Sorothari – 24 Oktober 2026 | Aksi pembentangan spanduk oleh aktivis Greenpeace Indonesia di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10/2026) mendapat sorotan baru. Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wahid, mengaku sebagai anggota organisasi lingkungan tersebut dan terlibat dalam aksi itu, meski tidak ikut memanjat patung. Sementara itu, enam aktivis yang sempat diamankan ke Polda Metro Jaya telah dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan dan penanganan medis.
Pengakuan Inayah disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Menjaga Tradisi, Merawat Kebersamaan dan Menguatkan Indonesia” yang digelar Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, pada Kamis (22/10/2026). Dalam forum itu, Inayah menuturkan bahwa perannya dalam aksi Greenpeace bukanlah memanjat monumen, melainkan membantu melakukan lobi terkait rencana pembentangan spanduk.
Baca juga:“Saya ini adalah anggota Greenpeace yang kemarin, kalau Bapak Ibu tahu, yang kemarin lagi viral karena manjat apa? Patung HI, banner itu. Saya itu juga main, cuma bantunya itu untuk melobi, karena kalau saya ikut naik ke atas patung, jelas patungnya ambrol,” ujar Inayah sambil tertawa, seperti dikutip dari kanal YouTube @ppannuqayahlubangsa, Jumat (23/10/2026).
Inayah mengaku keputusannya bergabung dengan Greenpeace tidak lepas dari pengalaman ayahnya yang pernah bekerja sama dengan organisasi tersebut. Meski demikian, ia tidak memerinci lebih jauh bentuk kerja sama yang dimaksud.
Kronologi Aksi dan Evakuasi Enam Aktivis
Aksi di Bundaran HI berlangsung pada Selasa pagi. Enam aktivis Greenpeace Indonesia memanjat Monumen Selamat Datang dan membentangkan spanduk kuning bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”. Aksi ini digelar bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menyatakan aksi tersebut untuk mendesak pemerintah membuka mata terhadap krisis iklim yang dinilai semakin memperburuk kualitas hidup masyarakat. “Greenpeace Indonesia terus menggaungkan suara masyarakat, mendesak Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membuka mata terhadap krisis iklim yang makin memperburuk kualitas hidup masyarakat,” kata Jeanny dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).
Jeanny juga menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung selama empat bulan di sejumlah daerah, terutama di Kalimantan. Kabut asap berkepanjangan, menurutnya, menimbulkan gangguan kesehatan sekaligus menghambat aktivitas ekonomi sehari-hari. Greenpeace menilai krisis ekologis berdampak langsung pada kenaikan biaya hidup masyarakat.
Baca juga:Proses evakuasi para aktivis dilakukan oleh petugas pemadam kebakaran dengan bantuan tali sling dan perlengkapan keselamatan. Mereka turun secara bergiliran dengan mengenakan alat pelindung diri. Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E.P. Hutagalung menjelaskan bahwa seorang aktivis perempuan terlihat lemas saat turun dan langsung dibawa menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan Polda Metro Jaya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons aksi tersebut dengan meminta para peserta segera turun dan mengakhiri aksinya agar tidak menimbulkan gangguan ketertiban bagi masyarakat luas. Pramono mengapresiasi kritik yang disampaikan Greenpeace, tetapi mengingatkan agar penyampaian pendapat tidak mengganggu kepentingan umum maupun membahayakan keselamatan.
Enam Aktivis Dipulangkan Setelah 8 Jam
Setelah dievakuasi, keenam aktivis Greenpeace Indonesia dibawa ke Polda Metro Jaya. Mereka sempat tertahan selama kurang lebih 8 jam sejak dibawa oleh tim Biddokkes Polda Metro Jaya pada Selasa siang. Menurut laporan, mereka akhirnya diizinkan pulang pada Selasa malam setelah menjalani pemeriksaan dan penanganan medis.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai status hukum para aktivis. Aksi memanjat monumen yang dilindungi sebagai cagar budaya memunculkan pertanyaan mengenai aturan demonstrasi di kawasan Bundaran HI dan konsekuensi hukumnya. Namun, pihak kepolisian belum menyampaikan rincian lebih lanjut.
Dalam dialog kebangsaan, Inayah Wahid juga menyinggung peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam konteks kebangsaan. Ia menilai makna kebangsaan saat ini harus dimaknai sebagai sikap berada bersama rakyat, terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Menurutnya, pembelaan negara tidak cukup hanya membela bentuk negara, tetapi juga harus membela rakyat sebagai pengisi negara.
Baca juga:“Ketika kita bicara soal kebangsaan, maka yang paling utama itu adalah bukan lagi hanya membela bentuk negaranya, tapi yang penting adalah membela pengisi negaranya yaitu rakyat,” ujar Inayah.
Ia juga menolak kepentingan tambang bagi NU karena dinilai hanya menguntungkan segelintir orang. Inayah menempatkan pendidikan sebagai koridor utama perjuangan. Pernyataan ini menjadi bagian dari kritiknya terhadap arah perjuangan organisasi yang menurutnya harus berpihak kepada rakyat.
Aksi Greenpeace di Bundaran HI menjadi salah satu sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Dukungan dari figur publik seperti Inayah Wahid menambah dimensi baru dalam diskusi mengenai krisis iklim dan kebijakan pemerintah. Sementara itu, keenam aktivis yang telah dipulangkan belum memberikan pernyataan lanjutan. Publik menantikan langkah berikutnya dari pemerintah dalam menangani isu lingkungan yang terus menjadi perhatian.












