Sorothari – 31 Oktober 2026 | Pemilu Israel kembali memanas setelah blok oposisi menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Partai Likud berupaya mendelegitimasi hasil pemungutan suara. Ketua Partai Yashar yang juga pemimpin blok oposisi, Gadi Eisenkot, menuding Netanyahu melancarkan kampanye terorganisasi untuk merusak legitimasi hasil pemilu Israel yang digelar Selasa (27/10/2026). Tuduhan itu muncul setelah Likud gagal meraih mayoritas kursi di Knesset dan partai-partai Arab mencatat lonjakan suara bersejarah.
Eisenkot menegaskan tidak akan membiarkan pelantikan anggota Knesset baru ditunda. “Saya tidak akan membiarkan pelantikan Knesset ditunda bahkan satu sentimeter pun dari tanggal yang dijadwalkan,” ujarnya seperti dilaporkan The Jerusalem Post pada Kamis (29/10/2026). Ia menilai Netanyahu dan Likud telah menyiapkan pernyataan serta taklimat untuk mendelegitimasi hasil pemilu lantaran kalah dan tidak memperoleh mayoritas. Eisenkot juga berjanji mencegah Netanyahu menggunakan pemerintahan untuk kepentingan pribadinya, serta menyatakan timnya tengah mempersiapkan pemungutan suara saat Knesset baru mulai bersidang.
Baca juga:Partai Arab Cetak Rekor, Blok Netanyahu Kehilangan Mayoritas
Hasil penghitungan suara yang diumumkan otoritas pemilu Israel pada Jumat dini hari menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 53 dari 120 kursi Knesset. Blok oposisi meraih 48 kursi, sementara partai-partai yang dipimpin warga Arab mengantongi 19 kursi. Jumlah itu jauh di bawah 68 kursi yang pernah dikuasai blok Netanyahu pada puncak kekuatannya di parlemen sebelumnya. Meski penghitungan suara telah selesai, hasil pemilu masih harus disahkan dan diserahkan kepada Presiden Isaac Herzog pada Rabu pekan depan.
Partai Ra’am dan Joint List, koalisi tiga partai Arab, mencatat total 19 kursi dari 120 kursi Knesset. Berdasarkan data Komite Pemilu Pusat Israel, jumlah tersebut melampaui rekor sebelumnya, yakni 15 kursi, dan meningkat lebih dari 60 persen dibandingkan pemilu 2022. Lebih dari 800.000 pemilih memberikan suara kepada dua partai yang dipimpin warga Arab, menjadikan mereka kekuatan politik penting yang berpotensi membantu kubu oposisi membentuk pemerintahan koalisi untuk menggulingkan Netanyahu. Namun, peluang itu bergantung pada kesediaan Eisenkot dan partai-partai lain untuk bekerja sama dengan kelompok politik Arab.
Di kota Sakhnin, wilayah utara Israel, tingkat partisipasi pemilih mencapai 87 persen, tertinggi di negara tersebut. Bagi sebagian warga Palestina di Israel, tingginya partisipasi bukan semata-mata menunjukkan kepercayaan terhadap demokrasi Israel. Mereka menganggap pemungutan suara sebagai upaya melawan diskriminasi, meningkatnya kekerasan, dan kebijakan pemerintahan sayap kanan Netanyahu. “Kami ada di sini dan kami bukan berada di pinggir,” kata Ketua Partai Ra’am Mansour Abbas kepada para pendukungnya pada Selasa malam.
Shin Bet Selidiki Dugaan Dana Asing, Herzog Serukan Integritas Pemilu
Badan Keamanan Israel (Shin Bet) menyelidiki dugaan aliran dana dari pihak asing, yang kemungkinan melibatkan Qatar dan Turki, untuk memengaruhi partisipasi pemilih di komunitas Arab-Israel. Penyelidikan itu mengikuti arahan Ketua Komite Pemilihan Pusat, Hakim Agung Noam Sohlberg, untuk memeriksa dugaan pendanaan asing dan politik uang dalam pemilu. Direktur Shin Bet Mayor Jenderal David Zini diperkirakan akan menyampaikan perkembangan penyelidikan kepada sebagian besar pemimpin partai politik Israel. Penyelidikan diperkirakan rampau dalam beberapa hari mendatang dan hasilnya akan diserahkan kepada Sohlberg.
Baca juga:KAN News melaporkan, dengan mengutip seorang pejabat senior Komite Pemilihan Pusat, bahwa sekalipun seluruh dugaan campur tangan asing terbukti benar, aktivitas tersebut dinilai tidak cukup luas untuk mengubah hasil pemilu. Presiden Israel Isaac Herzog menyerukan penyelidikan menyeluruh atas dugaan campur tangan asing pada Kamis. Ia menegaskan integritas pemilu merupakan nilai demokrasi utama dan pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum. Namun, Herzog juga memperingatkan agar dugaan tersebut tidak digunakan untuk merusak legitimasi proses pemilu atau mencoreng seluruh kelompok masyarakat yang telah menggunakan hak pilihnya.
Pada hari yang sama, mantan PM Israel Yair Lapid mengatakan hasil pemilu tidak terancam dan tidak ada hambatan untuk melantik anggota Knesset baru. Pernyataan itu disampaikan setelah ia bertemu Zini di Markas Besar Shin Bet. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, membantah tuduhan bahwa negaranya mencampuri pemilu Israel atau mendanai kegiatan untuk memengaruhi hasilnya. Ketua Partai Ra’am, Mansour Abbas, juga membantah keterlibatan partainya dalam dugaan skema campur tangan melalui Qatar, tetapi mendukung penyelidikan atas dugaan pendanaan asing.
Empat Skenario Politik di Tengah Kebuntuan
Dilansir BBC, Sabtu (31/10/2026), baik Netanyahu maupun blok penantang utamanya, Gadi Eisenkot, tidak terlihat akan meraih mayoritas kursi parlemen. Berikut empat skenario politik yang mungkin terjadi untuk menghadapi hasil pemilu tersebut:
- Pemerintahan persatuan nasional: Netanyahu membujuk Eisenkot bergabung dengan melepas partai sayap kanan ekstrem dan ultra-Ortodoks. Namun, Eisenkot telah memposisikan diri sebagai satu-satunya alternatif selain Netanyahu dan menyerukan pengunduran diri Netanyahu dari kehidupan politik.
- Koalisi dengan partai Arab: Jika partai oposisi bersedia bekerja sama dengan partai-partai Arab yang meraih 19 kursi, mereka berpotensi membentuk pemerintahan mayoritas untuk menggantikan Netanyahu.
- Pemerintahan minoritas: Blok oposisi dapat membentuk pemerintahan tanpa mayoritas penuh, tetapi skenario ini menghadapi tantangan politik yang besar.
- Pemilu ulang: Jika negosiasi koalisi gagal, Israel dapat menghadapi putaran pemilihan umum berikutnya. Presiden Herzog pada Rabu mengatakan segala upaya harus dilakukan untuk menghindari pemilu ulang.
Otoritas pemilihan umum Israel juga masih menghitung hampir setengah juta surat suara dari pemilih yang tidak dapat memberikan suara secara langsung. Hasil penghitungan tersebut berpotensi memengaruhi hasil akhir pemilihan umum. Di tengah proses itu, partai-partai Arab muncul sebagai pihak yang berpotensi menentukan arah pembentukan pemerintahan. Eisenkot, berbicara di markas partainya di Tel Aviv, mengatakan rakyat Israel telah memberikan suara untuk perubahan. Sementara Netanyahu, di Yerusalem, menyatakan partainya tetap menjadi kekuatan terbesar di parlemen.
Baca juga:Para analis memperkirakan pemilu Israel dapat berujung pada negosiasi koalisi yang panjang, pembentukan pemerintahan persatuan, atau penyelenggaraan pemilihan umum kembali. Konflik baru dengan Iran juga disebut dapat memberikan tekanan besar bagi para pemimpin partai untuk mengesampingkan perbedaan politik. Beberapa hari sebelum pemilu, media Israel dan AS melaporkan bahwa Netanyahu mendesak dilakukannya serangan baru terhadap Iran serta meminta Donald Trump menyetujui keterlibatan AS. Hingga saat ini, hasil resmi pemilu masih menunggu pengesahan dan penyerahan kepada Presiden Herzog pada Rabu pekan depan.












