Sorothari – 12 September 2026 | Peristiwa keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menyisakan dampak kesehatan yang mendalam bagi Febiola Br Purba (16). Siswi berprestasi asal SMK Swasta Bersama Berastagi tersebut sempat mengalami penurunan kesadaran, kejang hebat, hingga kehilangan daya ingat sekitar 70 persen setelah menyantap sajian makanan dari program tersebut.
Febiola yang aktif menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS di sekolahnya merupakan satu dari ratusan korban keracunan makanan massal yang terjadi pada 13 Agustus lalu. Kasus ini mencatatkan total 389 siswa dari lima sekolah berbeda di wilayah Kabupaten Karo yang terdampak hidangan yang terkontaminasi.
Baca juga:Perawatan Medis Febiola Br Purba dan Hasil Uji Laboratorium
Akibat paparan racun yang menyerang sistem pencernaan dan jaringan saraf otaknya, Febiola Br Purba harus dilarikan ke rumah sakit dan sempat menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU). Penanganan medis terhadap remaja ini dilakukan secara maraton di lima rumah sakit berbeda guna menstabilkan kondisi fisiknya yang kritis.
Berdasarkan pengujian laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa serta sampel muntahan korban, ditemukan kontaminasi tiga jenis bakteri patogen. Berikut rincian hasil uji laboratorium terkait kasus tersebut:
| Jenis Sampel | Bakteri Terdeteksi | Dampak Medis Potensial |
|---|---|---|
| Nasi | Bacillus cereus | Gangguan pencernaan akibat penyimpanan suhu ruang |
| Ikan, Saus, & Muntahan | Staphylococcus aureus | Menghasilkan enterotoksin tahan panas pemicu kejang |
| Buah Melon | Escherichia coli (E. coli) | Diare berat dan risiko komplikasi organ |
Dari panel pemeriksaan bakteri patogen pangan yang dilakukan, sampel dinyatakan negatif dari kontaminasi bakteri Salmonella. Dokter pemeriksa menyoroti bahwa enterotoksin dari bakteri Staphylococcus aureus memiliki sifat tahan panas, sehingga toksin tetap dapat memicu kejang dan kerusakan saraf meskipun bakteri telah mati dalam proses pemanasan ulang makanan.
Baca juga:Kondisi Pemulihan dan Dukungan Pemerintah Daerah
Saat sadar dari masa kritisnya, korban sempat mengalami amnesia berat dan tidak mampu mengenali orang tua maupun keluarga intinya. Ibu kandung Febiola, Elvinus Lusiana Sitanggang, mengungkapkan bahwa kondisi ingatan sang anak kini mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan secara bertahap seiring berjalannya perawatan medis lanjutan.
Saat ini, penanganan rawat jalan Febiola Br Purba dipusatkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik, Medan. Proses pemulihannya ditangani oleh tim dokter lintas disiplin ilmu, meliputi spesialis gastroenterologi anak, neurologi anak, hingga psikiatri. Tim medis juga melakukan pemeriksaan rekam gelombang otak (electroencephalogram/EEG) untuk memantau fungsi saraf pusat pascakejang.
Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, menegaskan bahwa penanganan korban keracunan menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Pendampingan tidak hanya menyasar aspek pemulihan racun fisik semata, tetapi juga pemulihan trauma psikologis.
Baca juga:Pemerintah Provinsi Sumatra Utara menginstruksikan keterlibatan Dinas Kesehatan serta Dinas Perlindungan Anak untuk mengawal pemulihan fisik dan mental korban secara berkelanjutan. Selain itu, pemerintah berjanji melakukan audit menyeluruh terhadap standar higienitas dan distribusi penyedia makanan guna menjamin keselamatan para penerima manfaat program MBG.









