Sorothari – 14 September 2026 | Pembagian dividen DMAS kembali menjadi sorotan para pelaku pasar modal menyusul kokohnya posisi likuiditas PT Puradelta Lestari Tbk per semester pertama 2026. Emiten pengembang kawasan terpadu Kota Deltamas yang bernaung di bawah bendera Grup Sinar Mas tersebut tercatat mengantongi kas dan setara kas mencapai Rp2,08 triliun per 30 Juni 2026 tanpa memiliki beban utang. Kondisi keuangan yang sehat ini membuka ruang lebar bagi perseroan untuk terus membagikan imbal hasil bernilai tinggi kepada para pemegang saham.
Manajemen perseroan menegaskan tetap mempertahankan komitmen kebijakan pembagian dividen minimal 30 persen dari laba bersih. Kendati demikian, realisasi rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) pada tahun-tahun sebelumnya kerap melampaui batas minimal tersebut, bahkan mendekati hingga melebihi 100 persen. Untuk tahun buku 2025 lalu, perseroan telah merealisasikan dividen tunai sebesar Rp16,5 per saham yang mencerminkan DPR sekitar 99 persen dengan tingkat imbal hasil dividen (dividend yield) berkisar 9 persen.
Baca juga:Proyeksi Dividen DMAS dan Kinerja Finansial Perseroan
Meskipun manajemen belum secara resmi mengumumkan besaran dividen untuk tahun buku 2026 karena masih harus mempertimbangkan alokasi belanja modal (CapEx) serta cadangan kas operasional, proyeksi pasar menunjukkan tren optimis. Berdasarkan analisis RHB Sekuritas, perseroan diperkirakan berpeluang menebar dividen hingga Rp30 per saham dengan estimasi payout ratio mencapai 95 persen dan dividend yield mendekati 15 persen.
Berikut adalah ringkasan rekam jejak dan estimasi rasio dividen perseroan:
| Tahun Buku | Dividen per Saham (Rp) | Payout Ratio (%) | Dividend Yield (%) |
|---|---|---|---|
| 2025 (Realisasi) | 16,5 | 99% | 9% |
| Proyeksi Analis | 30,0 | 95% | ~15% |
Pergeseran Struktur Penjualan ke Sektor Data Center
Kinerja pendapatan perseroan sepanjang paruh pertama 2026 didorong oleh lonjakan permintaan lahan dari sektor teknologi informasi. Penjualan lahan industri di kawasan Greenland International Industrial Center (GIIC) Cikarang kini didominasi oleh pelaku bisnis pusat data (data center) yang menyumbang lebih dari 94 persen total pendapatan, dengan capaian pra-penjualan (marketing sales) semester I-2026 menembus Rp1,15 triliun atau 55 persen dari target tahunan.
Baca juga:Sejumlah korporasi teknologi global tercatat melakukan ekspansi lahan dalam skala besar di kawasan GIIC, antara lain:
- Digital Gayanan dengan akuisisi lahan seluas 24 hektare
- Indoedge yang menyerap lahan seluas 9 hektare
- STT GDC yang mengambil area seluas 7 hektare
Fenomena ini menandai transformasi profil kawasan industri perseroan. Jika pada tahun 2021 lanskap GIIC didominasi oleh industri otomotif seperti Astra Honda Motor dan Hyundai yang berkontribusi hingga 58 persen terhadap pendapatan, kini fokus utama telah beralih ke ekosistem infrastruktur digital.
Menipisnya Cadangan Lahan dan Strategi Pendapatan Berulang
Tingginya laju penyerapan lahan industri oleh sektor data center membuat sisa cadangan lahan (land bank) industri milik perseroan kian terbatas, yakni diperkirakan menyisakan sekitar 60 hektare. Sebagai langkah mitigasi terhadap potensi penurunan penjualan lahan mentah di masa depan, perseroan mulai mengkaji akuisisi lahan baru di sekitar kawasan Kota Deltamas sekaligus memperkuat lini pendapatan berulang (recurring income).
Baca juga:Perseroan mengembangkan portofolio infrastruktur energi dengan mengoperasikan pembangkit listrik berkapasitas total 993 megavolt ampere (MVA) guna melayani kebutuhan daya kawasan data center seluas 300 hektare. Fasilitas ketenagalistrikan tersebut saat ini telah beroperasi pada kapasitas 80 persen, sehingga mampu menjamin stabilitas arus kas perseroan ke depan di tengah siklus bisnis properti industri.
Dengan fundamental neraca yang bebas utang, arus kas yang melimpah, serta transformasi model bisnis yang terukur, daya tarik pembagian dividen DMAS dinilai tetap terjaga kuat bagi investor jangka panjang yang mengincar kombinasi antara stabilitas hasil dividen dan potensi pertumbuhan dari segmen ekonomi digital.



