Sorothari – 24 Juli 2026 | Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan dihentikan, meskipun ada desakan dari sejumlah pihak. Ia menyebut program tersebut merupakan tender politik Presiden Prabowo Subianto yang menjadi janji kampanye. Pernyataan ini disampaikan Sudaryono merespons narasi pembubaran BGN dan penghentian MBG yang belakangan muncul di publik.
“Kalau misalnya ada yang atas nama kritik kemudian kritiknya sama dengan misalnya hentikan atau bubarkan MBG, bubarkan BGN, saya kira itu bukan kritik,” ujar Sudaryono di kantornya, Rabu (23/7/2026). Menurutnya, tuntutan semacam itu berada di luar kapasitas dan kewenangannya. Fokus utama BGN saat ini adalah restrukturisasi manajerial dan pembenahan tata kelola agar program berjalan lebih baik.
Baca juga:Sudaryono menegaskan bahwa MBG adalah amanah negara yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. “Ini tender politik Prabowo, janji saat kampanye. Tidak mungkin dihentikan,” kata dia tegas.
Sidak dan Ancaman Penutupan Dapur Tak Layak
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Sudaryono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SDN Bantarjati 9, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/7/2026). Sidak tanpa pemberitahuan itu dilakukan pada hari ketiganya menjabat sebagai Kepala BGN. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tidak memenuhi standar akan dibina dan dievaluasi. Jika tetap tidak menunjukkan perbaikan, operasionalnya akan dihentikan.
“Kita sisir mana yang memang kurang, kita suruh perbaiki segera. Kalau enggak bisa disuruh perbaiki, enggak bisa, kita tutup. Jadi kita juga tegas, tapi di sisi lain kita juga apresiasi terhadap upaya yang telah dilakukan kawan-kawan semuanya,” ujar Sudaryono seusai sidak.
Setiap SPPG wajib memenuhi standar keamanan pangan, mutu gizi, kebersihan, dan tata kelola yang telah ditetapkan. “Jangan sampai nila setitik, kemudian rusak susu sebelanga,” sambungnya. Evaluasi tidak hanya menyangkut kebersihan dapur, tetapi juga menu makanan, penyajian, hingga tingkat penerimaan siswa terhadap makanan yang disediakan.
Baca juga:Perkuat Edukasi Gizi di Sekolah
Sudaryono menambahkan bahwa BGN akan memperkuat edukasi gizi di sekolah melalui penambahan materi yang disampaikan kepada siswa. Edukasi tersebut meliputi pentingnya mencuci tangan sebelum makan, memahami kandungan gizi makanan, hingga membiasakan konsumsi sayuran sejak dini. “Ini bukan makan enak gratis, bukan makan yang disukai gratis, tetapi makan bergizi gratis yang diusahakan enak dan porsinya sesuai,” tegasnya.
Saat ini, sekitar 27 ribu dapur MBG telah beroperasi di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar menjalankan tugasnya dengan baik, namun BGN akan terus melakukan pengawasan serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan dinas pendidikan agar pelaksanaan program berjalan lebih optimal.
Komitmen Tata Kelola yang Transparan
Dalam kesempatan terpisah, Sudaryono menegaskan bahwa BGN di bawah kepemimpinannya akan mengeliminasi praktik-praktik arahan sepihak yang tidak memiliki dasar hukum. Seluruh roda operasional dan penyaluran anggaran akan bertumpu pada prosedur operasi standar yang terukur. “Kalau tadinya mungkin semua sesuai arahan si ini si itu nggak ada. Kita sesuai dengan juklak juknis aturan dan sistem yang kita bangun,” ujarnya.
Ia juga mendorong partisipasi masyarakat sebagai pengawas (whistleblower) untuk melaporkan anomali atau penyelewengan di lapangan, misalnya masalah standar gizi di unit dapur umum. “Kita langsung investigasi, kita ingin menegakkan yang benar, kita tegakkan yang baik. Jangan sampai satu dua yang salah kemudian dianggap yang lain juga keliru,” pungkasnya.
Baca juga:Dengan langkah-langkah tersebut, Sudaryono optimistis program MBG dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia sesuai dengan janji kampanye Presiden Prabowo.













