Sorothari – 28 Juli 2026 | Rupiah tertekan usai Perry Warjiyo mundur dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) dan berpotensi tembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada Senin (27/7/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp 18.009 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.963. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI juga bergerak melemah ke level Rp 17.995 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.973.
Analis menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan internal. Sentimen eksternal utama adalah potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS (the Fed) pada September 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar melihat peluang sebesar 78 persen akan adanya kenaikan suku bunga pada bulan tersebut. Sementara itu, pada pertemuan 28-29 Juli 2026, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga. Selain itu, gangguan rantai pasok akibat konflik AS-Iran dan Yaman-Arab Saudi memperlambat jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, sehingga menekan rupiah.
Baca juga:Dari dalam negeri, pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI menjadi sentimen negatif. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti kini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga gubernur definitif ditetapkan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memilih tidak menanggapi spekulasi yang mengaitkan pengunduran diri Perry dengan perbedaan pandangan bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. “Saya nggak paham. Terima kasih,” ujar Airlangga singkat kepada wartawan di Jakarta, Senin.
Airlangga menegaskan bahwa stabilitas moneter tetap terjaga karena BI sebagai institusi tetap berjalan normal. “Yang penting kan institusinya. Dan institusi BI kan tetap menjalankan fungsi untuk menjaga nilai tukar dan juga menjaga kestabilan moneter,” katanya. Ia mengaku baru mengetahui kabar pengunduran diri Perry dari pemberitaan media pada pagi hari yang sama.
Baca juga:Sementara itu, Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata karena pengunduran diri Perry Warjiyo, melainkan lebih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global dan tantangan domestik. Menurutnya, rupiah juga bergerak melemah karena ekspektasi hawkish The Fed dan perlambatan ekonomi global.
Rupiah tertekan usai Perry Warjiyo mundur dan berpotensi tembus Rp 18.000 per dolar AS jika tekanan berlanjut. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan kebijakan moneter AS serta situasi geopolitik di Timur Tengah. Dari sisi domestik, koordinasi antara pemerintah dan BI yang dijalankan oleh Destry Damayanti diharapkan dapat menjaga stabilitas rupiah.
Baca juga:Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian mengenai siapa yang akan ditunjuk sebagai gubernur BI definitif. Pemerintah disebut masih dalam proses pembahasan, sementara Destry Damayanti akan menjalankan tugas sehari-hari sebagai Pj Gubernur. Rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dalam jangka pendek, dengan level psikologis Rp 18.000 menjadi batas kritis yang perlu diwaspadai.













