Berita  

AS Perkuat Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru untuk Rusia, Uni Eropa Blokir Platform Kripto

AS Perkuat Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru untuk Rusia, Uni Eropa Blokir Platform Kripto
AS Perkuat Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru untuk Rusia, Uni Eropa Blokir Platform Kripto

Sorothari – 30 Juli 2026 | Dalam upaya memperkuat Ukraina, Amerika Serikat bersama sekutunya kembali menjatuhkan sanksi baru untuk Rusia. Langkah terbaru meliputi pemblokiran 14 platform kripto oleh Uni Eropa yang diduga membantu Moskow menghindari sanksi, serta kekhawatiran atas keterlibatan Korea Utara yang memasok ribuan tentara tambahan.

Uni Eropa resmi memperluas sanksi terhadap Rusia dengan menargetkan industri aset kripto. Pada 23 Juli 2026, Dewan Uni Eropa mengadopsi paket sanksi ke-21 yang melarang transaksi terhadap 14 penyedia layanan aset kripto (CASP) yang berbasis di negara ketiga. Ini adalah pertama kalinya Uni Eropa menggunakan instrumen hukum baru untuk membatasi aktivitas penyedia layanan kripto di luar wilayahnya. Selain itu, sanksi juga menjatuhkan pembekuan aset terhadap 94 bank dan lembaga keuangan Rusia, serta menargetkan 218 individu dan entitas lain.

Baca juga:
Klaim Intelijen Terkait WNI Masuk Militer Rusia di Perang Ukraina, Menhan dan Kemlu Buka Suara

Langkah ini menandai babak baru dalam pengawasan industri kripto global. Sebelumnya, Uni Eropa hanya dapat menjatuhkan sanksi secara individual terhadap bursa kripto atau dompet digital tertentu. Dengan kewenangan baru, regulator Eropa kini dapat langsung memutus akses terhadap seluruh penyedia layanan kripto di yurisdiksi tertentu tanpa harus memberikan sanksi satu per satu. Kebijakan ini diharapkan lebih efektif dalam menghalau upaya Rusia menghindari sanksi ekonomi melalui aset digital.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa Rusia bersiap menerima tambahan 30.000 tentara dari Korea Utara. Persiapan telah dilakukan sejak Juni di wilayah Voronezh, dekat perbatasan Ukraina. Zelenskyy juga menyebut Korea Utara akan mengirimkan peluncur rudal balistik tambahan. “Rusia ingin mendapatkan tambahan 30.000 tentara dari Korea Utara. Sejak Juni, persiapan untuk menerima mereka telah dilakukan di wilayah Voronezh, Rusia,” tulis Zelenskyy di platform X.

Baca juga:
Intel AS: Pemimpin Baru Iran Lebih Berambisi Miliki Senjata Nuklir

Kerja sama militer Rusia dan Korea Utara semakin erat setelah kedua negara menandatangani perjanjian bantuan militer pada 2024. Korea Utara sebelumnya telah mengirim ribuan tentara untuk membantu Rusia memukul mundur serangan balasan Ukraina di wilayah Kursk pada 2024, serta memasok persenjataan sejak invasi 2022. Menurut perkiraan Korea Selatan, sekitar 2.000 tentara Korea Utara telah tewas dalam perang tersebut.

Zelenskyy memperingatkan bahwa dukungan Korea Utara tidak hanya mengancam Ukraina, tetapi juga negara-negara di Asia. “Rusia membantu Korea Utara mempelajari cara berperang, menyempurnakan persenjataannya, dan memperoleh pengalaman tempur nyata. Semua ini menjadi ancaman bagi siapa pun di Asia yang berada dalam jangkauan rudal Korea Utara,” ujarnya.

Baca juga:
Dinamika Muktamar ke-35 NU: Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU, Gus Yusuf Gugur

Paket sanksi baru untuk Rusia ini menunjukkan komitmen AS dan sekutunya untuk terus memperkuat Ukraina di tengah eskalasi konflik. Dukungan militer dan sanksi ekonomi diharapkan dapat menekan kemampuan Rusia untuk melanjutkan invasi. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Rusia atau Korea Utara terkait pengiriman tentara tambahan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *