Sorothari – 28 Juli 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menembus level psikologis Rp 18.000 pada Senin (27/7/2026), sehari setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Keputusan mendadak tersebut memicu gejolak di pasar keuangan, mendorong rupiah tertekan hingga ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Investing, dolar AS menguat 130,4 basis poin atau 0,73% menjadi Rp 18.038 pada pukul 18.12 WIB. Sementara itu, Bloomberg mencatat kenaikan 46 basis poin ke Rp 18.009, dan Google Finance menunjukkan level Rp 18.033. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga melemah dari Rp 17.973 menjadi Rp 17.995 per dolar AS.
Baca juga:Pengunduran Diri Perry Warjiyo
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo telah menerima surat pengunduran diri Perry Warjiyo pada Minggu (26/7/2026). Perry mengundurkan diri secara sukarela dengan alasan pribadi, dan surat tersebut diajukan pada Sabtu (25/7/2026).
“Per kemarin secara resmi kami menerima surat pengunduran diri dari Gubernur Bank Indonesia kepada bapak presiden,” kata Prasetyo dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
Mengikuti ketentuan Undang-Undang BI, jabatan gubernur sementara otomatis diisi oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti. Destry menegaskan bahwa BI akan tetap menjalankan tugasnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan.
Koordinasi Fiskal dan Moneter Tetap Berjalan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa fungsi BI sebagai institusi penjaga stabilitas moneter tidak terganggu. “Yang penting kan institusinya. Dan institusi BI tetap menjalankan fungsi untuk menjaga nilai tukar dan menjaga kestabilan moneter,” ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian.
Baca juga:Airlangga mengaku mengetahui pengunduran diri Perry dari pemberitaan pagi hari dan meminta publik bersabar menunggu nama calon gubernur definitif. Ia menegaskan koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter terus berjalan secara berkala.
Penyebab Tekanan Rupiah
Analis menilai pelemahan rupiah tidak semata-mata karena pengunduran diri Perry. Sentimen eksternal, seperti ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September 2026 dan gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah, turut mendorong penguatan dolar AS. Dari dalam negeri, ketidakpastian kebijakan moneter dan aliran modal asing yang keluar juga menekan rupiah.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global dan tantangan domestik, bukan semata-mata peristiwa pengunduran diri.
Dampak ke Pasar Saham
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turut terkoreksi. Pada penutupan Senin, IHSG turun 0,17% ke 6.185,78, sementara LQ45 merosot 0,36%. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa pengunduran diri Gubernur BI memicu kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral, sehingga mendorong aksi jual.
Baca juga:“Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran mengenai arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral, sehingga menekan rupiah dan mendorong investor asing mengurangi eksposur pada aset domestik,” jelas Nafan.
Namun, ia menambahkan bahwa faktor global seperti ekspektasi suku bunga The Fed juga berkontribusi pada volatilitas pasar.
Hingga berita ini diturunkan, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS, dan pasar menanti langkah selanjutnya dari Bank Indonesia serta pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi.













