Berita  

Buntut Kasus Keracunan MBG Sidoarjo: Korban Capai 748 Orang hingga PBNU Soroti Integritas Pengelola

Buntut Kasus Keracunan MBG Sidoarjo: Korban Capai 748 Orang hingga PBNU Soroti Integritas Pengelola
Buntut Kasus Keracunan MBG Sidoarjo: Korban Capai 748 Orang hingga PBNU Soroti Integritas Pengelola

Sorothari – 05 September 2026 | Insiden santri keracunan MBG Sidoarjo menjadi sorotan luas setelah ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan sejumlah pelajar di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gejala medis usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis pada Selasa (1/9/2026). Hingga Jumat (4/9/2026), data akumulatif mencatat total korban terdampak telah mencapai 748 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menjelaskan bahwa mayoritas korban telah menunjukkan perkembangan kesehatan yang membaik. Dari total 748 pasien yang terdata, sebanyak 728 orang telah diizinkan pulang untuk menjalani rawat jalan, sementara 20 pasien lainnya masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Baca juga:
Perkembangan Kondisi Febiola Br Purba Usai Keracunan Program MBG di Karo

Gejala yang dialami para korban meliputi mual, muntah, hingga pusing tak lama setelah menyantap hidangan makan siang. Menu yang dibagikan saat peristiwa tersebut terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, sayur buncis baby corn, dan buah apel. Paket makanan itu dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, yang melayani kebutuhan distribusi makanan untuk 19 lembaga pendidikan di wilayah sekitar.

PBNU Tekankan Tanggung Jawab dan Integritas

Menanggapi peristiwa keracunan massal tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, menegaskan pentingnya faktor integritas dari seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program pemerintah tersebut. Gus Kikin menilai pengelolaan konsumsi massal menuntut kepatuhan ketat terhadap standar operasional kerja.

Gus Kikin menyatakan bahwa apabila setiap pihak menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, insiden semacam ini semestinya dapat diantisipasi. Kendati demikian, ia enggan berspekulasi mengenai penyebab pasti dugaan keracunan karena persoalan teknis di lapangan memerlukan pembuktian secara menyeluruh. Terkait dampak psikologis yang dialami para santri, Gus Kikin menekankan bahwa kegiatan pembelajaran di lingkungan pesantren harus tetap berjalan.

Baca juga:
Diduga Keracunan Makanan Bergizi Gratis, 27 Siswa SMPN 3 Wates Yogyakarta Dilarikan ke Puskesmas

Respons DPRD dan Penangguhan Operasional Dapur

Insiden keracunan MBG Sidoarjo ini juga memicu reaksi keras dari jajaran legislatif daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo menggelar rapat dengar pendapat (hearing) guna mengusut tuntas tata kelola penyediaan makanan, mulai dari seleksi bahan baku, proses pengolahan di dapur, hingga alur pendistribusian.

Ketua DPRD Sidoarjo, Abdillah Nasih, menyayangkan ketidakhadiran perwakilan SPPG Kalitengah dalam forum evaluasi tersebut. Menurutnya, keselamatan anak-anak penerima manfaat program merupakan prioritas utama yang tidak boleh diabaikan. Pihak legislatif menegaskan akan melayangkan pemanggilan ulang agar penyedia layanan memberikan penjelasan transparan terkait standar higienitas dan keamanan pangan.

Sebagai langkah penanganan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah menangguhkan operasional SPPG Kalitengah selama 30 hari ke depan serta mengusulkan pergantian pimpinan unit tersebut. Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo telah mengamankan sampel makanan serta muntahan pasien untuk diuji secara komprehensif di laboratorium.

Baca juga:
Patahkan Narasi Liar, Nanik S Deyang Unggah Foto di RS, Jawab Isu Korupsi MBG: Jadi Bahan Bully-an

Pesantren Usulkan Pengelolaan Mandiri

Menyusul peristiwa santri keracunan MBG Sidoarjo tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun (Gus Wahid), menyampaikan usulan agar pengelolaan program MBG diserahkan langsung secara mandiri kepada pihak pesantren. Dengan jumlah santri mencapai ribuan orang, jarak dan jeda waktu pengiriman makanan dari dapur luar dinilai memiliki risiko penurunan kualitas pangan.

Gus Wahid menegaskan bahwa usulan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan upaya perbaikan sistem agar proses memasak hingga penyajian dapat diawasi secara langsung di lokasi pondok secara terukur dan higienis. Gagasan mengenai penyaluran dana langsung ke lembaga pendidikan ini juga telah disampaikan kepada staf kepresidenan untuk dievaluasi lebih lanjut demi mencegah berulangnya kasus keracunan MBG Sidoarjo di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *