Berita  

Intel AS: Pemimpin Baru Iran Lebih Berambisi Miliki Senjata Nuklir

Intel AS: Pemimpin Baru Iran Lebih Berambisi Miliki Senjata Nuklir
Intel AS: Pemimpin Baru Iran Lebih Berambisi Miliki Senjata Nuklir

Sorothari – 27 Juli 2026 | Intelijen Amerika Serikat menilai bahwa pemimpin baru Iran, Presiden Masoud Pezeshkian, menunjukkan ambisi yang lebih besar untuk memiliki senjata nuklir dibandingkan pendahulunya. Penilaian ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara, dengan serangkaian serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan penolakan Teheran terhadap usulan gencatan senjata.

Serangan terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada 17 Juli 2026 menewaskan tiga tentara AS, termasuk Sersan Angel Rampersad yang sebelumnya dilaporkan hilang. Pentagon mengonfirmasi jumlah korban jiwa tersebut, menjadikan serangan itu sebagai yang keempat dalam lima hari terakhir. Analis militer menduga Iran menggunakan rudal Kheibar Shekan, salah satu rudal balistik paling canggih milik mereka, yang mampu menjangkau setidaknya 1.448 kilometer dan dilengkapi sistem manuver untuk menghindari pertahanan udara.

Baca juga:
Houthi Berencana Pungut Tarif di Selat Bab el-Mandeb, Terinspirasi Iran

Kemampuan rudal Iran yang semakin akurat memicu pertanyaan apakah peningkatan ini berasal dari bantuan China dan Rusia. Menurut para analis, kombinasi citra satelit China dan taktik militer Rusia yang dipelajari selama perang di Ukraina telah meningkatkan efektivitas serangan Iran. Serangan di Yordania berhasil menembus sistem pertahanan Thaad, meskipun penyebab kegagalan sistem tersebut masih diselidiki oleh Kementerian Pertahanan AS.

Penolakan Gencatan Senjata dan Ancaman Perluasan Konflik

Iran menolak usulan gencatan senjata yang disampaikan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi atas nama AS. Menurut laporan The New York Times, proposal tersebut dinilai tidak menyelesaikan persoalan kendali atas Selat Hormuz, yang menjadi syarat utama Iran. Kunjungan al-Zaidi ke Teheran merupakan lawatan resmi pertamanya sejak menjabat pada Mei 2026, dan ia bertemu dengan Presiden Pezeshkian serta sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya.

Para pejabat Iran mengindikasikan bahwa mereka bersiap menghadapi kemungkinan meluasnya konflik jika Presiden AS Donald Trump merealisasikan ancaman serangan terhadap infrastruktur penting Iran. Sebagai respons, Teheran berencana memperluas konflik ke tingkat regional, termasuk menargetkan Tel Aviv dan meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.

Baca juga:
Reformasi BGN: Ratusan Miliar Rupiah Kembali ke Kas Negara dari SPPG Bermasalah

Sasaran Baru di Israel dan Fasilitas Nuklir

Iran juga telah menyusun daftar target baru di Israel yang akan diserang jika terjadi serangan terhadap fasilitas mereka. Menurut sumber keamanan Iran, target tersebut adalah bangunan yang tidak dapat diperbaiki atau dibangun kembali dalam waktu singkat, sehingga diharapkan dapat mempercepat emigrasi dari Israel. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya sensitivitas Iran terhadap fasilitas Shahid Alimohammadi, yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe, dekat kompleks nuklir Natanz.

Fasilitas bawah tanah itu dilaporkan digunakan untuk merakit sentrifugal canggih, namun intelijen AS dan Israel mencurigai lokasi tersebut mungkin menampung fasilitas pengayaan uranium rahasia. Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap Gunung Pickaxe akan memicu respons langsung terhadap Israel, meskipun serangan itu dilakukan oleh AS tanpa partisipasi Israel yang diumumkan.

Dengan perkembangan ini, intelijen AS semakin yakin bahwa Presiden Pezeshkian, yang baru menjabat, memiliki komitmen lebih kuat untuk mempercepat program nuklir Iran. Para pejabat AS khawatir bahwa ambisi nuklir Iran yang meningkat dapat memicu perlombaan senjata di kawasan Timur Tengah dan mengancam stabilitas global.

Baca juga:
BGN Bingung Manfaatkan Ribuan Motor Listrik Hasil Pengadaan Era Dadan Hindayana

Hingga saat ini, Iran belum memberikan tanggapan resmi mengenai penilaian intelijen AS tersebut. Namun, sikap keras Teheran dalam menolak gencatan senjata dan ancaman perluasan konflik menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *