Sorothari – 23 Juli 2026 | Empat tahun setelah hubungan energi Jerman dan Rusia runtuh, paradoks besar kini membayangi perekonomian terbesar Eropa. Di satu sisi, Berlin bertekad mempertahankan jalur pemisahan energi dari Moskow dan menolak kembali bergantung pada gas Rusia. Namun di sisi lain, industri Jerman masih terbebani energi mahal karena belum menemukan sumber pengganti yang mampu menyamai harga, volume, dan fleksibilitas pasokan gas Rusia di masa lalu. Kanselir Friedrich Merz secara terbuka mengakui ketiadaan gas Rusia sebagai salah satu faktor di balik krisis energi berkepanjangan yang masih menghantui negaranya.
Pernyataan itu disampaikan Merz dalam wawancara musim panas ZDF yang disiarkan pekan ini. Ia tidak ditanya secara khusus mengenai pembukaan kembali jaringan pipa Nord Stream, melainkan mengenai janji kampanye yang belum terpenuhi dan rendahnya kepercayaan publik terhadap pemerintahannya. Merz menjelaskan bahwa kondisi yang dihadapi pemerintah kini telah berubah besar sejak masa kampanye. Ia menyebut perang Ukraina, hubungan yang sulit dengan Amerika Serikat, tantangan dari China, serta krisis energi berkepanjangan akibat tidak adanya gas Rusia sebagai faktor-faktor utama.
Baca juga:Ucapan Merz tidak berarti ia menjadikan gas Rusia sebagai satu-satunya penyebab masalah ekonomi Jerman. Ia juga tidak menyerukan pembukaan kembali Nord Stream atau pemulihan kerja sama energi dengan Moskow. Namun, pernyataan itu tetap penting karena untuk pertama kalinya dalam konteks tersebut, Merz secara eksplisit menghubungkan krisis energi yang berlarut-larut dengan hilangnya sumber pasokan yang dahulu menjadi salah satu fondasi industri Jerman.
Krisis energi Jerman saat ini berbeda dengan keadaan pada 2022, ketika penghentian aliran gas Rusia menimbulkan kekhawatiran bahwa pasokan untuk rumah tangga dan industri tidak mencukupi selama musim dingin. Kini Jerman memiliki lebih banyak pilihan pasokan. Gas dapat masuk melalui jaringan pipa Eropa, terminal gas alam cair atau LNG, produksi domestik dalam jumlah kecil, serta fasilitas penyimpanan. Data Bundesnetzagentur atau Badan Jaringan Federal menunjukkan Jerman mengimpor 1.031 terawatt-jam gas sepanjang 2025. Sebanyak 44 persen masuk dari Norwegia, 24 persen melalui Belanda, dan 21 persen melalui Belgia. Sekitar 106 TWh atau 10,3 persen dari seluruh impor masuk melalui terminal LNG di Jerman.
Baca juga:Meskipun pasokan gas telah terdiversifikasi, harga energi tetap tinggi dan daya saing industri Jerman terus terkikis. Para pelaku industri mengeluhkan biaya produksi yang melonjak, sementara pemerintah berupaya mencari solusi jangka panjang. Paradoks ini menunjukkan bahwa meskipun Jerman berhasil mengurangi ketergantungan pada Rusia, transisi energi yang cepat dan mahal masih meninggalkan beban berat bagi sektor industri.
Hingga saat ini, belum ada keputusan politik untuk kembali membuka keran gas Rusia. Kanselir Merz dan pemerintahannya tetap pada pendirian untuk tidak bergantung pada Moskow. Namun, tantangan energi yang dihadapi Jerman memerlukan strategi komprehensif agar industri dapat kembali bersaing di pasar global tanpa mengorbankan prinsip keamanan energi nasional.
Baca juga:












