Sorothari – 15 Juli 2026 | Ukraina menjadi negara pertama yang mendanai robot humanoid tempur melalui klaster pertahanan Brave1, namun pengalaman di garis depan menunjukkan robot beroda, rantai, dan berkaki empat masih menjadi andalan dalam operasi militer. Keputusan ini diumumkan oleh CEO Brave1, Andrii Hrytseniuk, yang menyebutkan bahwa langkah tersebut merupakan respons terhadap pesatnya perkembangan industri robot humanoid di Amerika Serikat dan Tiongkok.
Melalui skema pendanaan Brave1, Ukraina membuka peluang bagi pengembangan robot humanoid berkaki dua buatan dalam negeri yang dirancang khusus untuk misi militer. Meski demikian, program ini masih mempertimbangkan berbagai keterbatasan teknologi, seperti kemampuan membawa beban rendah, ketahanan terhadap air yang minim, waktu operasi mandiri singkat, serta kompleksitas teknis yang tinggi. Hingga saat ini, satu-satunya robot humanoid yang telah diuji dalam kondisi tempur nyata di Ukraina adalah Phantom MK-1.
Secara teoretis, robot humanoid memiliki keunggulan karena bentuk tubuhnya memungkinkan pengoperasian di lingkungan yang dirancang untuk manusia, seperti menaiki tangga, melewati lorong sempit, atau menggunakan peralatan yang tersedia. Namun, medan perang penuh lumpur, puing, kawah ledakan, dan gangguan elektronik membuat robot berkaki dua masih kesulitan bersaing dengan sistem robot darat yang lebih sederhana. Hingga pertengahan 2026, Angkatan Pertahanan Ukraina telah menerima 1.028 kompleks robotik darat senilai 487 juta hryvnia Ukraina (sekitar Rp198 miliar) melalui pasar pertahanan DOT-Chain Defense. Kementerian Pertahanan Ukraina juga telah mengesahkan 67 model baru robot darat pada paruh pertama 2026, dan tidak satu pun menggunakan desain berkaki dua.
Pendekatan Pengujian Bertahap
Metode yang diterapkan Brave1 sebelumnya telah berhasil pada drone FPV, robot darat, dan drone pencegat melalui proses eksperimen, pengujian, dan penerapan berdasarkan umpan balik dari medan perang. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Ukraina mengutamakan pengujian bertahap sebelum mengadopsi teknologi secara massal. Meskipun robot humanoid belum siap menggantikan robot beroda, langkah pendanaan ini menandai preseden baru dalam pengadaan pertahanan global.
Penguatan Pertahanan Udara dengan SAMP/T NG
Di sisi lain, Ukraina juga memperkuat pertahanan udaranya dengan menjadi negara pertama yang menerima sistem pertahanan udara anti-balistik SAMP/T NG buatan Prancis-Italia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan pengiriman sistem tersebut setelah pembicaraan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Selain SAMP/T NG generasi terbaru, Prancis juga akan mengirimkan dua baterai sistem SAMP/T generasi sebelumnya pada tahun ini.
Zelenskyy menyatakan bahwa sistem SAMP/T NG sangat efektif untuk pertahanan anti-balistik. Prancis dan Italia juga akan mempercepat pengiriman rudal permukaan-ke-udara Aster 30 pada Oktober 2026. Tak hanya itu, Ukraina akan memperoleh lisensi untuk memproduksi rudal jelajah SCALP (Storm Shadow), bom udara berpemandu AASM, dan bersama Italia memproduksi rudal Aster 30. Prancis juga akan bekerja sama dengan Ukraina dalam program pertahanan anti-balistik Eropa FREYJA. Di sektor kekuatan udara, kedua negara telah menyepakati pembelian 16 jet tempur Rafale beserta paket persenjataannya, dengan pelatihan pilot dimulai tahun ini.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen Ukraina untuk terus meningkatkan kemampuan militernya, baik melalui inovasi robotika maupun pengadaan sistem pertahanan modern. Meskipun robot humanoid masih dalam tahap awal pengembangan, Ukraina tetap mengandalkan robot beroda yang lebih terbukti di medan perang, sambil terus mengeksplorasi potensi teknologi baru untuk menghadapi tantangan di masa depan.

