Sorotan Sikap Mattéo Guendouzi Usai Laga Panas Fenerbahce Lawan Lyon

Sorotan Sikap Mattéo Guendouzi Usai Laga Panas Fenerbahce Lawan Lyon
Sorotan Sikap Mattéo Guendouzi Usai Laga Panas Fenerbahce Lawan Lyon

Sorothari – 01 September 2026 | Gelandang Fenerbahce, Mattéo Guendouzi, kembali menjadi pusat perhatian publik sepak bola Eropa setelah terlibat keributan panas pascalaga penentuan play-off Liga Champions kontra Olympique Lyonnais di Groupama Stadium. Pertandingan yang memastikan langkah klub asal Turki tersebut ke fase utama kompetisi elite Eropa berakhir ricuh akibat aksi provokasi di atas lapangan dan lorong ruang ganti.

Kemenangan 2-1 yang diraih Fenerbahce di kandang Lyon memicu emosi tinggi. Selepas peluit panjang dibunyikan wasit, Guendouzi merayakan kelolosan timnya secara emosional dan meluapkan ejekan ke arah tribune pendukung tuan rumah. Ketegangan semakin meruncing hingga memicu perkelahian massal antara pemain dan staf kedua kubu, termasuk insiden keterlibatan pelatih kiper di lorong stadion menuju ruang ganti.

Baca juga:
Tantangan Persebaya Surabaya di Laga Perdana Super League: Badai Cedera hingga Tekanan Suporter

Saat memberikan keterangan di area mixed zone, pemain berusia 27 tahun tersebut membela diri atas tindakannya yang dinilai memicu amarah publik Lyon. Guendouzi berdalih bahwa reaksinya merupakan respons langsung terhadap perlakuan suporter tuan rumah yang dianggap telah melampaui batas sepanjang laga berlangsung.

“Ketika ada 60.000 orang menghina keluarga, ibu, dan anak-anak Anda bahkan sebelum pertandingan dimulai, dan tidak ada satupun perangkat pertandingan yang menenangkan seisi stadion, Anda harus memahami reaksi tersebut,” ungkap Guendouzi. Mantan pemain Olympique de Marseille itu juga menegaskan bahwa gestur selebrasi yang ia buat hanyalah balasan biasa dan tidak bermaksud melanggar norma kesopanan.

Rekam Jejak Kontroversi Mattéo Guendouzi

Kendati sang gelandang merasa tindakannya wajar, gelombang kritik dari berbagai kalangan tetap bermunculan. Perilaku tersebut kembali membuka catatan masa lalu mengenai temperamen sang pemain tim nasional Prancis, terutama dari figur-figur yang pernah bekerja sama dengannya di level klub.

Baca juga:
Hasil Laga MU vs Ipswich: Setan Merah Comeback Gemilang 5-2 di Old Trafford

Mantan pelatih FC Lorient, Mickaël Landreau, yang pernah menangani Guendouzi pada periode 2017 hingga 2019, melontarkan komentar tajam terkait karakter sang gelandang saat menjadi komentator di program televisi Canal+. Landreau menilai sifat provokatif pemain berambut ikal tersebut sudah terbentuk sejak usia belia dan sangat menguras energi tim pelatih.

“Sejak masih muda, dia terus-menerus memprovokasi orang lain. Secara terus terang, dia sangat sulit dikendalikan. Di setiap klub yang dibelanya, dia hanya bertahan satu atau dua musim karena semua orang akhirnya tidak sanggup menghadapinya. Jika tidak dimainkan sebagai starter, dia bahkan bisa memicu keributan dalam sesi latihan dengan rekan setimnya sendiri,” tutur Landreau.

Kritik senada juga diungkapkan oleh mantan rekan setimnya di Lorient, Jimmy Cabot. Pria yang kini telah pensiun tersebut membagikan kisah ketika Guendouzi dicoret dari skuad utama bersama Faiz Selemani saat bertandang ke markas Ajaccio. Setelah Lorient menelan kekalahan dalam laga tersebut, sang gelandang justru hadir di sesi sarapan tim pada Senin pagi dengan mengenakan seragam kebesaran klub lawan.

Baca juga:
Bintang Argentina Bersinar, Laga Inter Miami vs Montréal Berakhir Pesta Gol 7-1

“Tindakan itu benar-benar tidak masuk akal. Jika saya seorang pelatih, pemain seperti itu sudah pasti langsung dikeluarkan dari tim,” kenang Cabot saat menceritakan pengalaman tersebut.

Kini bersama Fenerbahce di bawah sorotan kompetisi Super Lig Turki dan panggung Liga Champions, kiprah Mattéo Guendouzi terus berada di bawah pengawasan ketat. Kemampuan teknisnya di lini tengah tetap diakui oleh para lawan, termasuk gelandang Samsunspor Elliot Watt yang menyebut kompetisi Turki semakin kompetitif dengan kehadiran figur berlabel internasional seperti Guendouzi dan N’Golo Kante. Namun, pengelolaan emosi di dalam maupun di luar lapangan tetap menjadi tantangan terbesar bagi kelanjutan karier sang gelandang di level tertinggi sepak bola dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *