DPR AS Setujui Anggaran Rp1,7 Triliun untuk Misi Militer di Iran

DPR AS Setujui Anggaran Rp1,7 Triliun untuk Misi Militer di Iran
DPR AS Setujui Anggaran Rp1,7 Triliun untuk Misi Militer di Iran

Sorothari – 24 Juli 2026 | Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat mengesahkan rancangan anggaran senilai 95 miliar dolar AS atau setara Rp1,7 triliun untuk mendanai operasi militer di Iran, bantuan bagi petani, dan ketentuan pemilu. Keputusan ini diambil melalui pemungutan suara ketat pada Rabu (22/7/2026) dengan hasil 216 suara mendukung dan 214 menolak, menandai langkah awal Partai Republik menjalankan agenda prioritas Presiden Donald Trump di tengah kebuntuan alokasi dana.

Rincian Anggaran dan Perdebatan

Rancangan tersebut, yang diusung Partai Republik, mengalokasikan 60 miliar dolar AS untuk Komite Angkatan Bersenjata DPR, 13 miliar dolar AS untuk Komite Intelijen, 12 miliar dolar AS untuk Komite Pertanian, dan 10 miliar dolar AS untuk Komite Administrasi. Seluruh anggota Partai Demokrat menolak rancangan ini, bergabung dengan dua anggota Republik dan satu independen yang memilih berbeda. Partai Demokrat menilai dana sebesar itu seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri.

Baca juga:
Pemimpin Iran Serukan Persatuan Negara Muslim dan Ketahanan Hadapi Ancaman Luar

Untuk menghindari filibuster di Senat, Partai Republik menggunakan mekanisme rekonsiliasi anggaran yang memungkinkan pengesahan dengan mayoritas sederhana. Namun, langkah ini memicu penolakan dari faksi konservatif dalam partainya sendiri yang menganggap rancangan tidak disertai pemotongan anggaran di sektor lain. Anggota DPR dari Partai Republik Warren Davidson dari Ohio mengkritik, “Saya pikir masalahnya adalah tidak ada rencana untuk membayarnya. Rencana tanpa offset mati seketika.”

NDAA 2027 dan Biaya Perang Iran

Secara terpisah, DPR juga meloloskan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) tahun fiskal 2027 dengan nilai 1,15 triliun dolar AS, yang disahkan dengan suara 216 berbanding 212. NDAA ini mencakup kenaikan gaji militer sebesar 5-7 persen dan pendanaan untuk sistem pertahanan rudal Golden Dome. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat, mengungkapkan bahwa perang melawan Iran telah menghabiskan biaya 37,5 miliar dolar AS hingga saat ini. Ia mendesak persetujuan dana tambahan darurat sebesar 87 miliar dolar AS, dengan 67 miliar dolar AS di antaranya dialokasikan untuk operasi di Timur Tengah. “Tanpa dana ini, kita menghadapi kekurangan yang kritis,” ujar Hegseth saat pidatonya disela oleh para pengunjuk rasa anti-perang.

Baca juga:
Perdana Sejak Perang Pecah, Iran Segera Terima 400 Sistem Peluncur Rudal dari China

Penolakan Publik dan Tantangan di Senat

Langkah ini terjadi di tengah penolakan publik yang meluas. Jajak pendapat Washington Post-Ipsos menunjukkan 68 persen warga Amerika meyakini perang Iran tidak layak diperjuangkan, sementara 45 persen pemilih menilai posisi AS di dunia semakin lemah akibat konflik tersebut. Di sisi lain, rancangan anggaran menghadapi hambatan di Senat karena memuat ketentuan UU SAVE America yang mewajibkan bukti kewarganegaraan saat pendaftaran pemilih. Pemimpin Mayoritas Senat John Thune belum berkomitmen memproses rancangan dan lebih fokus pada resolusi pendanaan sementara untuk menghindari penutupan pemerintah. Kepulangan jenazah empat prajurit yang gugur di Timur Tengah turut menambah tekanan politik, dengan total korban tewas militer AS mencapai 18 orang. Seluruh paket anggaran masih harus melalui pembahasan lanjutan di Senat sebelum pemungutan suara akhir di kedua kamar.

Baca juga:
Oman Usulkan Hormuz Dikelola Bersama Iran dan Negara-Negara Teluk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *