Berita  

Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Kenaikan Kasus ISPA di Banten, Lampung, dan Bogor

Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Kenaikan Kasus ISPA di Banten, Lampung, dan Bogor
Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Kenaikan Kasus ISPA di Banten, Lampung, dan Bogor

Sorothari – 10 September 2026 | Peningkatan sebaran abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memicu lonjakan kasus ISPA di sejumlah daerah di Pulau Sumatra dan Jawa. Otoritas kesehatan di Provinsi Banten, Provinsi Lampung, dan Kota Bogor mencatat adanya eskalasi keluhan infeksi saluran pernapasan akut yang dialami warga, seiring dengan penurunan mutu udara di wilayah terdampak paparan debu vulkanik dalam beberapa hari terakhir.

Di Provinsi Banten, lonjakan kasus gangguan pernapasan tercatat paling signifikan. Pemerintah Provinsi Banten melaporkan bahwa penderita gangguan pernapasan meningkat hingga 2,5 kali lipat dari kondisi normal. Jumlah penderita yang biasanya berkisar di angka 2.000 orang melonjak drastis hingga menyentuh kisaran 4.500 penderita berdasarkan rekapitulasi data Dinas Kesehatan setempat.

Baca juga:
Aktivitas Volcano di Indonesia Meningkat, Gunung Semeru dan Anak Krakatau Jadi Sorotan

Menyikapi situasi tersebut, Pemprov Banten mengambil langkah protektif dengan memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para pelajar hingga Jumat (11/9/2026). Kebijakan ini diambil guna meminimalkan risiko paparan partikel debu berbahaya pada anak-anak. Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banten dikerahkan untuk melakukan uji mutu udara secara berkala, menyusul status Gunung Anak Krakatau yang berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026.

Situasi Kasus ISPA di Lampung dan Bandar Lampung

Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mendata 2.416 kasus infeksi pernapasan sepanjang 4 hingga 7 September 2026. Data tersebut dihimpun dari laporan fasilitas kesehatan primer di sembilan kabupaten dan kota. Enam wilayah lainnya dilaporkan masih melengkapi pendataan secara bertahap.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr Djohan Lius menyatakan bahwa rata-rata harian penderita pernapasan selama periode erupsi berada pada angka 837 kasus per hari. Angka ini naik sekitar dua kasus harian atau 0,24 persen dibandingkan rata-rata Januari hingga Agustus 2026 yang berada di posisi 835 kasus per hari. Secara epidemiologis, perbedaan ini dinilai belum menunjukkan lonjakan yang luar biasa, namun pemantauan terus diintensifkan.

Baca juga:
Erupsi Gunung Anak Krakatau Mereda, Citilink Kembali Buka Penerbangan

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengonfirmasi bahwa selain infeksi pernapasan, sejumlah penyakit penyerta dan dampak ikutan turut terdeteksi di fasilitas kesehatan primer, khususnya di kawasan pesisir:

  • Pneumonia: 23 kasus
  • Influenza: 68 kasus
  • Asma: 67 kasus
  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): 79 kasus
  • Heat stroke: 23 kasus
  • Penyakit kulit atau dermatitis: 66 kasus

Di tingkat kota, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat penambahan 84 kasus dalam kurun dua hari, dari 632 pasien pada 5 September menjadi 716 pasien pada 7 September 2026 atau tumbuh 13,3 persen. Kepala Dinkes Bandar Lampung Muhtadi A. Temenggung menyebutkan kenaikan kasus terdistribusi di beberapa kecamatan utama.

Kecamatan Kasus Awal (5 Sept) Kasus Akhir (7 Sept) Persentase Kenaikan
Telukbetung Timur 7 36 414,3%
Kedamaian 11 36 227,3%
Telukbetung Selatan 16 36 125,0%
Rajabasa 21 43 104,8%
Tanjungkarang Pusat 15 27 80,0%

Respons Kewaspadaan dan Distribusi Logistik di Kota Bogor

Dampak sebaran partikel debu vulkanik juga terasa hingga ke Kota Bogor, Jawa Barat. Kepala Diskominfo Kota Bogor Ana Ismawati mengungkapkan bahwa total pasien ISPA dan asma bertambah sebanyak 353 orang, dari 1.669 pasien pada 7 September menjadi 2.022 pasien pada 8 September 2026. Secara khusus, kasus infeksi saluran napas naik 24 persen dari 1.472 menjadi 1.824 kasus, sedangkan asma naik dari 25 menjadi 29 kasus.

Baca juga:
Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Penutupan Bandara Soekarno-Hatta Diperpanjang

Sebagai langkah mitigasi cepat, Pemerintah Kota Bogor telah mendistribusikan 190.000 masker kepada masyarakat, memprioritaskan kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, dan pekerja lapangan. Penguatan surveilans harian secara real-time terus dijalankan di seluruh puskesmas, klinik, dan rumah sakit.

Masyarakat di seluruh wilayah terdampak diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak, menutup ventilasi dan jendela saat debu pekat melintas, serta disiplin mengenakan masker berstandar medis saat beraktivitas di luar. Warga diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *