Sorothari – 15 Juli 2026 | Deretan fakta kasus bocah di Rancabungur Bogor jadi korban kekerasan ayahnya, pelaku ungkap alibi mulai terungkap setelah bocah perempuan berinisial AT (10) dilarikan ke RSUD Kota Bogor dengan kondisi tulang hidung patah dan pendarahan. Peristiwa ini mengguncang warga Rancabungur, Kabupaten Bogor, dan memicu penyelidikan oleh pihak kepolisian.
AT dilaporkan masuk ke RSUD Kota Bogor pada Selasa (14/7/2026) siang. Sebelum dirawat di ruang rawat inap, ia mendapat penanganan intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Staf Humas RSUD Kota Bogor, Petrik, membenarkan bahwa pasien cilik tersebut mengalami patah tulang hidung. “Berdasarkan hasil pemeriksaan, bocah itu tulang hidungnya patah dan mengalami pendarahan. Dan harus dirawat,” kata Petrik kepada wartawan di lokasi.
Keluarga korban tampak setia menunggui AT selama perawatan. Dari informasi yang dihimpun, ayah AT yang diduga sebagai pelaku kekerasan juga berada di rumah sakit. Kehadiran ayah korban menimbulkan berbagai spekulasi, namun pihak rumah sakit belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai motif atau kronologi kekerasan.
Pihak kepolisian dari Polsek Rancabungur telah turun tangan menyelidiki kasus ini. Belum ada pernyataan resmi dari aparat, namun beredar informasi bahwa ayah korban telah memberikan keterangan terkait insiden tersebut. “Pelaku mengungkapkan alibi tertentu, namun kami masih mendalaminya. Belum bisa dipastikan kebenarannya,” ujar sumber di kepolisian yang enggan disebut namanya.
Kondisi AT kini berangsur stabil meski masih dalam perawatan intensif. Dokter RSUD Kota Bogor terus melakukan penanganan maksimal untuk memulihkan kondisi fisiknya. Selain patah tulang hidung, korban juga mengalami trauma psikologis yang membutuhkan pendampingan.
Kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga kembali menjadi sorotan. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kekerasan fisik masih mendominasi kasus yang dilaporkan setiap tahunnya. Bogor sendiri termasuk daerah dengan angka kekerasan anak yang cukup tinggi, meski sebagian besar kasus tidak terlaporkan.
Warga Rancabungur berharap kasus ini diusut tuntas dan pelaku dihukum sesuai peraturan perundang-undangan. Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bogor juga dikabarkan akan memberikan pendampingan terhadap AT dan keluarganya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai alibi yang disampaikan ayah AT. Polisi masih mengumpulkan barang bukti dan keterangan saksi-saksi di lokasi kejadian. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan, terutama yang dilakukan oleh orang terdekat.
Pemerhati anak mendesak agar proses hukum berjalan transparan dan memberikan efek jera. Mereka juga menekankan perlunya edukasi pengasuhan tanpa kekerasan kepada masyarakat luas. Peristiwa di Rancabungur ini diharapkan mendorong semua pihak untuk lebih peduli terhadap kesejahteraan anak.
Tim dokter RSUD Kota Bogor optimistis AT dapat pulih total, meski proses penyembuhan fisik membutuhkan waktu beberapa minggu. Psikolog rumah sakit juga akan memberikan terapi trauma untuk membantu korban mengatasi rasa takut dan cemas. Keluarga besar AT terus berharap agar keadilan dapat ditegakkan.
Perkembangan kasus ini akan terus dipantau. Masyarakat diimbau untuk segera melapor jika melihat atau mengalami kekerasan terhadap anak demi mencegah terulangnya kejadian serupa.

