Sorothari – 12 September 2026 | Petenis tunggal putri Aryna Sabalenka berpeluang mengukir sejarah baru dalam turnamen US Open saat menghadapi rival utamanya, Elena Rybakina, pada partai puncak di Flushing Meadows. Sabalenka bertekad menjadi petenis putri pertama yang merebut tiga gelar juara secara beruntun sejak pencapaian legendaris Serena Williams pada periode 2012 hingga 2014.
Pertandingan puncak ini menandai final keempat berturut-turut bagi Sabalenka di turnamen grand slam lapangan keras tersebut. Meski belum terkalahkan di Flushing Meadows selama tiga tahun terakhir, posisi puncak peringkat dunia yang dipegang Sabalenka selama 99 pekan berturut-turut atau total 107 pekan resmi beralih ke tangan Rybakina. Pertemuan di partai final ini menjadi momentum penting bagi kedua petenis untuk membuktikan dominasi di panggung tenis putri dunia.
Baca juga:Dua Petenis Terbaik Dunia Bertarung di Panggung US Open
Laga final ini menyajikan duel ulang sarat gengsi antara dua unggulan teratas. Rybakina berambisi mengukuhkan posisinya sebagai petenis nomor satu dunia yang baru, sementara Sabalenka menolak menyerahkan mahkota juara yang telah dipertahankannya dengan gigih. Ini merupakan pertemuan keempat kedua atlet pada musim berjalan sekaligus ulangan dari partai final Australian Open, di mana Rybakina keluar sebagai kampiun di Melbourne Park sebelum Sabalenka membalas dengan memenangkan dua duel berikutnya.
Pelatih performa Sabalenka, Jason Stacy, memberikan pernyataan tegas menjelang laga penentuan tersebut. Stacy yang juga menulis buku The Pressure Code menegaskan bahwa Flushing Meadows merupakan wilayah kekuasaan Sabalenka dan para pemain lain hanyalah tamu yang sudah waktunya untuk pulang. Menurut Stacy, Sabalenka kini telah menemukan kembali identitas permainan terbaiknya di lapangan.
Sabalenka memastikan tiket ke final setelah mencatatkan kemenangan meyakinkan atas wakil tuan rumah, Jessica Pegula, pada babak semifinal dengan skor 7-5, 6-2. Dalam pertandingan tersebut, Sabalenka tampil agresif dengan melancarkan 29 pukulan winner tanpa sekali pun kehilangan servis, sekaligus mematahkan perlawanan sengit unggulan ketiga tersebut.
Baca juga:Di sisi lain, Rybakina harus melewati laga dramatis untuk mengamankan tempat di partai puncak. Petenis asal Kazakhstan tersebut sempat kehilangan set pertama sebelum bangkit menumbangkan favorit tuan rumah, Coco Gauff, dengan skor akhir 3-6, 6-4, 6-4. Rybakina memanfaatkan sejumlah kesalahan krusial yang dibuat Gauff pada gim-gim penentu di set kedua dan set ketiga.
Hasil babak empat besar ini menggagalkan potensi terciptanya final sesama petenis Amerika Serikat antara Gauff dan Pegula. Kendati demikian, duel antara Sabalenka dan Rybakina dinilai sebagai klimaks paling ideal mengingat kedua petenis sempat menghadapi kendala performa dan fisik dalam beberapa bulan terakhir sebelum tampil impresif di New York.
Sebelum melangkah ke final di New York, Sabalenka melewati periode sulit dengan tidak memenangkan turnamen sejak Miami Open pada Maret lalu, termasuk tersingkir di perempat final French Open dan babak keempat Wimbledon. Rybakina juga sempat mundur dari turnamen Cincinnati Open akibat cedera pada Agustus. Pertarungan di babak final ini dipastikan menjadi ujian konsistensi sekaligus pembuktian status penguasa tenis putri dunia.
Baca juga:






