Sorothari – 02 September 2026 | Fenomena langit langka bertajuk hampir blood moon memukau jutaan pengamat bintang di berbagai belahan dunia pada akhir Agustus 2026, ketika gerhana bulan sebagian menyelimuti lebih dari 96 persen permukaan Bulan dengan rona merah tembaga yang pekat. Peristiwa astronomi yang berlangsung selama 5 jam 38 menit tersebut mengubah piringan Bulan menjadi pemandangan visual yang memukau, menyerupai gerhana total meski secara teknis masih menyisakan sedikit tepi terang.
Gerhana tersebut mencapai titik puncaknya ketika bayangan inti Bumi atau umbra menutupi sekitar 96,2 hingga 96,3 persen piringan Bulan. Kondisi tersebut membuat pembiasan cahaya matahari melewati atmosfer Bumi memproyeksikan semburat oranye kemerahan ke permukaan satelit alami tersebut. Pemandangan semacam ini biasa dikenal luas oleh masyarakat dunia sebagai fenomena blood moon.
Baca juga:Cakupan Visibilitas Global
Wilayah benua Amerika menjadi lokasi terbaik untuk menyaksikan peristiwa kosmis ini. Pengamat di Amerika Utara dan Amerika Selatan, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Brasil, Argentina, Cile, hingga Peru, dapat menikmati fase gerhana dari awal hingga akhir karena posisi Bulan yang berada tinggi di langit selama peralihan malam 27 Agustus menuju dini hari 28 Agustus 2026.
Sebagian kawasan Eropa Barat dan Afrika Barat, seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Portugal, Maroko, serta Nigeria, turut memperoleh kesempatan menyaksikan fase parsial ini saat Bulan mulai terbenam di ufuk barat. Sebaliknya, kawasan Asia termasuk Thailand dan Indonesia, serta Australia dan Selandia Baru, tidak dapat mengamati peristiwa tersebut secara langsung lantaran terjadi pada waktu siang hari di belahan Bumi timur.
Rincian Peristiwa Gerhana Bulan Agustus 2026
| Parameter | Keterangan |
|---|---|
| Jenis Gerhana | Gerhana Bulan Sebagian (Mendekati Total) |
| Cakupan Umbra | 96,2% – 96,3% dari permukaan Bulan |
| Durasi Total | 5 Jam 38 Menit (termasuk fase penumbra) |
| Waktu Puncak | 04:13 UTC / 11:13 Waktu Thailand |
| Wilayah Terlihat Optimal | Amerika Utara, Amerika Selatan, sebagian Eropa Barat & Afrika Barat |
Dampak Pengamatan dan Respons Publik
Di Inggris, fase puncak gerhana yang berlangsung menjelang fajar memicu antusiasme besar, sekaligus memunculkan diskursus mengenai pola tidur masyarakat. Berdasarkan survei yang dilakukan Dreams, sekitar 48 persen responden melaporkan bahwa kualitas tidur mereka kerap terganggu selama periode fase bulan purnama, terlepas dari faktor begadang untuk menyaksikan fenomena langit tersebut.
Baca juga:Kondisi visual Bulan yang tampak lebih besar saat berada rendah di dekat cakrawala juga dipengaruhi oleh ilusi optik atmosfer yang dikenal sebagai Moon illusion, menambah dramatisasi penampakan rona merah blood moon bagi masyarakat yang memantau dari daratan Eropa Barat.
Prospek Gerhana Berikutnya pada Februari 2027
Bagi para pencinta astronomi yang menantikan peristiwa berikutnya, pergerakan orbit Bulan baru akan kembali memasuki bayangan Bumi pada 20 Februari 2027. Namun, karakteristik peristiwa mendatang akan sangat berbeda dari gerhana bulan Agustus 2026.
Pada Februari 2027, fenomena yang terjadi adalah gerhana bulan penumbra, di mana Bulan hanya melintasi bayangan luar Bumi yang redup. Peristiwa ini memiliki beberapa karakteristik utama:
Baca juga:- Bulan tidak akan masuk ke dalam bayangan umbra Bumi, sehingga tidak memunculkan efek rona merah pekat layaknya blood moon.
- Perubahan visual hanya berupa peredupan samar pada piringan Bulan purnama, khususnya di sekitar wilayah kutub utara Bulan.
- Puncak gerhana penumbra diperkirakan berlangsung sekitar pukul 18:12 EST atau 23:12 GMT.
Para astronom menjelaskan bahwa efek warna tembaga khas blood moon hanya dapat terwujud apabila Bulan melintasi bayangan umbra yang lebih dalam, tempat atmosfer Bumi menyaring dan membiaskan cahaya spektrum merah ke permukaan Bulan. Tanpa keterlibatan bayangan umbra tersebut, peristiwa gerhana pada awal 2027 mendatang dipastikan akan tampak jauh lebih samar dan membutuhkan pengamatan yang lebih cermat.













