Sorothari – 13 September 2026 | Dinamika pertahanan internasional dalam beberapa waktu terakhir diwarnai oleh berbagai aktivitas krusial di pangkalan militer, mulai dari pergeseran kendali infrastruktur strategis di pesisir barat Yaman, eskalasi tensi geopolitik akibat serangan fasilitas udara di Yordania, hingga penguatan interoperabilitas taktis angkatan udara di kawasan Pasifik.
Perebutan Kendali Fasilitas Strategis di Pesisir Yaman
Di Yaman, peta kekuatan militer di sepanjang pesisir barat mengalami perubahan signifikan menyusul operasi terpadu yang dilancarkan pasukan Ansarullah. Operasi militer yang berlangsung selama sepekan tersebut berhasil merebut kendali atas sejumlah pangkalan, lapangan udara militer, dan pusat logistik yang selama 11 tahun terakhir dikembangkan melalui investasi Arab Saudi serta Uni Emirat Arab (UEA).
Baca juga:Penguasaan wilayah strategis ini mencakup kota pelabuhan Al-Mokha yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Selat Bab al-Mandab, sekaligus mengamankan kepulauan Yaman di Laut Merah. Berdasarkan laporan militer setempat, pasukan Yaman berhasil mengambil alih persenjataan dan perlengkapan dari 30 brigade militer yang ditinggalkan oleh kelompok-kelompok bersenjata sokongan koalisi. Sebanyak 13 brigade di antaranya berada di bawah komando Tariq Saleh, tokoh utama kelompok binaan UEA di kawasan pesisir.
Pascaperistiwa tersebut, Tariq Saleh dilaporkan telah meninggalkan Al-Mokha bersama sejumlah pasukannya menggunakan kapal menuju Djibouti sebelum bertolak ke Abu Dhabi. Pasukan Yaman menyita volume perlengkapan militer dalam jumlah besar, termasuk ratusan kendaraan tempur bersenjata, tank, kendaraan lapis baja buatan Amerika Serikat, serta sistem rudal antitank Kornet dan TOW.
Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigadir Jenderal Yahya Saree menegaskan bahwa operasi terkoordinasi ini berhasil membersihkan area selatan Taiz dan mengamankan kawasan seluas 5.400 kilometer persegi di enam distrik. Operasi tersebut dinyatakan sebagai respons terhadap serangan koalisi sekaligus langkah pengamanan bagi penduduk setempat.
Sorotan Intelijen atas Serangan di Yordania
Sementara itu di Yordania, keberadaan pangkalan militer milik Amerika Serikat menjadi fokus ketegangan baru antara Washington dan Beijing. Laporan terbaru mengaitkan serangan rudal balistik terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di timur laut Yordania dengan dugaan pemanfaatan citra satelit beresolusi tinggi yang diperoleh dari entitas-entitas asal China.
Baca juga:Serangan yang terjadi pada bulan Juli lalu menargetkan area pemukiman personel serta hanggar pesawat berawak dan nirawak di pangkalan tersebut. Insiden tersebut menewaskan tiga tentara Amerika Serikat dan melukai empat personel lainnya saat sedang beristirahat. Serangan rudal presisi ini tercatat sebagai salah satu dari tiga gelombang gempuran dalam rentang waktu 24 jam dan menjadi insiden fatal pertama bagi pasukan AS sejak diberlakukannya gencatan senjata pada April.
Para pejabat pertahanan AS mengindikasikan bahwa akses data visual mutakhir tersebut memberikan kompensasi signifikan bagi Teheran, mengingat infrastruktur radar dan pengintaian Iran telah mengalami kerusakan parah akibat serangan sebelumnya. Kendati demikian, otoritas AS tidak menuduh pemerintah China terlibat secara langsung. Menjelang pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping pada 24 September, pihak Beijing secara konsisten menepis tuduhan tersebut dan meminta bukti konkret atas keterlibatan korporasi mereka.
Penguatan Kerja Sama Udara di Lanud Sam Ratulangi
Bergeser ke kawasan Asia Tenggara, kerja sama pertahanan bilateral terus diperkuat guna menjaga stabilitas kawasan. TNI Angkatan Udara bersama Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) berhasil menuntaskan rangkaian Latihan Bersama Cope West 2026 yang dipusatkan di Pangkalan Udara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara.
Latihan yang berlangsung sejak 7 hingga 11 September 2026 tersebut melibatkan personel dan armada pesawat dari Airlift Wing ke-374 USAF. Pelaksanaan Cope West tahun ini merupakan edisi ke-13 di Indonesia sejak pertama kali dihelat pada 1989, dengan fokus pada operasi angkutan udara taktis gabungan.
Baca juga:Sepanjang latihan, personel kedua negara memperdalam sejumlah keahlian operasional melalui kurikulum terstruktur:
- Prosedur pengamanan dan pertahanan pangkalan militer terpadu.
- Pemeliharaan dan kesiapan operasional alutsista angkut udara.
- Penerapan standar kesehatan penerbangan dan evakuasi medis udara (aeromedical evacuation).
- Pertukaran prosedur navigasi dan taktik penerbangan bersama.
Konsul Jenderal AS di Surabaya Chris Green menyatakan bahwa Cope West menjadi implementasi nyata dari Kemitraan Strategis Komprehensif antara Indonesia dan AS dalam memelihara stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Di sisi lain, Wakil Gubernur Sulawesi Utara Victor Mailangkay mengapresiasi keberhasilan latihan ini dan mendorong agar komunikasi serta kolaborasi pertahanan terus diperluas demi kepentingan keamanan bersama di masa mendatang.









