Microsoft Corporation Genjot Belanja AI hingga Rp2.700 Triliun, Cari Dana Rp400 Triliun ke Wall Street

Microsoft Corporation Genjot Belanja AI hingga Rp2.700 Triliun, Cari Dana Rp400 Triliun ke Wall Street
Microsoft Corporation Genjot Belanja AI hingga Rp2.700 Triliun, Cari Dana Rp400 Triliun ke Wall Street

Sorothari – 31 Oktober 2026 | Microsoft Corporation kembali menjadi sorotan pasar keuangan global setelah memutuskan mencari pendanaan segar di pasar obligasi Amerika Serikat. Langkah ini diambil seiring dengan lonjakan belanja modal perusahaan untuk infrastruktur kecerdasan buatan yang diperkirakan mencapai sekitar 170 miliar dolar AS atau setara Rp2.700 triliun pada 2026. Raksasa teknologi asal Redmond itu berupaya menghimpun setidaknya 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp400 triliun melalui penjualan obligasi, menjadikannya sebagai penerbitan utang pertama di pasar investasi Amerika Serikat sejak 2017.

Penawaran obligasi tersebut dilakukan dalam sepuluh seri dengan tenor mulai dari dua hingga 40 tahun. Sebelumnya, Microsoft Corporation terakhir kali menghimpun dana di pasar obligasi investasi AS pada 2017 dengan nilai 17 miliar dolar AS. Menurut laporan Bloomberg, hasil penjualan obligasi akan digunakan untuk berbagai keperluan korporasi, termasuk belanja modal, modal kerja, akuisisi, pembelian kembali saham, dan pelunasan utang yang jatuh tempo. Perusahaan tidak merinci berapa porsi yang akan dialokasikan khusus untuk investasi kecerdasan buatan.

Baca juga:
Google Resmi Rilis Gemini 4 Argon, Model AI Frontier dengan Jendela Token 1 Juta

Keputusan tersebut menyusul pengumuman kinerja kuartal pertama fiskal perusahaan pada Rabu lalu. Chief Financial Officer Microsoft, Amy Hood, mengungkapkan bahwa kebutuhan belanja infrastruktur perusahaan terus meningkat dan memerlukan dukungan pendanaan tambahan di luar arus kas operasional. “Untuk melengkapi kas yang dihasilkan bisnis dan menjaga fleksibilitas finansial, kami akan mengakses sumber pendanaan tambahan ketika kami menilai hal itu menarik untuk dilakukan,” ujar Hood dalam panggilan konferensi dengan analis.

Pada kuartal yang berakhir 30 September 2026, Microsoft Corporation mencatat belanja modal sebesar 45,2 miliar dolar AS. Sekitar tiga perempat dari jumlah tersebut diarahkan pada aset berumur pendek, terutama unit pemrosesan pusat (CPU) dan unit pemrosesan grafis (GPU) yang digunakan di pusat data. Perusahaan juga memperkirakan belanja modal pada kuartal berjalan akan melampaui 50 miliar dolar AS, angka yang memicu pertanyaan tentang bagaimana perusahaan teknologi paling menguntungkan sekalipun akan membiayai ambisi kecerdasan buatan mereka yang terus membengkak.

Langkah Microsoft mencari utang baru bukan tanpa konsekuensi. Sebelumnya, perusahaan telah menawarkan program buyout atau paket kompensasi sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan seiring dengan meningkatnya belanja kecerdasan buatan. Program serupa juga dilakukan produsen otomotif BMW. Meski demikian, riset menunjukkan bahwa skema pembayaran kepada karyawan untuk mengundurkan diri dapat membantu perusahaan merampingkan tenaga kerja sekaligus mempertahankan karyawan yang memiliki komitmen lebih tinggi. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Management Accounting Research menemukan bahwa karyawan dengan keterikatan organisasi yang lemah lebih cenderung menerima tawaran keluar, sementara mereka yang memiliki rasa memiliki kuat memilih bertahan. Karyawan yang menolak tawaran tersebut bahkan menunjukkan upaya kerja yang lebih besar setelahnya.

Peran Microsoft dalam Inisiatif Preferensi Pelatihan AI

Di tengah besarnya belanja infrastruktur, Microsoft Corporation juga terlibat dalam inisiatif lintas industri untuk memberikan kendali lebih besar kepada pemilik situs web atas konten mereka. Pada 30 Oktober 2026, Microsoft bersama OpenAI, Google, dan Anthropic menyatakan akan menghormati satu token kebijakan robots.txt bernama __usage_ai-training. Token ini memungkinkan pemilik situs untuk mengecualikan konten mereka dari pelatihan model kecerdasan buatan melalui satu baris perintah yang berlaku di semua perayap keempat perusahaan tersebut.

Baca juga:
Ibrahim Al Abrar, Bocah SD Boyolali yang Temukan Celah Keamanan NASA dan Dapat Apresiasi

John Mueller dari Google menyatakan bahwa token tersebut “akan membantu situs web mengekspresikan preferensi pelatihan AI mereka di berbagai penyedia AI dalam satu langkah.” Ia menambahkan bahwa jika sebuah situs memilih keluar melalui token tanpa menyebut Google-Extended, Google berencana menafsirkannya seolah-olah penerbit telah melarang Google-Extended. Dokumen di balik pengumuman ini adalah draf Internet IETF individual berjudul “Machine-Readable Training Preference Signal” yang ditulis oleh Kevin Kelley dari Anthropic dan bertanggal 30 Oktober 2026, dengan masa berlaku hingga 3 Mei 2027. Draf tersebut mencatat bahwa token ini bukan arahan untuk perilaku perayapan, sehingga bot masih dapat mengambil halaman. OpenAI menyebut mekanisme ini sebagai “mekanisme koordinasi, bukan kontrol keamanan” di bawah RFC 9309, yang berarti perayap yang tidak patuh dapat mengabaikannya.

Implementasi token ini tidak seragam. Anthropic menyatakan telah mulai menerapkannya, sementara OpenAI menargetkan implementasi dalam beberapa bulan mendatang. Microsoft menargetkan 1 Februari 2027, dan Google pada 2027. Microsoft juga berencana membangun preferensi bersama tersebut dengan menambahkan pengaturan terpisah untuk AI grounding, yaitu langkah pengambilan konten langsung ke dalam jawaban chat, bukan ke bobot pelatihan. Perlu dicatat, memperbarui robots.txt tidak menghapus materi yang sudah dikumpulkan dalam kumpulan data atau model yang telah dilatih.

Perbaikan VPN Windows 11 dan Dampaknya bagi Pengguna

Di sisi produk, Microsoft Corporation telah merilis perbaikan untuk masalah Always On VPN di Windows 11 yang disebabkan oleh pembaruan keamanan September 2026. Perbaikan tersebut tersedia dalam pembaruan pratinjau KB5127936 yang dirilis pada Oktober. Masalah ini memengaruhi sistem yang menggunakan pemilihan protokol otomatis atau fallback antara IKEv2 dan SSTP untuk koneksi Always On VPN. Menurut Microsoft, koneksi VPN yang terdampak dapat tertahan dalam status “Connecting” atau gagal terhubung setelah upaya pertama tidak berhasil. Dalam beberapa kasus, pengguna yang mencoba terhubung kembali menerima pesan kesalahan bahwa “port yang ditentukan sudah digunakan.”

Microsoft pertama kali mengakui masalah ini pada akhir September setelah pembaruan keamanan Windows 11 September 2026 memicu kegagalan koneksi. Perusahaan sempat menandai masalah tersebut sebagai telah diselesaikan dalam pembaruan kumulatif Oktober 2026, namun pada kenyataannya masalah belum benar-benar diperbaiki saat itu. Administrator dapat menggunakan konfigurasi SSTP-only atau IKEv2-only sebagai solusi sementara. Always On VPN sendiri merupakan solusi akses jarak jauh Microsoft yang dirancang untuk membangun koneksi aman antara perangkat dan jaringan korporat, mendukung perangkat yang tergabung dalam domain, tidak tergabung dalam domain, maupun yang tergabung dalam Microsoft Entra ID yang menjalankan Windows 10, Windows 11, dan Windows Server.

Baca juga:
Apple Batasi Pembelian iPhone Duo Maksimal 2 Unit, Preorder Indonesia Dibuka 23 Oktober

Dengan berbagai langkah tersebut, Microsoft Corporation menunjukkan bahwa ambisi kecerdasan buatan tidak hanya berdampak pada lini bisnis dan strategi pendanaan, tetapi juga pada tata kelola konten dan kualitas produk yang digunakan jutaan pengguna. Pasar akan mencermati bagaimana perusahaan menyeimbangkan kebutuhan investasi besar dengan tekanan untuk menjaga kinerja keuangan dan kepercayaan pelanggan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *