Sorothari – 21 Juli 2026 | TNI Angkatan Udara (AU) resmi menerima tambahan enam unit jet tempur T-50i dari Korea Selatan dalam kontrak senilai Rp3,4 triliun. Pengiriman pesawat buatan Korea Aerospace Industries (KAI) itu rampung pada 16 Juli 2026, menuntaskan kontrak yang diteken Kementerian Pertahanan pada Juli 2021.
Dengan tambahan ini, total armada T-50i yang dimiliki TNI AU kini mencapai 22 unit. Enam unit tersebut merupakan pesanan baru yang menyusul pengadaan 16 unit sebelumnya pada 2011. Indonesia menjadi negara asing pertama yang mengoperasikan varian ekspor pesawat latih supersonik T-50 buatan Korea Selatan.
Baca juga:Dari enam unit yang dikirim, dua unit pertama tiba di Indonesia pada Februari 2026. Kedua pesawat tersebut diterbangkan melalui kargo udara dan mendarat di Lanud Juanda, Sidoarjo, sebelum kemudian dipindahkan ke Lanud Iswahjudi, Madiun, untuk proses perakitan ulang dan pemeriksaan teknis. Kepala Biro Informasi Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait memastikan seluruh proses logistik berjalan sesuai prosedur resmi dan aman.
“Seluruh proses logistik dan pemindahan alutsista dilakukan melalui mekanisme resmi, aman, serta sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Rico dalam keterangannya pada Maret 2026. Pernyataan itu sekaligus merespons viralnya video yang memperlihatkan dua truk trailer mengangkut pesawat T-50i yang ditutup kain hitam dan dikawal polisi militer.
Baca juga:Jet T-50i merupakan pesawat latih lanjutan yang digunakan TNI AU untuk transisi menuju pesawat tempur F-16. Dengan bertambahnya unit, kapasitas pelatihan pilot tempur nasional semakin diperkuat. Selain itu, kerja sama pertahanan Indonesia-Korea Selatan terus meluas, termasuk dalam proyek pengembangan bersama pesawat tempur generasi baru KF-21. Indonesia juga telah mengakuisisi 20 unit pesawat latih dasar KT-1 buatan KAI, sehingga total pesawat buatan Korea Selatan yang dimiliki mencapai 42 unit.
Pengiriman terakhir ini menandai komitmen kedua negara dalam memperkuat hubungan strategis di bidang industri pertahanan. TNI AU pun kini memiliki armada yang lebih modern untuk mendukung kesiapsiagaan operasional dan kedaulatan udara nasional.
Baca juga:












