Sorothari – 12 September 2026 | Kebakaran lahan melanda kawasan hutan di lereng Gunung Cikuray Garut serta kaki Gunung Guntur, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peristiwa yang terjadi sepanjang akhir pekan pada 4 hingga 5 September tersebut menghanguskan sedikitnya lima hektare lahan milik Perhutani. Petugas gabungan yang dikerahkan ke lokasi berupaya keras memadamkan kobaran api guna mencegah rambatan menuju permukiman warga terdekat.
Titik api awalnya terdeteksi di kawasan kaki Gunung Guntur, tepatnya di enam titik wilayah Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, pada Sabtu siang. Selang beberapa waktu kemudian, kobaran api baru dilaporkan muncul di kaki Gunung Cikuray, yang berada di kawasan Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang. Menghadapi situasi tersebut, tim gabungan yang terdiri atas unsur kepolisian, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar), serta Perhutani langsung dikerahkan ke lokasi kejadian.
Baca juga:Penanganan Medis dan Penyekatan Jalur Api di Gunung Cikuray Garut
Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Susilo Adhi, mengonfirmasi bahwa operasi pemadaman dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan area yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat. Penanganan difokuskan untuk menghentikan laju api agar tidak menembus batas permukiman warga.
Medan yang terjal dan sulit dijangkau kendaraan pemadam menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan. Akibat akses yang terbatas, personel terpaksa melakukan pemadaman secara manual menggunakan alat semprot portabel serta teknik penyekatan tanah. Di kawasan lereng Gunung Cikuray Garut, tim membuat ilaran atau batas tanah di sekeliling kobaran api guna mengisolasi pembakaran vegetasi. Lokasi titik api di Desa Mekarjaya berjarak cukup jauh dari permukiman dan membutuhkan waktu tempuh jalan kaki sekitar dua jam dengan rute berisiko.
Berkat kerja keras tim terpadu, kobaran api di kawasan lereng Gunung Cikuray berhasil dikendalikan menjelang tengah malam. Sementara itu, di area kaki Gunung Guntur, proses lokalisasi api secara manual juga membuahkan hasil sehingga bara api tidak lagi mengancam perumahan warga sekitar.
Baca juga:Kondisi Vegetasi Kering dan Kewaspadaan Musim Kemarau
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut, Aah Anwar Saefuloh, mengingatkan bahwa kondisi lingkungan di kawasan pegunungan saat ini sangat rentan terbakar. Tingginya populasi vegetasi kering, seperti rumpun bambu dan semak belukar, mempercepat potensi perambatan api saat tertiup angin kencang.
Hingga saat ini, penyebab pasti munculnya titik api masih dalam proses penyelidikan dan pendataan oleh pihak berwenang. Petugas gabungan tetap disiagakan untuk memantau situasi secara berkala guna mengantisipasi kemungkinan munculnya bara api tersembunyi yang berpotensi menyala kembali.
Kawasan Gunung Cikuray sendiri merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Ciremai, Gunung Pangrango, dan Gunung Gede. Berada pada ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut (mdpl), stratovolcano tanpa kawah aktif ini membentang di beberapa wilayah kecamatan, meliputi Cilawu, Bayongbong, Cigedug, dan Cikajang. Kawasan ini memiliki nilai ekologis penting serta nilai historis panjang di tanah Priangan.
Baca juga:Aparat kepolisian dan instansi terkait mengimbau masyarakat maupun para pendaki untuk tidak melakukan pembakaran sampah, membuka lahan dengan api, atau membuang puntung rokok sembarangan di sekitar lereng pegunungan selama musim kemarau berlangsung demi mencegah bencana serupa terulang.







