Berita  

Sarjana Difabel Tunanetra Terpaksa Jualan Rambak karena Sulit Dapat Kerja Kantoran

Sarjana Difabel Tunanetra Terpaksa Jualan Rambak karena Sulit Dapat Kerja Kantoran
Sarjana Difabel Tunanetra Terpaksa Jualan Rambak karena Sulit Dapat Kerja Kantoran

Sorothari – 23 Juli 2026 | Cerita sarjana difabel tunanetra jualan rambak karena sulit dapat kerja kantoran kini tengah menjadi perhatian. Gilang Rizki (29), penyandang disabilitas netra asal Brebes yang telah menetap di Yogyakarta sejak 2004, harus merelakan gelar sarjana Bimbingan Konseling dari UIN Sunan Kalijaga untuk berjualan kerupuk rambak di Pasar Ngasem. Setiap hari, ia duduk di lantai lapak dengan barcode QRIS tergantung di leher, menjajakan rambak seharga Rp7 ribu per kantong. Baginya, berdagang adalah satu-satunya cara bertahan hidup setelah puluhan lamaran kerja kandas karena keterbatasan fisik.

Gilang mengaku sudah berjualan sejak masa kuliah pada 2017. Awalnya ia menjual nasi kucing, gorengan, dan aneka cemilan. Setelah lulus pada 2022 (versi lain menyebut 2024), ia tetap tidak mendapatkan pekerjaan formal. "Rung entuk gawean. Susah difabel itu," katanya. Ia sudah mencoba mengikuti job fair, namun perusahaan jarang membuka formasi untuk tunanetra. "Mesti alasannya alasan fisik, alasan apa lah gitu," ujarnya. Pekerjaan kantoran masih menjadi impiannya, namun kenyataan memaksanya untuk terus berjualan.

Baca juga:
Reformasi BGN: Ratusan Miliar Rupiah Kembali ke Kas Negara dari SPPG Bermasalah

Keseharian Gilang di Pasar Ngasem tidak selalu mulus. Ia kerap berjualan di lapak milik pedagang lain yang sedang libur, berkat kebaikan hati warga sekitar. Namun, sebagai pedagang asongan, ia sebenarnya melanggar Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 3 Tahun 2022 Pasal 17 yang melarang mengasong di kawasan pasar. Pada 18 Juli 2026, petugas pasar mendatanginya dan memintanya mencari tempat lain. "Kemarin aku dibilangin. Iya, kayak petugas sananya. Aku dibilang gitu, ‘sebenarnya nuwun sewu ya, Mas. Ini sebenarnya tuh udah nggak boleh yang liar-liar gitu, gimana kalau misal cari tempat lain?’," kenang Gilang. Ia mengaku beberapa kali mendapat imbauan serupa, namun ia merasa tidak punya pilihan lain.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perdagangan berupaya mencari solusi. Kepala Bidang Pasar Rakyat, Gunawan Nugroho Utomo, menyatakan akan mendiskusikan kemungkinan tempat khusus bagi difabel di Pasar Ngasem, misalnya di gazebo yang biasa digunakan warga untuk makan. Solusi jangka pendek yang ditawarkan adalah menitipkan dagangan Gilang ke pedagang resmi yang terdaftar. "Contohnya apakah memungkinkan jika dagangannya itu dititipkan oleh teman-teman pedagang jajan pasar yang ada di Pasar Ngasem," kata Gunawan. Alternatif lain adalah berpindah ke salah satu dari 29 pasar lain yang dikelola Pemkot, namun Gilang lebih memilih tetap di Ngasem karena lokasinya ramai pengunjung.

Baca juga:
Pesawat AS Tembak Kapal Tanker yang Coba Terobos Blokade Selat Hormuz

Gilang sendiri mengaku sempat berjualan keliling di sekitar Malioboro, namun kini tidak memungkinkan. Ia sangat bergantung pada Pasar Ngasem sebagai ladang rezeki. "Aku memang senang sama rambak awalnya, yang tak incer kan wisatawan to kayak di sini. Masih setoran, sekali dikirim 10 kantong gini to, soale ambil dari Solo,” jelasnya. Meski berat, ia tetap berharap ada lowongan kerja yang bisa menerima difabel. "Sebenarnya pengin kerja di kantor gitu kan,” ujarnya lirih. Kisah Gilang menjadi gambaran nyata betapa sulitnya penyandang disabilitas mendapatkan pekerjaan formal di Indonesia, meski telah mengantongi gelar sarjana.

Baca juga:
Patahkan Narasi Liar, Nanik S Deyang Unggah Foto di RS, Jawab Isu Korupsi MBG: Jadi Bahan Bully-an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *