Sorothari – 11 September 2026 | Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia kembali menunjukkan peningkatan signifikan, di mana pemantauan intensif terhadap setiap volcano aktif terus diperketat guna mengantisipasi ancaman bagi keselamatan publik dan jalur transportasi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama otoritas kebencanaan daerah mencatat intensitas kegempaan yang tinggi di Gunung Semeru, Jawa Timur, serta dampak erupsi dari Gunung Anak Krakatau yang sempat memengaruhi sektor penerbangan dan memicu perhatian regional.
Berdasarkan rekaman seismograf Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur, Kabupaten Lumajang, Semeru tercatat mengalami puluhan kali gempa letusan dalam satu hari. Meskipun kepulan asap kawah kerap tidak teramati secara visual akibat tertutup kabut tebal dan cuaca mendung, instrumen pemantau mendeteksi puluhan gempa erupsi dengan amplitudo berkisar antara 10 hingga 25 milimeter serta durasi 56 hingga 182 detik. Selain gempa letusan, pos pengamatan juga merekam belasan kali gempa guguran dan embusan.
Baca juga:Peringatan Bahaya Lahar dan Zona Rawan Semeru
Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut masih bertahan pada Status Level III (Siaga). Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengingatkan masyarakat mengenai potensi ancaman lahar hujan yang dapat mengalir ke daerah aliran sungai di kawasan lereng gunung, mengingat wilayah Lumajang dan sekitarnya kerap diguyur hujan.
Sejalan dengan evaluasi aktivitas volcano tertinggi di Pulau Jawa tersebut, PVMBG mengimbau masyarakat untuk mematuhi sejumlah rekomendasi keselamatan teknis:
- Mengosongkan seluruh aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak kawah.
- Membatasi aktivitas dalam jarak 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 17 kilometer dari puncak karena potensi perluasan awan panas guguran dan aliran lahar.
- Menjauhi area dalam radius 5 kilometer dari kawah utama Semeru guna menghindari bahaya lontaran batu pijar.
Dampak Erupsi Anak Krakatau dan Klarifikasi Internasional
Sementara itu, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda turut memberikan dampak terhadap mobilitas masyarakat. Penutupan operasional bandara yang sempat terjadi pascaerupsi menyebabkan sekitar 150 hingga 200 pekerja migran asal Indonesia dengan tujuan Hong Kong tertahan keberangkatannya. Ketua Asosiasi Agen Tenaga Kerja Hong Kong, Cheung Kit-man, menyampaikan bahwa meski sebagian penerbangan mulai dialihkan melalui kota lain seperti Surabaya, pihak agensi tetap menyiapkan rencana darurat mengingat karakter letusan gunung api yang sulit diprediksi.
Baca juga:Di sisi lain, dinamika sebaran abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau sempat memicu kekhawatiran lintas negara. Menanggapi kabar viral mengenai potensi sebaran gas berbahaya dan abu vulkanik yang melintasi wilayah udara Malaysia, Direktur Jenderal Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia), Dr. Mohd Hisham Mohd Anip, menegaskan bahwa tidak ada indikasi material vulkanik memasuki ruang udara Malaysia.
Data pemantauan yang dikoordinasikan dengan pusat pengamatan internasional di Darwin menunjukkan bahwa pergerakan abu dari volcano di Selat Sunda tersebut bergerak menuju perairan Samudra Hindia di barat laut Sumatra dan menjauhi daratan Semenanjung Malaysia maupun wilayah Sabah dan Sarawak. Otoritas meminta masyarakat untuk tidak termakan kabar bohong yang mengaitkan fenomena erupsi dengan anomali cuaca seperti El Nino.
Pemerintah dan instansi terkait terus mengimbau warga di sekitar kawasan rawan bencana untuk selalu memperbarui informasi melalui saluran resmi kementerian dan lembaga kebencanaan, serta tetap mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan.
Baca juga:






