Sorothari – 21 Oktober 2026 | Cuaca hari ini di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan dan Sumatra, berada dalam kondisi panas terik dan minim tutupan awan yang memicu lonjakan titik panas serta memperluas risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan peningkatan signifikan jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada periode 16–19 Oktober 2026, dengan lonjakan tertinggi tercatat di Kalimantan Tengah yang mencapai 937 titik. Kondisi ini diperparah oleh suhu udara ekstrem yang mencapai 38,5°C di Jawa Barat pada 17 Oktober 2026, serta 38°C di Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pada hari-hari sebelumnya.
Menanggapi perkembangan tersebut, TNI Angkatan Udara (TNI AU) meningkatkan intensitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalimantan. Misi yang dipusatkan di Apron Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, ini menggunakan pesawat NC-212 bernomor registrasi A-2107 untuk menyemai awan potensial hujan dengan bahan dry ice atau es kering. Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, menyatakan bahwa penyemaian difokuskan pada titik-titik krusial pembentukan curah hujan di kawasan rawan karhutla. “Penambahan intensitas penyemaian bahan berupa dry ice ini difokuskan pada titik-titik krusial penyebaran awan potensial pembentukan curah hujan di kawasan rawan karhutla,” ujarnya, dikutip Rabu (21/10/2026).
Baca juga:Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, misi OMC kali ini ditingkatkan menjadi tiga sortie atau sesi penerbangan yang dilakukan secara bertahap di wilayah udara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hilman menegaskan bahwa Lanud Sjamsudin Noor mendukung penuh operasi tersebut dengan mengoptimalkan kesiapan fasilitas pangkalan dan personel. “Langkah taktis penanganan karhutla melalui tiga sortie udara hari ini diharapkan mampu menekan potensi titik api secara signifikan dengan turunnya hujan,” tuturnya. Keberhasilan operasi tetap bergantung pada kondisi awan dan faktor cuaca di wilayah sasaran.
Langkah percepatan juga dilakukan Mabes TNI dengan mengerahkan pesawat angkut Hercules untuk mengangkut material modifikasi cuaca berupa dry ice dan garam dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, menuju Kalimantan. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyatakan bahwa pengiriman material ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI untuk percepatan penanggulangan karhutla di wilayah terdampak. “Pengiriman material modifikasi cuaca menggunakan dry ice dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI untuk percepatan penanggulangan karhutla di wilayah terdampak,” kata Agus dalam siaran pers Mabes TNI di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Di sisi lain, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Wakil Ketua DEN, Marie Elka Pangestu, menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim ekstrem, termasuk fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027 dan berpotensi disusul La Nina pada pertengahan tahun depan. Pemerintah diminta memanfaatkan data dan prakiraan cuaca untuk memetakan wilayah berisiko kekeringan, banjir, maupun bencana lainnya. “Kita menyarankan menggunakan data dengan baik untuk mengidentifikasi titik-titik yang akan mengalami kekeringan dan di situ harus ada antisipasi dari segi pompa, penggunaan pompa yang tepat, kapan harus tanam, mungkin harus ditunda misalnya karena kekeringan dan juga mengantisipasi banjir dan kemungkinan dampak bencana,” jelas Marie.
Baca juga:DEN juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas dan ketersediaan pangan, terutama beras, serta menyiapkan intervensi pasar jika terjadi gejolak harga. Menurut Marie, hampir semua insiden El Nino pasti dibarengi dengan kenaikan harga pangan akibat terganggunya produksi pertanian. “Dan melakukan distribusi yang tepat dan melakukan operasi pasar bila mana diperlukan. Karena hampir semua insiden El Nino itu pasti dibarengi dengan kenaikan harga pangan. Dan ini sesuatu yang harus benar-benar kita antisipasi,” ujarnya. Selain itu, DEN membahas penanganan karhutla dan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, termasuk upaya pengairan lahan gambut.
BMKG mencatat bahwa sebaran asap tipis hingga sedang mulai terdeteksi melintasi ruang udara di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Dalam keterangan resminya, BMKG mengimbau kewaspadaan ekstra terhadap karhutla, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Peningkatan titik panas berjalan beriringan dengan suhu udara ekstrem di Pulau Jawa dan Sumatra, yang turut memperkuat kondisi atmosfer kering. Cuaca hari ini di wilayah tersebut diprakirakan masih didominasi panas terik dengan potensi hujan lokal yang terbatas, sehingga operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya strategis untuk mempercepat turunnya hujan buatan.
Hingga saat ini, TNI AU terus mengoptimalkan operasi penyemaian awan di Kalimantan dengan dukungan fasilitas dan personel di Lanud Sjamsudin Noor. Pemerintah melalui DEN juga mendorong sinergi lintas sektor dalam mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, menjaga ketahanan pangan, serta melindungi kesehatan masyarakat dari paparan asap karhutla. Perkembangan kondisi cuaca hari ini dan beberapa hari ke depan akan terus dipantau oleh BMKG dan instansi terkait untuk memastikan langkah mitigasi berjalan tepat sasaran.
Baca juga:











