Berita  

Demo 28 Oktober 2026 di Bundaran HI: Salib Merah, Tiga Jari, hingga Salat Berjemaah

Demo 28 Oktober 2026 di Bundaran HI: Salib Merah, Tiga Jari, hingga Salat Berjemaah
Demo 28 Oktober 2026 di Bundaran HI: Salib Merah, Tiga Jari, hingga Salat Berjemaah

Sorothari – 30 Oktober 2026 | Demo 28 Oktober 2026 yang digelar Aksi Indonesia Sadar di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, tidak hanya diwarnai orasi politik dan tuntutan kebijakan. Aksi yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda itu juga menampilkan beragam ekspresi simbolik, mulai dari salib merah berukuran besar, acungan tiga jari, hingga salat berjemaah di tengah kerumunan massa. Demonstrasi tersebut diikuti oleh mahasiswa, elemen masyarakat sipil, dan sejumlah figur publik yang menyuarakan persoalan tata kelola pemerintahan, kebijakan anggaran, layanan publik, serta penegakan hukum.

Salib merah yang diarak dalam demo 28 Oktober 2026 menjadi salah satu simbol yang paling menarik perhatian. Simbol itu dibawa oleh sejumlah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Bukan sekadar atribut keagamaan, salib merah tersebut merujuk pada perjuangan masyarakat adat di Papua, khususnya di Papua Selatan, yang mempertahankan tanah dan hutan mereka dari ekspansi proyek berskala besar. Praktik pemasangan salib di wilayah adat selama ini digunakan sebagai penanda batas sekaligus bentuk penolakan terhadap perampasan ruang hidup.

Baca juga:
Inayah Wahid Akui Bantu Aksi Spanduk Greenpeace di Bundaran HI, Polda Pulangkan Enam Aktivis

Inspirasi salib merah itu disebut berasal dari film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (2026) karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale. Film tersebut mengangkat dampak proyek strategis nasional (PSN), ekspansi industri, dan alih fungsi hutan terhadap masyarakat adat di Papua Selatan. Dalam film itu, tanda salib merah terlihat digunakan warga adat untuk menandai wilayah yang mereka pertahankan dari intervensi pihak luar. Kemunculan simbol tersebut dalam aksi di Bundaran HI mendapat perhatian sejumlah media, termasuk Tirto yang mengulas kaitannya dengan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan, serta Suara.com yang mengutip penjelasan peserta PMKRI mengenai inspirasi dari film Pesta Babi.

Selain salib merah, acungan tiga jari juga mewarnai demo 28 Oktober 2026. Gestur itu membawa pesan solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap represif. Sementara itu, salat berjemaah di tengah aksi menjadi praktik keagamaan yang berlangsung di ruang demonstrasi. Ketiga ekspresi tersebut muncul dalam konteks yang berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan cara peserta menyampaikan pesan melalui simbol, gestur, dan tindakan. Di tengah aksi yang bertepatan dengan Sumpah Pemuda, demonstrasi menjadi ruang bagi berbagai pengalaman dan kepedulian untuk bertemu.

Figur Publik dan Penanganan Peserta

Demo 28 Oktober 2026 juga dihadiri sejumlah figur publik. Aktor Reza Rahadian terlihat turun langsung dan berbaur dengan massa di Bundaran HI. Mengenakan topi hitam dan kemeja lengan panjang, Reza tampak berbincang dengan sejumlah peserta aksi untuk menyimak aspirasi yang mereka sampaikan. Kehadirannya menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian di antara peserta yang menyuarakan berbagai isu, mulai dari tata kelola pemerintahan hingga kebijakan publik.

Baca juga:
Karhutla Kalimantan Meluas, 64.913 Balita Terkena ISPA dan Aksi Protes Meledak

Penyanyi Eva Celia turut hadir dalam demonstrasi tersebut. Ia mengenakan kaus putih bertuliskan “Join Us. We Fight for a Clean Government.” yang menyerukan keterlibatan masyarakat dalam memperjuangkan pemerintahan bersih. Selain itu, Zaskia Adya Mecca datang dengan membawa ambulans dan logistik untuk membantu para peserta demonstrasi. Ia menyediakan kebutuhan dasar sekaligus mendukung penanganan medis bagi peserta yang memerlukan selama aksi berlangsung. Figur publik lain, Wanda Hamidah, terlihat berada di tengah kerumunan sambil membawa poster bertuliskan “Silence is violence” yang berarti “Diam adalah bentuk kekerasan”.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya mencatat adanya penangkapan terhadap 19 orang dalam rangkaian demo 28 Oktober 2026. Belasan orang itu sebelumnya diamankan karena membawa petasan, senjata tajam, dan cat semprot yang diduga untuk vandalisme. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengatakan bahwa ke-19 orang tersebut telah dipulangkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, setelah penyelidik menyelesaikan penyelidikan dan pendalaman terhadap keterlibatan serta peran masing-masing.

Sebelum dipulangkan, mereka diberikan edukasi pencegahan dan imbauan agar tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu ketertiban maupun membahayakan keselamatan masyarakat. “Selanjutnya, mereka diserahkan kepada pihak keluarga atau pendamping hukum dari LBH. Proses penyerahan dituangkan dalam berita acara dan disertai surat pernyataan untuk tidak melakukan pelanggaran hukum,” ujar Budi kepada wartawan. Ia menegaskan bahwa langkah penegakan hukum yang bersifat represif ditempuh sebagai upaya terakhir, dengan tetap mempertimbangkan fakta, alat bukti, dan ketentuan hukum yang berlaku. Pemulangan tersebut menjadi bagian dari pendekatan pencegahan dan edukasi yang diutamakan kepolisian.

Baca juga:
MRT Jakarta Fase 2A Temukan Lebih dari 4.000 Artefak Bersejarah

Hingga saat ini, demo 28 Oktober 2026 tercatat sebagai salah satu aksi yang menyatukan berbagai elemen masyarakat, dari mahasiswa hingga figur publik. Beragam simbol yang hadir dalam aksi itu memperlihatkan bahwa demonstrasi bukan sekadar ruang penyampaian tuntutan, tetapi juga arena ekspresi solidaritas dan kepedulian terhadap isu-isu yang lebih luas, termasuk hak masyarakat adat dan kebebasan berekspresi. Perkembangan lanjutan terkait tuntutan massa dan penanganan peserta aksi masih menunggu keterangan resmi dari pihak-pihak terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *