikan informasi akurat tentang Femas.
Kisah misteri hilangnya Femas pria Madiun saat tur di Korsel, terakhir malam-malam izin beli sepatu, masih menyisakan tanda tanya. Apakah ia benar-benar kabur untuk bekerja, atau ada hal lain di balik kepergiannya? Semua masih menunggu kepastian dari pihak berwenang.













