Sorothari – 27 Juli 2026 | Penyanyi Amerika Serikat Katy Perry melayangkan protes keras setelah mengetahui lagu hitnya, ‘Firework‘, digunakan sebagai latar video serangan militer yang diunggah oleh akun TikTok resmi Gedung Putih. Dalam pernyataan yang dikutip dari The Hollywood Reporter pada Sabtu (25/7) waktu setempat, Perry menegaskan bahwa musiknya diciptakan untuk menyatukan orang, bukan untuk merayakan peperangan.
Perry mengaku terkejut dan marah saat mengetahui lagu ‘Firework’ dari album ‘Teenage Dream’ digunakan tanpa izin dalam video yang menampilkan cuplikan serangan militer. Video tersebut diunggah pada Kamis (23/7) dan menunjukkan bagian lirik ‘boom, boom, boom’ yang diputar bersamaan dengan tayangan ledakan bom, disertai keterangan bertuliskan ‘Iran telah diperingatkan.’
Baca juga:“Musik saya bertujuan untuk menyatukan orang, bukan merayakan peperangan,” ujar Perry melalui akun X miliknya. Ia menambahkan, “Saya tidak menyetujui ini, saya tidak diminta, dan saya sama sekali tidak membenarkannya.” Perry menekankan bahwa lagu ‘Firework’ ditulis sebagai lagu harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin bagi orang-orang yang sedang menghadapi masa sulit. Ia merasa pesan tentang harga diri dan peningkatan diri telah dipersenjatai untuk mengiringi kehancuran dan kekerasan, yang dinilainya sebagai pelanggaran total terhadap semua yang diwakili lagunya.
Katy Perry bukanlah artis pertama yang memprotes penggunaan musik mereka oleh pemerintahan Trump dalam konteks politik. Sebelumnya, artis seperti Ariana Grande, Sabrina Carpenter, Olivia Rodrigo, Celine Dion, dan Kenny Loggins juga pernah mengecam tindakan serupa. Awal tahun ini, Kesha mengecam Gedung Putih yang menggunakan lagunya ‘Blow’ dalam video TikTok yang menampilkan jet tempur dengan keterangan terkait kematian.
Baca juga:Protes terbaru ini menyoroti kembali praktik pemerintah AS yang kerap menggunakan lagu-lagu populer tanpa izin dalam konten media sosial yang bersifat provokatif. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Gedung Putih terkait kecaman Katy Perry. Para penggemar dan publik menantikan respons lebih lanjut, sementara Perry tetap pada pendiriannya bahwa musiknya tidak boleh disalahgunakan untuk tujuan militer atau kekerasan.
Baca juga:












