Rupiah Kembali Menguat, Tinggalkan Level Psikologis Rp 18.000 per Dolar AS

Rupiah Kembali Menguat, Tinggalkan Level Psikologis Rp 18.000 per Dolar AS
Rupiah Kembali Menguat, Tinggalkan Level Psikologis Rp 18.000 per Dolar AS

Sorothari17 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhirnya berhasil meninggalkan level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pemerintah terus menekan inflasi, rupiah menguat dan keluar dari posisi tertekannya dalam sepekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026), rupiah tercatat menguat 82 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 17.986 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg. Sehari sebelumnya, rupiah masih bertahan di level Rp 18.068.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan ini terjadi seiring langkah pemerintah dalam mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan biaya industri yang meningkat. “Pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah fiskal dan pasar untuk mengendalikan inflasi, khususnya pada komoditas pangan yang volatil dan meningkatnya biaya industri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (16/7/2026).

Baca juga:
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS Usai Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo

Langkah mitigasi yang disiapkan antara lain menjaga laju inflasi dari komponen harga pangan bergejolak serta mengantisipasi kenaikan harga kemasan yang berdampak pada produk makanan. Pemerintah juga berfokus pada penanganan volatile food agar tidak memberikan tekanan lebih lanjut terhadap inflasi.

Sentimen Eksternal dan Geopolitik

Selain faktor domestik, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika eksternal. Dalam sepekan sebelumnya, rupiah sempat terpuruk di atas Rp 18.000 akibat memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan militer AS terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal dagang AS di Selat Hormuz mendorong rupiah ke posisi Rp 18.005 pada 8 Juli 2026.

Baca juga:
Rupiah Tertekan Usai Perry Warjiyo Mundur, Berpotensi Tembus Rp 18.000

Namun, data ekonomi AS terbaru menunjukkan perlambatan inflasi. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Juli 2026 turun dari 4,2 persen menjadi 3,5 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan 3,8 persen. Hal ini meredakan kekhawatiran kenaikan suku bunga agresif dan mendorong penguatan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Kendati demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa risiko konflik Timur Tengah masih tinggi, terutama setelah Iran kembali melancarkan serangan drone terhadap posisi AS di Yordania.

Independensi BI Diapresiasi

Bank Indonesia (BI) juga mencatat sentimen positif dari lembaga pemeringkat global. S&P Global Ratings mengakui independensi BI dalam menentukan kebijakan moneter, termasuk kenaikan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,75 persen. Hal ini memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. BI berkomitmen memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Baca juga:
Trump Terapkan Tarif Baru ke 60 Negara, Jepang dan Korsel Kena 12,5 Persen

Dengan tekanan inflasi yang mulai terkendali dan dukungan kebijakan fiskal yang berkelanjutan, pemerintah terus berupaya menjaga rupiah agar tidak kembali melemah. Namun, para pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi geopolitik global yang sewaktu-waktu bisa menggerus nilai tukar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *